<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259</id><updated>2012-02-03T23:31:12.861+07:00</updated><category term='Haji'/><category term='Do&apos;a'/><category term='Muamalah'/><category term='Shalat'/><category term='Fiqh Muslimah'/><category term='Download'/><category term='Dzulhijjah'/><category term='Ulama Sunnah'/><category term='Dakwah Salaf'/><category term='Iman'/><category term='Ahlus Sunnah'/><category term='Artikel'/><category term='Taqwa'/><category term='Resep Masakan'/><category term='Nasihat Untuk Muslimah'/><category term='Muhasabah'/><category term='Akhlaq'/><category term='Tazkiyatun Nufus'/><category term='Fiqih'/><category term='Keluarga'/><category term='Links'/><category term='Ruang Akhwat'/><category term='Hikmah'/><category term='Kisah Teladan'/><category term='Biografi'/><category term='Maksiat'/><category term='Fatwa Ulama Ahlussunnah Wal Jama&apos;ah'/><category term='Sabar'/><category term='Islam'/><category term='Ramadhan'/><category term='Fatwa'/><category term='Kesehatan Muslimah'/><category term='Al-Qur&apos;an wal hadits'/><category term='Kematian'/><category term='Dzikir'/><category term='Nasihat'/><category term='Tauhid'/><category term='Syirik'/><category term='Zuhud'/><category term='Taubat'/><category term='Ilmu'/><category term='Ibadah'/><category term='Aqidah'/><category term='Akhlaq Muslimah'/><category term='Idul Adha'/><category term='Qurban'/><category term='Manhaj'/><category term='Kitabul Ilmi'/><category term='Pakaian Muslimah'/><title type='text'>Bashiirah online</title><subtitle type='html'>Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu dan keyakinan). Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf (12): 108)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>183</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-9090377250735108172</id><published>2011-12-29T11:41:00.004+07:00</published><updated>2011-12-31T13:45:02.455+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat Untuk Muslimah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>SEUNTAI KATA TENTANG CINTA</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-lmxoLSMCcWQ/TvvwvCBI_QI/AAAAAAAAAPQ/INIxOouZa9k/s1600/hhhjb.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-lmxoLSMCcWQ/TvvwvCBI_QI/AAAAAAAAAPQ/INIxOouZa9k/s320/hhhjb.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691407244898925826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bagaikan gema, engkau kirimkan kepada orang-orang disekelilingmu, lalu ia kembali kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau tebarkan dilingkunganmu, ia kembali kepangkuanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang engkau lihat pada orang lain engkau dapatkan pada dirimu. Mereka pun memberikan kepadamu cinta dan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau yang melukis jalan yang akan dilalui  mereka dalam  bersikap kepadamu. Jika engkau bersikap baik kepada mereka dan mencintai mereka, niscaya mereka mencintaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau engkau memberikan faedah untuk mereka, mereka akan memberimu faedah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti! Saling mencintai dan mengasihi itu karena dan dijalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang yang paling pertama mendapatkan cinta dan kelembutan perasaanmu adalah orangtua, istri atau suami dan anak-anakmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul shollalllahu ‘alaihi wa sallama bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خيركم خيركم لأهله و أنا خيركم لأهلي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik bagi keluarganya dan aku adalah yang paling baik bagi keluargaku”.[1]&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah tersesat banyak manusia dari jalan Robb mereka melainkan karena mereka lebih mengedepankan cinta kepada segala sesuatu melebihi cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga sebagian orang yang tenggelam dalam lembah permusuhan, dengki dan dendam kesumat adalah karena hilangnya cinta dari hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah rasakan hidup – walau sebentar – dengan merasakan cinta manusia kepadamu, sedikit atau pun banyak. Bukankah hari-hari itu akan menjadi hari-hari terindah dalam kehidupanmu?.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الذين أمنوا وعملوا الصالحات سيجعل لهم الرحمن ودا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh Allah yang Maha pengasih akan menjadikan untuk mereka kasih-sayang”.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya cinta di hati manusia untuk mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah engkau bertanya pada dirimu sendiri, “Bagaimana diriku dengan cinta dilangit ini?”. Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah Ta’ala dalam hadits Qudsi, “Sesungguhnya aku mencintai fulan, maka cintailah ia”. Lalu malaikat menyambutnya dengan penuh cinta dan rindu, kemudian diletakkan untuk penerimaan di muka bumi yaitu dengan cinta manusia kepadanya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dicintai Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dicintai Jibril dan para malaikat yang menghuni langit. Kemudian Allah jadikan manusia mencintainya … alangkah indahnya hidup orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang di antara kita selalu mencari dan mengharapkan cinta makhluk kepadanya. Dadanya akan serasa sesak dan lidahnya bagai kelu jika mereka membencinya. Dan ia akan terbang karena gembira jika mereka mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang ini mencari cinta manusia kepadanya disetiap tempat dan pada setiap insane. Akan tetapi ia lupa – kadang-kadang atau bahkan sering – cinta Robb-nya insan. Ia lupa apakah ia termasuk orang-orang yang dicintai Allah atau sebaliknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, saudaraku!! Apa guna cinta seluruh makhluk kepada kita jika Robb pencinta seluruh makhluk membenci kita?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungkan bagaimana Asiyah mendahulukan tetangga sebelum tempat tinggal dalam do’anya, “Robbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di dalam surga”.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurutmu, kalau dikatakan kepada orang-orang mukminin : pilihlah antara surga tidak ada padanya Robb kalian dan padang tandus kalian bersama Robb kalian. Menurutmu apa yang akan mereka pilih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oohh .. alangkah meruginya orang yang tidak pernah merasakan yang paling indah dan manis dalam kehidupan ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau apa itu? Dicintai Allah dan mencintai-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta Allah kepada hamba adalah puncak cita-cita orang-orang yang sholeh. Karena apabila Allah cinta kepada hamba-Nya, Dia ridho kepadanya, meridhoi amalan, perkataan dan hatinya. Kebahagiaan apalagi yang melebihi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakana kepadaku sejujurnya: apakah ada seseorang yang tulus dan benar dalam mencintai kekasihnya lalu ia menyiksa kekasihnya? neraka apalagi yang ditakuti seorang hamba apabila ia dicintai Allah? (dan bagi Allah adalah perumpamaan yang lebih tinggi – walillahil Matsalil A’laa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Shohih Al Jami’ (3314).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Kholid Al Ahmady, Al Hubb dengan beberapa penyesuaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Maryam : 96.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] At-Tahrim : 11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-9090377250735108172?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/9090377250735108172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=9090377250735108172' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/9090377250735108172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/9090377250735108172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2011/12/seuntai-kata-tentang-cinta-cinta.html' title='SEUNTAI KATA TENTANG CINTA'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lmxoLSMCcWQ/TvvwvCBI_QI/AAAAAAAAAPQ/INIxOouZa9k/s72-c/hhhjb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-9162040182805370803</id><published>2010-01-13T14:45:00.001+07:00</published><updated>2010-01-13T14:54:23.785+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatun Nufus'/><title type='text'>Sebuah Renungan Bagi Para Pencari Kerja</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah semata, yang karena karunia-Nya lah kita mampu menuntut ilmu di bangku kuliah mempelajari ilmu dunia dan telah dinyatakan lulus dengan baik. Semua ini patut kita syukuri, agar Allah menambah kenikmatan yang Dia berikan kepada kita. Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدُُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu mengumandangkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrohim: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala juga berfirman:&lt;br /&gt;وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri” (QS. An-Naml: 40)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi, jika ada diantara kita yang dahulunya menyibukkan dirinya tidak hanya mempelajari ilmu dunia semata, tetapi diimbangi dengan mempelajari ’ilmu dinul Islam, rutin mengikuti pembahasan kitab-kitab para Ulama Ahlussunnah di majelis-majelis ’ilmu, baik kitab ’Aqidah, Hadits, ataupun Fiqih, menghafal al-Qur’an, menghafal hadits, mengamalkannya sampai mendakwahkannya. Ini semuanya adalah nilai tambah yang sangat berharga sebagai seorang mahasiswa yang mempelajari ’ilmu dunia, baik ilmu teknik, kedokteran, atau yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya, niscaya Allah akan pahamkan dia tentang agama(nya).” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semuanya kenikmatan yang patut kita syukuri, baik secara lisan maupun amalan yang shalih.&lt;br /&gt;الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji hanya milik Allah Yang atas karunia-Nya segala kebaikan dapat terwujud.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELANGKAH KEDEPAN MENCARI REZEKI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu’alaihi wa sallam telah mendidik ummatnya melalui sabda-sabda beliau agar ummat Islam memiliki jiwa yang kuat, yaitu memiliki jiwa agar berjuang bekerja dalam menghidupi rumah tangganya, tidak suka meminta-minta. Lihatlah bagaimana didikan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada ummat ini melalui sabdanya berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sungguh, salah seorang diantara kamu mencari kayu bakar diikat lalu diangkat di atas punggugnya lalu dijual, itu lebih baik daripada orang yang meminta-minta kepada orang lain, (yang mungkin bisa) diberi atau ditolak. (HR. Bukhori 2/152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Senantiasa orang itu meminta-minta kepada manusia sampai datang hari kiamat, sehingga tidak ada daging sepotong pun di wajahnya”. (HR. Bukhori 5/477)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan merupakan kewajiban bagi seorang kepala rumah tangga, yaitu seorang suami ataupun figur ayah, untuk mencari nafkah bagi istri dan anak-anak mereka dirumah. Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَآأَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka.” (Qs. An-Nisa: 34) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENCARI REZEKI YANG HALAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu’laihi wa sallam pernah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman kepada apa yang telah diperintahkan-Nya kepada para rasul dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;يَآأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih” (QS. Al-Mu’minun: 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman-Nya:&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَارَزَقْنَاكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” (QS. Al-Baqoroh: 172)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: ’Yaa Rabb….Yaa Rabb’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya dari yang haram, dicukupi dari yang haram, maka bagaimana mungkin do’anya dikabulkan!?” (HR. Muslim II/703 no. 1015).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata: ”Dia tidak menerima kecuali yang baik dalam dzatnya dan baik dalam usahanya. Adapun yang buruk dalam dzatnya, seperti khamr, atau dalam usahanya, seperti rezeki yang diusahakan dengan riba, maka Allah tidak menerimanya.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab rahimahullah berkata: ”Bahwa para Rasul dan ummatnya diperintah untuk makan makanan yang halal dan menjauhkan dari yang jelek dan haram, kemudian disebutkan diakhir hadits, tidak dikabulkannya do’a seseorang disebabkan mengkonsumsi barang haram, baik makanan, minuman, pakaian dan hasil usahanya. Oleh karena itu para sahabat dan orang-orang shalih, mereka sangat berhati-hati, berusaha untuk selalu makan dari yang halal dan menjauhkan yang haram.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan syarat yang mutlak bagi terwujudnya keberkahan harta kita ialah harta tersebut diperoleh dari jalan-jalan yang halal. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hal yang akan menghapuskan keberkahan ialah berbagai bentuk praktek riba. Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (QS. Al-Baqoroh: 276)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu katsir rahimahullah berkata, ”Allah ta’ala mengabarkan bahwa ia akan memusnahkan riba, maksudnya bisa saja memusnahkannya secara keseluruhan dari tangan pemiliknya atau menghalangi pemiliknya dari keberkahan hartanya tersebut. Dengan demikian pemilik riba tidak mendapatkan kemanfaatan harta ribanya, bahkan Allah akan membinasakannya dengan harta tersebut dalam kehidupan dunia, dan kelak di hari akhirat Allah akan menyiksanya akibat harta tersebut”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran Ibnu katsir ini semakna dengan hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya (harta) riba, walaupun banyak jumlahnya, pada akhirnya akan menjadi sedikit.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita amati kehidupan orang-orang yang menjalankan praktek-praktek riba, niscaya kita dapatkan banyak bukti bagi kebenaran ayat dan hadits di atas. Betapa banyak pemakan riba yang hartanya berlimpah ruah, hingga tak terhitung jumlahnya, akan tetapi tidak satupun dari mereka yang merasakan keberkahan, ketentraman dan kebahagiaan dari harta haram tersebut.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAPAILAH KEBERKAHAN HARTA BUKAN BANYAKNYA HARTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali diantara kita ada yang selalu mengimpikan bergelimang harta atas hasil usaha atau pekerjaan kita. Mengimpikan memiliki gaji yang setinggi langit belum lagi ditambah tunjangannya. Namun terkadang kita lupa bahwa hakikat kebahagiaan dalam masalah harta atau rezeki bukanlah pada banyaknya harta, tetapi pada keberkahan harta. Keberkahan harta terwujud dengan berlipat gandanya kegunaan harta tersebut, walaupun jumlahnya tidak bertambah banyak atau berlipat ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, mungkin saja seseorang yang hanya memiliki sedikit dari harta benda, akan tetapi karena harta itu penuh dengan keberkahan, maka ia terhindar dari berbagai mara bahaya, penyakit, dan tentram hidupnya. Dan sebaliknya, bisa saja seseorang yang hartanya melimpah ruah, akan tetapi karena tidak diberkahi Allah, hartanya tersebut menjadi sumber bencana, penyakit, dan bahkan mungkin ia tidak dapat memanfaatkan harta tersebut.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dalam pandangan Islam, orang kaya bukanlah orang yang banyak hartanya, tetapi orang kaya adalah yang kaya hatinya. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati” (HR. Bukhori 8/118)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGGAPAI KEBERKAHAN DENGAN QONA’AH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat qona’ah dan lapang dada dengan pembagian Allah ta’ala adalah kekayaan yang tidak ada bandingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bila engkau memiliki hati yang qana’ah, maka engkau dan pemilik dunia (kaya raya) adalah sama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Qana’ah adalah harta yang tidak akan pernah sirna”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menggambarkan keadaan orang yang dikaruniai sifat qona’ah dengan sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Barangsiapa dari kalian yang merasa aman di rumahnya, sehat badannya, dan ia memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan telah dikumpulkan untuknya dunia beserta isinya.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Munawi rahimahullah berkata: ”Maksud hadits ini, barang siapa yang terkumpul padanya: Kesehatan badan, jiwanya merasa aman kemanapun ia pergi, kebutuhan hari tersebut tercukupi dan keluarganya dalam keadaan selamat, maka sungguh Allah telah mengumpulkan untuknya seluruh jenis kenikmatan, yang siapapun berhasil menguasai dunia tidaklah akan mendapatkan kecuali hal tersebut”.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jiwa yang dipenuhi qona’ah, dan keridhaan dengan segala rezeki yang Allah turunkan untuknya, maka keberkahan akan dianugrahkan kepadanya, Nabi shallallahu’alihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunianya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengen rezeki yang telah Dia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridlo dengan pembagian Allah ’azza wa jalla, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rezeki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yang tidak ridlo (tidak puas), niscaya rezekinya tidak akan diberkahi”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Munawi rahimahullah berkata: ”Bahwa penyakit ini, (yaitu: tidak puas dengan apa yang telah Allah karuniakan kepadanya-pen) telah banyak didapatkan pada pemuja dunia, sehingga engkau dapatkan salah seorang dari mereka meremehkan rezeki yang telah dikaruniakan untuknya, merasa hartanya itu sedikit, buruk, serta mengagumi rezeki orang lain dan menganggapnya lebih bagus dan banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya ia akan senantiasa banting tulang untuk menambah hartanya, hingga akhirnya habislah umurnya, sirnalah kekuatannya, dan iapun menjadi tua renta (pikun) akibat dari ambisi yang tergapai dan rasa letih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan itu ia telah menyiksa tubuhnya, mengelamkan lembaran amalannya dengan berbagai dosa yang ia lakukan demi mendapatkan harta kekayaan. Padahl ia tidaklah memperoleh selaoin apa yang telah Allah tentukan untuknya. Pada akhir hayatnya ia meninggal dunia dalam keadaan pailit, ia tidak bersyukuri apa yang telah ia peroleh, dan ia juga tidak berhasil menggapai apa yang ia inginkan”.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah nasehat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada seorang sahabat yang bernama Hakim bin Hizam radliyallahua’nhu dalam cuplikan sebuah hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wahai Hakim, sesungguhnya harta ini bak buah segar lagi manis, dan barangsiapa yang mengambilnya dengan tanpa ambisi, maka akan diberkahi untuknya harta tersebut. Dan barangsiapa yang mengambilnya dengan penuh rasa ambisi (tamak), niscaya harta tersebut tidak akan diberkahi untuknya, dan ia bagaikan orang yang makan dan tidak pernah kenyang.” (Muttafaqun ’alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah nasehat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam agar kita selalu qona’ah dan bersyukur atas apa yang Allah karuniakan kepada kita. Jangan sampai kita terus disibukkan oleh dunia hanya demi mendapatkan kebahagiaan yang semu, sementara urusan akhirat kita lalai. Padahal kehidupan yang lebih abadi telah menunggu kita di akhirat, Allah ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;وَاْلأَخِرَةُ خَيْرُُوَأَبْقَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita kembali merenungkan, memang benar pada kenyataannya bahwa seorang yang kaya harta, mereka tidak akan berhenti-hentinya mencari harta yang lebih banyak lagi dan tidak merasa puas dengan apa yang dimiliki. Ini adalah tabiat yang dimiliki oleh manusia, tamak, kecuali yang dirahmati oleh Allah yaitu dari mereka yang kaya hati dan selalu bersyukur juga qona’ah atas apa yang Allah karuniakan kepadanya. Perhatikanlah apa yang telah disampaikan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tentang perumpamaannya. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Andai seorang manusia telah memiliki dua lembah harta benda (emas), niscaya ia masih menginginkan untuk mendapatkan lembah ketiga. Dan tidak akan pernah ada yang dapat memenuhi perut manusia selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat orang yang bertaubat/ kembali (dari perangai buruk tersebut-pen) (Muttafaqun’alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita termasuk diantara orang-orang yang bertaubat tersebut dan selalu bersyukur dan qona’ah atas apa yang Allah karuniakan kepada kita.&lt;br /&gt;اَللّٰهُمَّ قَنِّعْنِي بِمَارَزَقْتَنِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِيهِ، وَاخْلُفْ عَلٰى كُلِّ غَا ئِبَةٍِ لِيْ بِخَيْرٍِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yaa Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah Engkau rizkikan kepadaku, dan berilah berkah kepadaku di dalamnya dan gantikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh: Maramis Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;Kumpulan Do’o dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih, oleh Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawwas, penerbit Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta.&lt;br /&gt;12 Kiat-Kiat Ngalap Berkah, oleh. Ust. Dr. Muhammad Arifin bin Badri, MA, penerbit Pustaka Darul ’Ilmi, Bogor&lt;br /&gt;Syarah Hadits Arbain, penyusun: Sayyid bin Ibrahim al-Huwaithi, penerbit Darul Haq, Jakarta.&lt;br /&gt;Majalah al-Furqon Edisi 1, th. Ke-9 Syaban1430/Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[1] Syarah Arbain Nawawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Jaami’ul ‘Uluul wal Hikam hal. 198 tahqiq Thariq bin ‘Awadhullah, dinukil dari Kumpulan Do’a dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih oleh Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawwas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] HR. Ibnu Majah, ’Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, serta dishahihkan oleh al-Albani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Tafsir Ibnu Katsir, 1/328&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Imam Ahmad, Ath-Thabrani, Al-Hakim dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dan al-Albani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Dinukil dari “12 Kiat-Kiat Ngalap Berkah” hal. 99- 100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Idem, hal. 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Faidhul Qadir oleh Al-Munawi, 9/387&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] HR. Imam Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Faidhul Qadir oleh Al-Munawi, 2/236&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Ini adalah doa agar kita diberikan riziki, qana’ah dan keberkahan, doa ini diriwayatkan oleh Al-Hakim I/510, dan dishahihkan oleh Imam Adz-Dzahabi, Dari Ibnu ’Abbar Radliyallahu’anhu. Dinukil dari ‘Kumpulan Do’o dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang Shahih’, oleh Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawwas, penerbit Pustaka Imam Syafi’i, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://maramissetiawan.wordpress.com/2009/10/28/sebuah-renungan-bagi-para-pencari-kerja/#comment-3254"&gt;maramissetiawan.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-9162040182805370803?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/9162040182805370803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=9162040182805370803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/9162040182805370803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/9162040182805370803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2010/01/sebuah-renungan-bagi-para-pencari-kerja.html' title='Sebuah Renungan Bagi Para Pencari Kerja'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-3259017802827868448</id><published>2010-01-13T14:38:00.001+07:00</published><updated>2010-01-13T14:40:39.596+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Hati2 10 Perusak Keislaman Kita…!!!</title><content type='html'>Penulis: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wash&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang ulama Ahlus Sunnah dari negeri Yaman, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Washabi, menulis dalam kitab beliau yang ringkas “Al-Qaulul Mufid fi Adillati At-Tauhid,” sepuluh sebab yang menyebabkan batalnya keislaman seseorang. Tidak seperti batalnya jenis-jenis ibadah lain di dalam Islam yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama, batalnya keislaman berakibat fatal kepada pelakunya di dunia dan di akhirat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh Pembatal Keislaman itu ialah:&lt;br /&gt;1. Syirik&lt;br /&gt;2. Murtad&lt;br /&gt;3. Tidak mengkafirkan orang kafir&lt;br /&gt;4. Meyakini kebenaran hukum thaghut&lt;br /&gt;5. Membenci sunnah Rasul, meskipun&lt;br /&gt;diamalkan&lt;br /&gt;6. Mengolok-ngolok agama&lt;br /&gt;7. Sihir&lt;br /&gt;8. Menolong orang kafir untuk memerangi&lt;br /&gt;kaum muslimin&lt;br /&gt;9. Meyakini bolehnya keluar dari syariat Allah&lt;br /&gt;10.Tidak mau mempelajari dan mengamalkan&lt;br /&gt;agama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita jadikan tulisan beliau sebagai bahan koreksi bagi kita semua, jangan sampai gara-gara kebodohan dan kelalaian kita selama ini keislaman kita sudah tidak lagi diakui Allah Ta’ala. Berikut adalah tulisan beliau yang sudah diringkas. (redaksi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Syirik kepada Allah, yaitu menjadikan perantara (sekutu) antara si hamba dengan Allah. Si hamba berdoa kepada para perantara ini, meminta syafa’at, bertawakkal, beristighatsah kepada mereka, bernazar untuk mereka, dan menyembelih kurban dengan menyebut nama mereka. Si hamba berkeyakinan segala perbuatannya tersebut dapat menolak mudharat atau mendatangkan manfaat. Orang yang semacam ini telah kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ (48)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”(An-Nisa: 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman Allah :&lt;br /&gt;إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَار&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah: 72)&lt;br /&gt;Kedua, murtad dari Islam. Masuk dan memeluk agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Komunisme, Ba’tsi, paham sekuler, Freemasonry, dan faham-faham kufur lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ&lt;br /&gt;“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah, 217)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui..” (Al Maidah: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ(25)ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ(26)فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ(27)ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ(28)أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ(29) وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ(30)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Muhammad, 25-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman,&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(5)&lt;br /&gt;“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (Al Maidah ayat 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas Rahuma katanya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mengubah agamanya, maka bunuhlah dia!’”(Riwayat Bukhari, No.. 2854)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud RA, beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak halal (menumpahkan darah seorang muslim) yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan bersaksi pula bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan tiga perkara: orang sudah menikah tapi berzina, orang yang membunuh jiwa (tanpa hak), dan orang yang meninggalkan agama dan memisahkan diri dari jamaah.” (Bukhari 6484, Muslim 1674)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tidak mengkafirkan orang yang jelas-jelas kafir. Baik itu Yahudi, Nasrani (Kristen/Katolik), Majusi, Musyrik, Atheis, atau lainnya dari jenis bentuk kekufuran. Atau, meragukan kekafiran mereka, membenarkan mazhab dan pemikiran mereka. Yang demikian ini juga dihukumi kafir. Allah sendiri telah mengkafirkan, namun orang ini menentang dengan mengambil sikap yang berlawanan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, tidak mengkafirkan orang yang dikafirkan Allah, ragu, dan bahkan membenarkan mazhab mereka, sama dengan artinya berpaling dari keputusan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(6)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ahli kitab adalah Yahudi dan Nasrani. Sedangkan yang dimaksud dengan musyrikin ialah orang yang menyembah Allah sekaligus menyembah sesembahan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(17)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah: 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al-Maidah : 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman&lt;br /&gt;لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ(73)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا(150)أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا(151)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.” (An-Nisa: 150-151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا(140)&lt;br /&gt;“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (An-Nisa’:140)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, orang yang meyakini bahwa petunjuk selain Nabi lebih sempurna daripada petunjuk beliau. Atau, meyakini bahwa hukum selain hukumnya lebih baik. Seperti orang-orang yang lebih mengutamakan hukum thagut daripada hukum-hukum-Nya. Termasuk ke dalamnya orang yang beryakinan bahwa aturan dan perundangan yang dibuat oleh manusia lebih utama daripada syariat Islam. Atau, meyakini bahwa hukum-hukum Islam tidak layak diterapkan pada masa sekarang. Atau, meyakini bahwa Islam merupakan penyebab kemunduran kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, meyakini bahwa Islam itu sebatas hubungan seorang hamba dengan tuhannya, dan tidak mencakup perkara-perkara kehidupan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dalam kategori ini adalah orang yang berpandangan bahwa pelaksanaan hukum Allah dalam masalah memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina muhshan (yang sudah pernah nikah, red), tidak relevan dengan kondisi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga termasuk ke dalamnya orang yang meyakini bolehnya berhukum dengan selain hukum Allah dalam muamalah, penerapan hukum pidana, dan yang lainnya. Meskipun dia tidak meyakini bahwa hal itu lebih baik daripada hukum yang ditetapkan oleh syariat Islam. Lantaran dengan begitu dia telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah. Dan setiap orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dari perkara-perkara agama yang sudah pasti secara ijma’ seperti zina, riba, khamr, dan berhukum dengan selain syariat Allah maka dia itu kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ(50)&lt;br /&gt;“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah : 50)&lt;br /&gt;إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ(44)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah : 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ(45)&lt;br /&gt;“Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah :45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(47)&lt;br /&gt;“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik..” (Al-Maidah : 47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(19)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran : 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(85)&lt;br /&gt;“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran : 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا(56)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran : 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا(65)&lt;br /&gt;“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”&lt;br /&gt;(An Nisaa :65).&lt;br /&gt;Kelima, orang yang membenci apa yang dibawa oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kendati dia tetap mengamalkannya. Maka, orang ini dihukumi kafir.&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ(8)ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ(9)&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka.. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad:8-9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ(25)ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لِلَّذِينَ كَرِهُوا مَا نَزَّلَ اللَّهُ سَنُطِيعُكُمْ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِسْرَارَهُمْ(26)فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ(27)ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ(28)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi): “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan”, sedang Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 25-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, orang yang memperolok-olok Allah atau Rasul-Nya, Al-Qur`an, agama Islam, malaikat, dan para ulama yakni ilmu yang dihasung ulama tersebut. Atau, memperolok-olok salah satu syiar Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, thawaf di Ka’bah, wukuf di Arafah, masjid, azan, jenggot, sunnah-sunnah Nabi, dan lain-lain dari syiar-syiar Allah dan kesucian Islam, maka orang yang semacam ini dihukumi kafir.&lt;br /&gt;وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ(65)لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ(66)&lt;br /&gt;“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema`afkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah :65,66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يَضْحَكُونَ(29)وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ(30)وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ(31)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ(32)وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ(33)فَالْيَوْمَ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ(34)عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ(35)هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ(36)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu’min. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Muthaffifin:29-36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ(68)&lt;br /&gt;“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (Al-An’am :68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ ءَايَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا(140)&lt;br /&gt;“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam,” (An-Nisa’ :140)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ(30)&lt;br /&gt;“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.”(Al-Hajj :30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ(32)&lt;br /&gt;“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj :32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, sihir. Di antaranya ialah ash-sharf dan al-‘athf. Adapun ash-sharf ialah praktik sihir yang bertujuan mengubah hasrat dan keinginan manusia, seperti memalingkan kecintaan seorang suami kepada istrinya, dan sebaliknya. Adapun al-athf ialah praktik sihir yang dapat membuat orang menjadi cenderung mencintai sesuatu yang tadinya biasa-biasa saja dengan cara-cara syaitan.&lt;br /&gt;وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍوَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ(102)&lt;br /&gt;“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al-Baqarah : 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah (Penangkal pada anak-anak untuk menolak penyakit ‘ain atau bala, red), dan thiwalah (Semacam jimat supaya suami cinta istri atau sebaliknya , red) itu syirik.” (Riwayat Abu Dawud No..3883, dihasankan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad II/17-18, dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ No.1632 dan di dalam Silsilah Ash-Shahihah No.331, dan dishahihkan Imam Hakim IV/217 dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi, juga diriwayatkan Ibnu Majah No.3530, Thabrani dalam Al-Kabir X/262, Ibnu Hibban XIII/456, Al-Baihaqi IX/350)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, membantu orang-orang kafir memerangi kaum muslimin.&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ(51)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al-Maidah : 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ(100) وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ ءَايَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(101)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”&lt;br /&gt;(Ali Imran : 100,101)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ(149)بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ(150)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta`ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong.” (Ali Imran : 149-150)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ(1) إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ(2)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Mumtahanah : 1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ(13)&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah, sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.” (Mumtahanah : 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan, orang yang meyakini bahwa ada manusia yang boleh keluar dari syariat Muhammad sebagaimana bolehnya Khidir keluar dari syariatnya Musa AS maka orang yang semacamn ini pu dihukumi kafir. Karena menurutnya, Nabi itu diutus pada suatu kaum tertentu, dan setiap orang tidak mwajib mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutuskan kepada sluruh umat Manusia, sehingga tidak dihalalkan bagvi siapapun menyelisihi beliau ataupun keluar dari syariat beliau.&lt;br /&gt;قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ(158)&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (Al-A’raf :158)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ(107)&lt;br /&gt;“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya’:107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا(1)&lt;br /&gt;“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (Al-Furqan:1)&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(28)&lt;br /&gt;“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (As-Saba:28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin Abdillah Al-Anshari Radiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diberi oleh Allah lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang rasul pun sebelumku: aku ditolong dengan rasa takut yang dialami musuh sejauh perjalanan selama satu bulan, dijadikan bagiku bumi sebagai tempat sujud dan suci, maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu shalat hendaklah dia shalat, dan dihalalkan bagiku ghanimah yang tidak dihalalkan bagi seorang pun sebelumku, diberikan kepadaku syafaat, dan adalah para nabi itu diutus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (Bukhari 328, Muslim 521)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ(19)&lt;br /&gt;“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (Ali Imran :19)&lt;br /&gt;وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿۸٥﴾ [آل عمران: ۸٥]&lt;br /&gt;[85] Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [QS Aali 'Imroon: 85]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا&lt;br /&gt;Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [QS Al Maaidah: 3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ ﴿۸۳﴾ [آل عمران: ۸۳]&lt;br /&gt;[83] Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. [QS Aali 'Imroon: 83]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di dalam hadits:”Demi Allah seadainya Musa AS itu hidup niscaya dia mengikutiku.” (dihasankan Al-Albani Al Irwaul Ghalil II/34 no.1589, dan beliau menyebutkan delapan jalan dan Ibnu Katsir juga menyebutkannya dalam tafsir ayat 81-82 dari surat Ali Imran, II/78, edisi revisi dan diha’ifkan Syaikh Muqbil dalam Hdazal Maudhi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh, berpaling dari agama Allah Ta’ala. Tidak mau mempelajari dan mengamalkannya: berpaling dari pokok-pokok agama ini, yang menjadikan seseorang itu muslim meskipun dia jahil dalam masalah-masalah agama yang rinci. Karena mengetahui tentang masalah agama yang rinci itu, terkadang tidak bisa dilakukan kecuali oleh ulama dan penuntut ilmu.&lt;br /&gt;(Surat-surat lain yang mendukung masalah ini) :&lt;br /&gt;مَا خَلَقْنَا السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ ﴿۳﴾ [الأحقاف: ۳]&lt;br /&gt;Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka. (Al Ahqaf : 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ&lt;br /&gt;Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (Sajadah: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى ﴿١٢٤﴾ [طه: ١٢٤] Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Thaha:124)&lt;br /&gt;كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ ءَاتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا ﴿۹۹﴾ مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا ﴿١۰۰﴾ خَالِدِينَ فِيهِ وَسَاءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلاً ﴿١۰١﴾ [طه: ۹۹ - ١۰١]&lt;br /&gt;[99] Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an). [100] Barangsiapa berpaling daripada Al Qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, [101] mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat. (Thaha:99-101). /**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: salafy.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-3259017802827868448?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/3259017802827868448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=3259017802827868448' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/3259017802827868448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/3259017802827868448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2010/01/hati2-10-perusak-keislaman-kita.html' title='Hati2 10 Perusak Keislaman Kita…!!!'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-8068520124384545290</id><published>2009-12-21T16:32:00.002+07:00</published><updated>2009-12-21T16:35:59.474+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an wal hadits'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fatwa'/><title type='text'>Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu??</title><content type='html'>Oleh : Ust Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hukum bersentuhan dengan isteri setelah berwudhu. Apakah membatalkan wudhu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maulana Bandar Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama fikih berselisih pendapat tentang masalah ini sehingga terpolar menjadi berbagai pendapat yang cukup banyak. (Lihat Al-Majmu’ 2/34 Imam Nawawi). Di sini kami akan sebutkan tiga pendapat saja:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Pertama: Menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat atau tidak, tetapi kalau ada pembatasnya seperti kain, maka tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini populer dalam madzhab Syafi’i. Pendapat berhujjah dengan berbagai argumen, yang paling masyhur dan kuat adalah firman Allah dalam surat An-Nisa’: 43.&lt;br /&gt;أَوْ لاَمَسْتُم النِّسَآءَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kamu telah berjima’ dengan istri. (QS. An-Nisa’: 43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengartikan kata لاَمَسْتُمُ dalam ayat tersebut dengan menyentuh. (Lihat Al-Umm 1/30 oleh Imam Syafi’i dan Al-Majmu’ 2/35 oleh Imam Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Kedua: Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat maupun tidak berdasarkan beberapa dalil berikut:&lt;br /&gt;Dalil Pertama: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal wudhu seorang adalah suci dan tidak batal sehingga ada dalil yang mengeluarkan dari hukum asalnya, sedangkan hal itu tidak ada, padahal kita ketahui bersama bahwa menyentuh isteri adalah suatu hal yang amat sering terjadi. Seandainya itu membatalkan wudhu, tentu Nabi n akan menjelaskan kepada umatnya dan masyhur di kalangan sahabat, tetapi tidak ada seorangpun dari kalangan sahabat yang berwudhu hanya karena sekedar menyentuh istrinya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21/235).&lt;br /&gt;Dalil Kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah d bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istrinya kemudian keluar menuju shalat dan tidak berwudhu lagi. Saya (Urwah) berkata: Tidaklah dia kecuali anda kan? Lalu Aisyah tertawa. (Shahih. Riwayat Tirmidzi: 86, Abu Dawud: 178, Nasa’i: 170, Ibnu Majah: 502 dan dishahihkan Al-Albani dalam Al-Misykah: 323. Lihat pembelaan hadits ini secara luas dalam At-Tamhid 8/504 Ibnu Abdil Barr dan Syarh Tirmidzi 1/135-138 Syaikh Ahmad Syakir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu sekalipun dengan syahwat. Demikian ditegaskan oleh Syaikh Al-Allamah As-Sindi dalam Hasyiyah Sunan Nasa’i 1/104.&lt;br /&gt;Dalil Ketiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Saya pernah tidur di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua kakiku berada di arah kiblatnya. Apabila beliau sujud maka beliau menyentuhku lalu sayapun mengangkat kedua kakiku, dan bila beliau berdiri, maka aku membentangkan kedua kakiku seperti semula. (Aisyah) berkata: “Rumah-rumah saat itu masih belum punya lampu”. (HR. Bukhari: 382 dan Muslim: 512).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu. Adapun takwil Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/638 bahwa kejadian di atas bisa jadi karena ada pembatasnya (kain) atau kekhususan bagi Nabi, maka takwil ini sangat jauh sekali dari kebenaran, menyelesihi dhahir hadits dan takalluf (menyusahkan diri). (Periksa Nailul Authar Asy-Syaukani 1/187, Subulus Salam As-Shan’ani 1/136, Tuhfatul Ahwadzi Al-Mubarakfuri 1/239, Syarh Tirmidzi Ahmad Syakir 1/142).&lt;br /&gt;Dalil Keempat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah n dari tempat tidur maka saya mencarinya lalu tanganku mengenai pada kedua punggung kakinya yang tegak, beliau shalat di masjid seraya berdoa: “Ya Allah saya berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu…”. (HR. Muslim: 486).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa istri menyentuh suami tidaklah membatalkan wudhu. Adapun takwil Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 4/152 bahwa kejadian tersebut bisa jadi karena ada pembatas kainnya, maka menyelisihi dhahir hadits. (Lihat At-Tamhid 8/501 Ibnu Abdil Barr dan Tafsir Al-Qurthubi 5/146).&lt;br /&gt;Dalil Kelima:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Pernah Rasulullah n melakukan shalat sedangkan saya tidur terbentang di depannya layaknya jenazah sehingga apabila beliau ingin melakukan witir, maka beliau menyentuhku dengan kakinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(HR. Nasai 1/102/167. Imam Za’ilai berkata: “Sanadnya shahih menurut syarat shahih dan dishahihkan Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ 2/35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu dengan kaki atau anggota badan lainnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam At-Talkhis hal. 48: “Sanadnya shahih, hadits ini dijadikan dalil bahwa makna “Laamastum” dalam ayat adalah jima’ (berhubungan) karena Nabi menyentuh Aisyah dalam shalat lalu beliau tetap melanjutkan (tanpa wudhu lagi -pent)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Ketiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memerinci:&lt;br /&gt;Batal wudhunya apabila menyentuh wanita dengan syahwat, dan&lt;br /&gt;Tidak batal apabila tidak dengan syahwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil mereka sama seperti pendapat kedua, tetapi mereka membedakan demikian dengan alasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang asal menyentuh tidak membatalkan wudhu, tetapi menyentuh dengan syahwat menyebabkan keluarnya air madhi dan mani, maka hukumnya membatalkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihat Al-Mughni 1/260 Ibnu Qudamah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat kedua yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu baik dengan syahwat ataupun tidak, kecuali apabila mengeluarkan air mani dan madhi maka batal wudhunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau minimal adalah pendapat ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pendapat pertama, maka sangat lemah sekali karena maksud ayat tersebut adalah jima’ berdasarkan argumen sebagai berikut:&lt;br /&gt;Salah satu makna kata لَمَسَ dalam bahasa Arab adalah jima’ (Al-Qamus Al-Mukhith Al-Fairuz Abadi 2/259).&lt;br /&gt;Para pakar ahli tafsir telah menafsirkan ayat tersebut dengan jima’ diantaranya adalah sahabat mulia, penafsir ulung yang dido’akan Nabi, Abdullah bin Abbas, demikian pula Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab, Mujahid, Thawus, Hasan Al-Bashri, Ubaid bin Umair, Said bin Jubair, Sya’bi, Qotadah, Muqatil bi Hayyan dan lainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/550). Pendapat ini juga dikuatkan Syaikh ahli tafsir, Ibnu Jarir dalam Tafsirnya 5/102-103 dan Imam Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid&lt;br /&gt;Mengkompromikan antara ayat tersebut dengan hadits-hadits shahih di atas yang menegaskan bahwa Rasulullah n menyentuh bahkan mencium istrinya (Aisyah) dan beliau tidak berwudhu lagi.&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid 8/506 dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam At-Talkhis menukil dari Imam Syafi’i bahwa beliau berkata: “Seandainya hadits Aisyah tentang mencium itu shahih, maka madzhab kita adalah hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam”. Perkataan serupa juga dikatakan oleh Imam Al-Baihaqi, pejuang madzbab Syafi’i. Hal ini menunjukkan bahwa kedua imam tersebut tidak menetapkan bahwa maksud لاَمَسْتُم dalam ayat tersebut bermakna “Menyentuh” karena keduanya menegaskan seandanya hadits Aisyah shahih, maka beliau berdua berpendapat mengikuti hadits. Seandainya kedua imam tersebut berpendapat seperti hadits, maka mau gak mau harus menafsirkan ayat tersebut bermakna “jima” sebagaimana penafsiran yang shahih. (Syarh Tirmidzi 1/141 oleh Syaikh Ahmad Syakir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah jawaban yang kami yakini berdasarkan dalil-dalil yang shahih, bukan fanatik madzhab dan mengikuti apa kata banyak orang. Semoga Allah menambahkan ilmu dan memberikan keteguhan kepada kita. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.abiubaidah.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diupload kembali oleh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://wahonot.wordpress.com/2009/12/17/menyentuh-istri-membatalkan-wudhu/?utm_source=feedburner&amp;utm_medium=email&amp;utm_campaign=Feed%3A+KumpulanSitusSunnah+%28Kumpulan+Situs+Sunnah%29&amp;utm_content=Gmail"&gt;www.wahonot.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-8068520124384545290?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/8068520124384545290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=8068520124384545290' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/8068520124384545290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/8068520124384545290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/menyentuh-istri-membatalkan-wudhu.html' title='Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu??'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-4272601725428133714</id><published>2009-12-21T16:02:00.001+07:00</published><updated>2009-12-21T16:13:01.684+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlaq'/><title type='text'>Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Berbuat Baik</title><content type='html'>Sebagian orang beralasan bolehnya mengucapkan selamat natal pada orang nashrani karena dianggap sebagai bentuk ihsan (berbuat baik). Dalil yang mereka bawakan adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8). Inilah di antara alasan untuk melegalkan mengucapkan selamat natal pada orang nashrani. Mereka memang membawakan dalil, namun apakah pemahaman yang mereka utarakan itu membenarkan mengucapkan selamat natal? Temukan jawabannya pada pembahasan berikut. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Turun dan Makna Ayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk siapa sebab diturunkannya ayat di atas? Di sini ada beberapa pendapat di kalangan ahli tafsir. Di antara pendapat tersebut adalah yang menyatakan bahwa ayat ini turun pada Asma’ binti Abi Bakr –radhiyallahu ‘anhuma-, di mana ibundanya –Qotilah binti ‘Abdil ‘Uzza- yang musyrik dan ia diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap menjalin hubungan dengan ibunya.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir -rahimahullah- menjelaskan makna ayat tersebut, “Allah tidak melarang kalian berbuat ihsan (baik) terhadap orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin dalam agama dan juga tidak menolong mengeluarkan wanita dan orang-orang lemah, yaitu Allah tidak larang untuk berbuat baik dan berbuat adil kepada mereka. Karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Loyal (Wala’) pada Orang Kafir itu Terlarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wala’ (loyal) tidaklah sama dengan berlaku ihsan (baik). Wala’ secara istilah bermakna menolong, memuliakan dan loyal dengan orang yang dicintai.[3] Sehingga wala’ (loyal) pada orang kafir akan menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang dengan mereka dan agama yang mereka anut. Di antara larangan loyal (wala’) pada orang kafir dapat kita lihat pada firman Allah (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Maidah: 51). Bahkan Ibnu Hazm telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa loyal (wala’) pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu Dibedakan antara Ihsan (Berbuat Baik) dan Wala’ (Loyal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kiranya dipahami bahwa birr atau ihsan (berbuat baik) itu jauh berbeda dengan wala’ (bersikap loyal). Ihsan adalah sesuatu yang dituntunkan. Ihsan itu diperbolehkan baik pada muslim maupun orang kafir. Fakhruddin Ar Rozi -rahimahullah- mengatakan, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik (birr) kepada mereka (orang kafir). Namun yang Allah larang bagi kalian adalah loyal (wala’) pada mereka. Inilah bentuk rahmat pada mereka, padahal ada permusuhan sengit dengan kaum muslimin. Para pakar tafsir menjelaskan bahwa boleh kaum muslimin berbuat baik (birr) dengan orang musyrik. Namun dalam hal loyal (wala’) pada mereka itu tidak dibolehkan.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menjelaskan dalam kitab tafsirnya, “Berbuat baik dan berlaku adil tidaklah melazimkan rasa cinta dan kasih sayang pada orang kafir. Seperti contohnya adalah seorang anak tetap berbakti dan berbuat baik dengan orang tuanya yang kafir, namun ia tetap membenci agama yang orang tuanya anut. ”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Berbuat Ihsan pada Non Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Memberi hadiah kepada saudara non muslim agar membuat ia tertarik pada Islam. Seperti ‘Umar pernah memberi hadiah pakaian kepada saudaranya[7] di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Menjalin hubungan dan berbuat baik dengan orang tua dan kerabat non muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Asma’ binti Abu Bakr –radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, “Ibuku mendatangiku, padahal ia seorang musyrik di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian aku ingin meminta nasehat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata, “Sesungguhnya ibuku mendatangiku, padahal ia sangat benci Islam. Apakah aku boleh tetap menyambung hubungan kerabat dengan ibuku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya boleh. Silakan engkau tetap menjalin hubungan dengannya.”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah melarang memutuskan silaturahmi dengan orang tua atau kerabat yang non muslim dan Allah tetap menuntunkan agar hak mereka sebagai kerabat dipenuhi walaupun mereka kafir. Jadi, kekafiran tidaklah memutuskan hak mereka sebagai kerabat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15). Jubair bin Muth’im berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi (dengan kerabat).”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Berbuat baik kepada tetangga walaupun non muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahid berkata, “Saya pernah berada di sisi Abdullah ibnu ‘Amru sedangkan pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata, ”Wahai pembantu! Jika anda telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu.” Lalu ada salah seorang yang berkata, “(Anda memberikan sesuatu) kepada Yahudi? Semoga Allah memperbaiki kondisi anda.” Abdullah bin ’Amru lalu berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat terhadap tetangga sampai kami khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya.”[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara yang Termasuk Loyal pada Orang Kafir dan Dinilai Haram[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Mencintai orang kafir dan menjadikan mereka teman dekat[13]. Dikecualikan di sini adalah cinta yang bersifat tabi’at seperti kecintaan seorang anak kepada orang tuanya yang musyrik. Cinta seperti ini dibolehkan selama tidak sampai mencintai agama yang orang tuanya anut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Menetap di negeri kafir[14]. Ada dua rincian yang mesti diperhatikan:&lt;br /&gt;Jika orang kafir yang baru masuk Islam, lalu tinggal di negeri kafir dan tidak mampu menampakkan keislaman (seperti mentauhidkan Allah, melaksanakan shalat, dan berjilbab –bagi wanita-) dan ia mampu berhijrah, maka saat itu ia wajib berhijrah ke negeri kaum muslimin. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Dan tidak boleh muslim tersebut menetap di negeri kafir kecuali dalam keadaan darurat.&lt;br /&gt;Jika muslim yang tinggal di negeri kafir masih mampu menampakkan keislamannya, maka berhijrah ke negeri kaum muslimin pada saat ini menjadi mustahab (dianjurkan). Begitu pula dianjurkan ia menetap di negeri kafir tersebut karena ada maslahat untuk mendakwahi orang lain kepada Islam yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Diharamkan bepergian ke negeri kafir tanpa ada hajat. Namun jika ada maslahat (seperti untuk berobat, berdakwah, dan berdagang), maka ini dibolehkan asalkan memenuhi tiga syarat berikut: (1) memiliki bekal ilmu agama yang kuat sehingga dapat menjaga dirinya, (2) merasa dirinya aman dari hal-hal yang dapat merusak agama dan akhlaqnya, dan (3) mampu menampakkan syi’ar-syi’ar Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[15] Di antara dalilnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[16] Oleh karena itu, perilaku tasyabbuh (menyerupai orang kafir) dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka adalah diharamkan. Contohnya adalah mencukur jenggot dan mengikuti model pakaian yang menjadi ciri khas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Bekerjasama atau membantu merayakan perayaan orang kafir, seperti membantu dalam acara natal. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al Maidah: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula diharamkan menghadiri perayaan agama mereka karena Allah Ta’ala menceritakan mengenai sifat orang beriman (yang artinya), “Dan orang-orang yang beriman adalah yang tidak menyaksikan perbuatan zur …” (QS. Al Furqon: 72). Di antara makna “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik.[17] Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib[18]. Begitu pula diharamkan mengucapkan selamat dalam hari perayaan yang mereka rayakan. Bahkan hal ini diharamkan berdasarkan ijma’ atau kesepatan para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama Sepakat: Haram Mengucapkan Selamat Natal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin mengatakan, ”Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan agama kepada orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan para ulama.”[20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herannya ulama-ulama kontemporer saat ini[21] malah membolehkan mengucapkan selamat Natal. Alasan mereka berdasar pada surat Al Mumtahanah ayat 8. Sungguh, pendapat ini adalah pendapat yang ’nyleneh’ dan telah menyelisihi kesepakatan para ulama. Pendapat ini tidak bisa membedakan antara berbuat ihsan dan wala’ (loyal). Padahal para ulama katakan bahwa kedua hal tersebut adalah berbeda sebagaimana kami telah utarakan. Sungguh celaka jika kesepakatan para ulama itu diselisihi. Padahal Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(QS. An Nisa’: 115). Jalan orang-orang mukmin inilah ijma’ (kesepakatan) mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujjah terakhir yang kami sampaikan, adakah ulama salaf di masa silam yang menganggap bahwa ucapan selamat natal termasuk bentuk berbuat baik dan dibolehkan, padahal acara natal sudah ada sejak masa silam?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari pembahasan ini adalah tidak selamanya berbuat baik pada orang kafir berarti harus loyal dengan mereka, bahkan tidak mesti sampai mengorbankan agama. Kita bisa berbuat baik dengan hal-hal yang dibolehkan bahkan dianjurkan atau diwajibkan sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas. Semoga Allah selalu menunjuki kita pada jalan yang lurus. Hanya Allah yang beri taufik. [Muhammad Abduh Tuasikal]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 8/236-237, Al Maktab Al Islami Beirut, cetakan ketiga, tahun 1404 H.&lt;br /&gt;[2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muhaqqiq: Sami bin Muhammad Salamah, 8/90, terbitan Dar At Thoyibah, cetakan kedua, 1420 H.&lt;br /&gt;[3] Lihat Al Wala’ wal Baro’, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahthani, hal. 307, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;[4] Lihat Al Muhalla, Ibnu Hazm, 11/138, Mawqi’ Ya’sub.&lt;br /&gt;[5] Mafatihul Ghoib, Fakhruddin Ar Rozi, 15/325, Mawqi’ At Tafasir.&lt;br /&gt;[6] Tafsir Juz Qod Sami’a , Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 166, Maktabah Makkah, cetakan pertama, tahun 2003.&lt;br /&gt;[7] Saudara ‘Umar ini bernama ‘Utsman bin Hakim, dia adalah saudara seibu dengan ‘Umar. Ibu ‘Umar bernama Khoitsamah binti Hisyam bin Al Mughiroh. Lihat Fathul Bari, 5/233.&lt;br /&gt;[8] HR. Bukhari no. 2619.&lt;br /&gt;[9] HR. Bukhari no. 2620.&lt;br /&gt;[10] HR. Muslim no. 2556.&lt;br /&gt;[11] Adabul Mufrod no. 95/128. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih. Lihat Al Irwa’ (891): [Abu Dawud: 40-Kitab Al Adab, 123-Fii Haqqil Jiwar. At Tirmidzi: 25-Kitab Al Birr wash Shilah, 28-Bab Maa Jaa-a fii Haqqil Jiwaar]&lt;br /&gt;[12] Kami olah dari Tahdzib Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, Prof. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin, hal. 224-229, Maktabah Al Mulk Fahd Al Wathoniyah, cetakan pertama, 1425 H.&lt;br /&gt;[13] Lihat Surat Al Mujadilah: 22.&lt;br /&gt;[14] Lihat Surat An Nisa’: 97-98&lt;br /&gt;[15] Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Shirotil Mustaqim.&lt;br /&gt;[16] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269&lt;br /&gt;[17] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 4/484, Mawqi’ Al Islam.&lt;br /&gt;[18] Lihat Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim, 1/483.&lt;br /&gt;[19] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.&lt;br /&gt;[20] Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, 3/28-29, no. 404, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;[21] Semacam Yusuf Qardhawi, begitu pula Lembaga Riset dan Fatwa Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://buletin.muslim.or.id/aqidah/mengucapkan-selamat-natal-dianggap-berbuat-baik?utm_source=feedburner&amp;utm_medium=email"&gt;Buletin At-Tauhid&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-4272601725428133714?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/4272601725428133714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=4272601725428133714' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/4272601725428133714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/4272601725428133714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/mengucapkan-selamat-natal-dianggap.html' title='Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Berbuat Baik'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-2041977119960545324</id><published>2009-12-20T20:13:00.001+07:00</published><updated>2009-12-20T20:16:01.127+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibadah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)</title><content type='html'>Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Di dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, Al-Imam An-Nawawi -rahimahullah- membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari Asyura / Asyuro (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi). &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- beliau berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Menghapuskan dosa setahun yang lalu’, ini pahalanya lebih sedikit daripada puasa Arafah (yakni menghapuskan dosa setahun sebelum serta sesudahnya –pent). Bersamaan dengan hal tersebut, selayaknya seorang berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) disertai dengan (sebelumnya, ed.) Tasu’a (9 Muharram). Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada yang kesembilan’, maksudnya berpuasa pula pada hari Tasu’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura [1] dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya. Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (Ali Imran: 68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak terhadap Nabi Musa daripada orang-orang Yahudi tersebut, dikarenakan mereka kafir terhadap Nabi Musa, Nabi Isa dan Muhammad. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa pula pada hari tersebut. Beliau juga memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ‘Asyura, dengan berpuasa pada hari kesembilan atau hari kesebelas beriringan dengan puasa pada hari kesepuluh (’Asyura), atau ketiga-tiganya. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim dan yang selain beliau menyebutkan bahwa puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga keadaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan Tasu’ah (9 Muharram), ini yang paling afdhal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berpuasa pada hari ‘Asyura dan tanggal 11 Muharram, ini kurang pahalanya daripada yang pertama. [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berpuasa pada hari ‘Asyura saja, sebagian ulama memakruhkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menyelisihi Yahudi, namun sebagian ulama yang lain memberi keringanan (tidak menganggapnya makhruh). [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin terbitan Darus Salam – Mesir, diterjemahkan Abu Umar Urwah Al-Bankawy, muraja’ah dan catatan kaki: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN KAKI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Adapun hadits yang menyebutkan perintah untuk berpuasa setelahnya (11 Asyura’) adalah dha’if (lemah). Hadits tersebut berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما و بعده يوما . -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berkata As Syaikh Al Albany – Rahimahullah- di Silsilah Ad Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Penyebutan sehari setelahnya (hari ke sebelas. pent) adalah mungkar, menyelisihi hadits Ibnu Abbas yang shahih dengan lafadz:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika aku hidup sampai tahun depan tentu aku akan puasa hari kesembilan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga kitab Zaadul Ma’ad 2/66 cet. Muassasah Ar-Risalah Th. 1423 H. dengan tahqiq Syu’aib Al Arnauth dan Abdul Qadir Al Arna’uth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لئن بقيت لآمرن بصيام يوم قبله أو يوم بعده . يوم عاشوراء) .-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku masih hidup niscaya aku perintahkan puasa sehari sebelumnya (hari Asyura) atau sehari sesudahnya” ((HR. Al Baihaqy, Berkata Al Albany di As-Silsilah Ad-Dha’ifah Wal Maudhu’ah IX/288 No. Hadits 4297: Ini adalah hadits mungkar dengan lafadz lengkap tersebut.))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Padanya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penetapan waktu pada umat terdahulu pun menggunakan bulan-bulan qamariyyah (Muharram s/d Dzulhijjah, Pent.) bukan dengan bulan-bulan ala Eropa (Jan s/d Des). Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa hari ke sepuluh dari Muharram adalah hari di mana Allah membinasakan Fir’aun dan pengikutnya dan menyelamatkan Musa dan pengikutnya. (Syarhul Mumthi’ VI.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Untuk puasa di hari kesebelas haditsnya adalah dha’if (lihat no. 1) maka – Wallaahu a’lam – cukup puasa hari ke 9 bersama hari ke 10 (ini yang afdhal) atau ke 10 saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly mengatakan bahwa, “Sebagian ahlu ilmu berpendapat bahwa menyelisihi orang Yahudi terjadi dengan puasa sebelumnya atau sesudahnya. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صوموا يوم عاشوراء و خالفوا فيه اليهود صوموا قبله يوما أو بعده يوما .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pendapat yang lemah, karena bersandar dengan hadits yang lemah tersebut yang pada sanadnya terdapat Ibnu Abi Laila dan ia adalah jelek hafalannya.” (Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin II/385. cet. IV. Th. 1423 H Dar Ibnu Jauzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] (lihat no. 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Asy-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والراجح أنه لا يكره إفراد عاشوراء.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang rajih adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa ‘Asyura saja. (Syarhul Mumthi’ VI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallaahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/01/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10-muharram/"&gt;ulamasunnah.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-2041977119960545324?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/2041977119960545324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=2041977119960545324' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/2041977119960545324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/2041977119960545324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/keutamaan-puasa-di-hari-asyura-10.html' title='Keutamaan Puasa di Hari Asyura (10 Muharram)'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-6551205939907343928</id><published>2009-12-20T17:19:00.003+07:00</published><updated>2009-12-20T17:35:37.978+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah Teladan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>MANTAN PENDETA ROMA MENJADI AHLUS SUNNAH</title><content type='html'>Oleh : Syaikh Amjad bin Imron Salhub&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah Ta’aala, pasti Dia ‘Azza Wa Jalla akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan akan dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmatan Islam. Semoga Allah merahmati syaikh kami al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ اْلإِسْلاَمِ وَالسُنَّةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan as-Sunnah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللهِ عَلَى اْلأَعْجَمِيِّ وَ الشَابِ إِذَا نَسَكَ أَنْ يُوَافِيَ صَاحِبَ سُنَّةٍ فَيَحْمِلَهُ عَلَيْهَا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orang ‘ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kalimat tauhid, kalimat yang baik, kunci surga. Kalimat inilah stasiun pertama dari jalan panjang yang penuh dengan onak dan duri, kalimat taqwa bukanlah kalimat yang mudah bagi seorang insan yang ingin menggerakkan lisannya untuk mengucapkannya, demikian juga ketika dia ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam. Karena, ketika seorang insan ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam, maka dia harus mengetahui terlebih dahulu, bahwa kalimat itu keluar dengan seizin Allah Ta’aala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah yang dialami oleh Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, meluruskannya diatas jalan keistiqomahan, serta menutup lembaran hidupnya diatas Islam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah dia yang akan menceritakan kepada kita, bagaimana dia meninggalkan agama kaumnya (Nashrani) menuju Islam, dan bagaimana dia telah mengorbankan kekayaan ayahnya serta kemewahan hidupnya, di suatu jalan (hakekat terbesar), demi mencari kebebasan akal dan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim (dulu bernama Danial) -semoga Allah memeliharanya, dan mengokohkannya diatas jalan keistiqomahan- menceritakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah seorang lelaki dari keluarga Roma, seorang anak dari keluarga kaya, semasa kecil, saya hidup dengan kemewahan dan kemakmuran. Demikianlah, kulalui masa kecilku. Ketika masa remajapun, saya banyak menghabiskan waktu dengan kemewahan bersama teman-temanku, ketika itu saya memiliki sebuah mobil mewah dan uang, sehingga saya bisa memiliki segala sesuatu dan tidak pernah kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi sejak kecil, saya senantiasa merasa bahwa dalam kehidupan ini ada yang kurang, dan saya yakin bahwa ada sesuatu yang salah di dalam hidupku, serta suatu kekosongan yang harus kupenuhi, karena semua sarana kehidupan ini bukanlah tujuanku. Saya mulai tertarik dengan agama, dan mulailah kubaca Injil, pergi ke gereja, serta kusibukkan diriku dengan membaca buku-buku agama Kristen. Dari buku-buku yang kubaca tersebut, mulai kudapatkan sebagian jawaban atas berbagai pertanyaanku, akan tetapi tetap saja belum sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu saya bangun pagi setiap hari dan pergi ke pantai, saya merenungi laut sambil membaca buku-buku dan shalat. Setelah dua bulan dari permulaan hidupku ini, saya merasa mantap bahwa saya tidak mampu terus menerus menjalani hidupku seperti biasanya setelah beragama, ketika itu, saya mendatangi ayahku dan kukabarkan kepadanya bahwa saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengannya, saya juga pergi mendatangi ibu dan saudari-saudariku dan kukabarkan kepada mereka bahwa saya telah mengambil keputusan untuk meninggalkan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kusiapkan tasku lalu naik kereta tanpa kuketahui ke mana saya hendak pergi, hingga saya tiba di kota Polon, kemudian saya masuk ke ad-dir (Istilah untuk gereja yang terpencil dipedalaman. – pent.) disana, lalu naik gunung yang tinggi. Saya menetap di gunung selama kira-kira sebulan, saya tidak berbicara dengan siapapun, saya hanya membaca dan beribadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tiga tahun, saya senantiasa berpindah-pindah dari satu ad-dir ke ad-dir yang lain, saya membaca dan beribadah, kebalikannya para pendeta yang tidak bisa meninggalkan ad-dir mereka, karena saya tidak pernah memberikan janji untuk menjadi seorang pendeta di suatu ad-dir tertentu, dan janji tersebut akan menghalangiku untuk keluar masuk darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, saya memutuskan untuk berkeliling ke pelbagai negeri, maka saya memulai perjalanan panjangku dari Italia melalui Slovania, Hungaria, Nimsa, Romania, Bulgaria, Turki, Iran, Pakistan, dari sana menuju India. Semua perjalanan ini saya tempuh melalui jalur darat. Saya mendengar suara adzan di Turki, dan saya sudah pernah mendengarnya di Kairo (Mesir) pada perjalananku sebelumnya, akan tetapi kali ini sangat berkesan, sehingga saya mencintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan seorang muslim Syi’ah di perbatasan Iran dan Pakistan, dia dan temannya menjamuku dan mulai menjelaskan kepadaku tentang Islam versi Syi’ah, keduanya menyebutkan Imam Duabelas dan mereka tidak menjelaskan kepadaku tentang Islam dengan sebenarnya, bahkan mereka menfokuskan pada ajaran Syi’ah dan Imam Ali z, serta tentang penantian mereka terhadap seorang Imam yang ikhlas, yang akan datang untuk membebaskan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua diskusi tesebut sama sekali tidak menarik perhatianku, dan saya belum mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaanku dalam rangka mencari hakekat kebenaran. Orang Syi’ah itu menawarkan kepadaku untuk mempelajari Islam di kota Qum, Iran, selama tiga bulan tanpa dipungut biaya, akan tetapi saya memilih untuk melanjutkan perjalananku dan kutinggalkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya menuju India, dan ketika saya turun dari kereta, pertama yang kulihat adalah manusia yang membawa kendi-kendi di pagi hari sekali dengan berlari-lari kecil menuju ke dalam kota, maka kuikuti mereka dan saya melihat mereka berthowaf mengelilingi sapi betina yang terbuat dari emas, ketika itu saya sadar bahwa India bukanlah tempat yang kucari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, saya kembali ke Italia dan dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh, hampir saja saya meninggal dikarenakan penyakit yang saya derita ketika di India, akan tetapi Allah telah menyelamatkanku. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya keluar dari rumah sakit menuju rumah, dan mulailah saya berfikir tentang langkah-langkah yang akan saya ambil setelah perjalanan panjang ini, maka saya memutuskan untuk terus dalam jalanku mencari hakekat kebenaran. Saya kembali ke ad-dir dan mulailah kujalani kehidupan seorang pendeta di sebuah ad-dir di Roma. Pada waktu itu saya telah diminta oleh para pembesar pendeta disana untuk memberikan kalimat dan janji. Pada malam itu, saya berfikir panjang, dan keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak memberikan janji kepada mereka lalu kutinggalkan ad-dir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari ad-dir, setelah itu saya menuju al-Quds karena saya beriman akan kesuciannya. Maka mulailah saya berpergian menuju al-Quds melalui jalur darat melewati berbagai negeri, sampai akhirnya saya tiba di Siria, Lebanon, Oman, dan al-Quds, saya tinggal disana seminggu, kemudian saya kembali ke Italia, maka bertambahlah pertanyaan-pertanyaanku, saya kembali ke rumah lalu kubuka Injil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ini, saya merasa berkewajiban untuk membaca Injil dari permulaannya, maka saya memulai dari Taurat, menelusuri kisah-kisah para nabi bani Israel. Pada tahap ini mulai nampak jelas di dalam diriku makna-makna kerasulan hakiki yang Allah mengutus kepadanya, mulailah saya merasakannya, sehingga muncullah berbagai pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya, saya berusaha menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dari perpustakaanku yang penuh dengan buku-buku tentang Injil dan Taurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, saya teringat suara adzan yang pernah kudengar ketika berkeliling ke berbagai negeri serta pengetahuanku bahwa kaum muslimin beriman terhadap Tuhan yang satu, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Dan inilah yang dulu saya yakini, maka saya berkomitmen : Saya harus berkenalan dengan Islam, kemudian mulailah kukumpulkan buku-buku tentang Islam, diantara yang saya miliki adalah terjemahan al-Qur’an dalam bahasa Italia, yang pernah saya beli ketika berkeliling ke berbagai negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kutelaah buku-buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa Islam tidak seperti yang dipahami oleh mayoritas orang-orang barat, yaitu sebagai agama pembunuh, perampok dan teroris akan tetapi yang saya dapati adalah Islam itu agama kasih sayang dan petunjuk, serta sangat dekat dengan makna hakiki dari Taurat dan Injil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya putuskan untuk kembali ke al-Quds, karena saya yakin bahwa al-Quds adalah tempat turunnya kerasulan terdahulu, akan tetapi kali ini saya menaiki pesawat terbang dari Italia menuju al-Quds. Saya turun di tempat turunnya para pendeta dan peziarah dibawah panduan hause bus Armenia di daerah negeri kuno. Di dalam tasku, saya tidak membawa sesuatu kecuali sedikit pakaian, terjemahan al-Qur’an, Injil dan Taurat. Kemudian saya mulai membaca lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi, saya membandingkan kandungan al-Qur’an dengan isi Taurat dan Injil, sehingga saya berkesimpulan bahwa kandungan al-Qur’an sangat dekat dengan ajaran Musa dan Isa ‘alaihimassalaam yang asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya mulai berdialog dengan kaum muslimin untuk menanyakan kepada mereka tentang Islam, sampai akhirnya saya bertemu dengan sahabatku yang mulia Wasiim Hujair, kami berbincang-bincang tentang Islam. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman, mereka menjelaskan kepada saya tentang Islam. Setelah itu, saudara Wasiim mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengadakan suatu pertemuan antara saya dengan salah seorang dari teman-temannya para da’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan itu berlangsung dengan saudara yang mulia Amjad Salhub, kemudian terjadilah perbincangan yang bagus tentang agama Islam. Diantara perkara yang paling mempengaruhiku adalah kisah sabahat yang mulia, Salman al-Farisi z, karena di dalamnya ada kemiripan dengan ceritaku tentang pencarian hakekat kebenaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkumpul lagi dalam pertemuan yang lain dengan saudara Amjad beserta teman-temannya, diantaranya fadhilatusy Syaikh Hisyam al-‘Arif –hafidhohulloh-, maka berlangsunglah dialog tentang Islam dan keagungannya, kebetulan ketika itu saya memiliki beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh Syaikh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, saya terus menerus berkomunikasi dengan saudara Amjad yang dengan sabar menjelaskan jawaban atas mayoritas pertanyaan-pertanyaanku. Pada saat seperti itu di depan saya ada dua pilihan, antara saya mengikuti kebenaran atau menolaknya, dan saya sama sekali tidak sanggup menolak kebenaran tersebut setelah saya meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu juga, saya merasakan bahwa waktu untuk mengucapkan kalimat tauhid dan syahadat telah tiba. Ternyata tiba-tiba saudara Amjad mendatangiku bertepatan dengan waktu dikumandangkannya adzan untuk shalat dhuhur. Waktu itu benar-benar telah tiba, sehingga tiada pilihan bagiku kecuali saya mengucapkan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka serta merta saudara Amjad memelukku dengan pelukan yang ramah, seraya memberikan ucapan selamat atas keIslamanku, kemudian kami sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah nikmat ini. Kemudian saya diminta mandi ([1] Sebagaimana hadits Qoish bin ‘Ashim, Ketika beliau masuk Islam, Rasulullah memerintahkannya untuk mandi dengan air yang dicampur bidara. (HR. An-Nasai, at-Turmudzi dan Abu Daud. Dishohihkan oleh al-Albani dalam al-Irwaa’ (128).)) dan berangkat ke al-Masjid al-Aqsho untuk menunaikan shalat dhuhur, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat tersebut setelah shalat, saya menemui jamaah shalat dengan syahadat, yaitu persaksian kebenaran dan tauhid yang telah Allah anugerahkan kepadaku. Setelah saya mengetahui bahwa siapa saja yang masuk Islam wajib baginya berkhitan, maka segala puji dan anugerah milik Allah, saya tunaikan kewajiban berkhitan tersebut sebagai bentuk meneladani bapaknya para nabi, yaitu Ibrahim q yang melakukan khitan pada usia 80 tahun (Sebagaimana Rasulullah n bersabda : Ibrahim berkhitan ketika umur 80 tahun dengan “al-Qoduum” (nama alat atau tempat).( HR. Al-Bukhori (3356) dan Muslim (2370).)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah diriku, saya telah memulai hidup baru dibawah naungan agama kebenaran, agama yang penuh dengan kasih sayang dan cahaya. Saya senantiasa menuntut ilmu agama dari kitab Allah Ta’aala dan sunnah Rasulullah n sesuai dengan manhaj salaf (pendahulu) umat ini, dari kalangan para sahabat g beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah atas anugerah Islam dan as-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialihbahasakan oleh Abu Zahro Imam Wahyudi Lc. dari majalah ad-Da’wah as-Salafiyah-Palestina edisi perdana, Muharram 1427 H halaman: 21-24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ummusalma.wordpress.com/2008/05/13/mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus-sunnah/#more-134"&gt;ummusalma.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-6551205939907343928?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/6551205939907343928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=6551205939907343928' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/6551205939907343928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/6551205939907343928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/mantan-pendeta-roma-menjadi-ahlus.html' title='MANTAN PENDETA ROMA MENJADI AHLUS SUNNAH'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-8237840629182824216</id><published>2009-12-09T16:02:00.004+07:00</published><updated>2009-12-09T16:08:24.622+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Sunnahkah Nasyid Islami?</title><content type='html'>Kita telah mengetahui haramnya hukum nyanyian dan musik sebagaimana telah disebutkan dalam berbagai hadits yang shahih. Tidak pula diketahui adanya khilaf di antara para ulama Salaf mengenai masalah ini. Namun, belakangan kemudian timbul wacana baru yang dilontarkan oleh orang-orang yang menamai dirinya sebagai seniman muslim tentang nasyid islami. Mereka menyatakan dan menganggap nasyid Islami sebagai metode baru dalam dakwah dan cara lain dalam bertaqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Betulkah demikian...? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Nasyid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau saudaraku, bahwa orang-orang Arab pada zaman dahulu biasanya saling melemparkan sya’ir dengan bersahut-sahutan. Dan sya’ir mereka ini adalah sebuah spontanitas, tidak berirama dan tidak pula dilagukan. Inilah yang disebut nasyid. Nasyid itu meninggikan suara dan nasyid merupakan kebudayaan orang Arab, bukan bagian dari syari’at Islam. Nasyid hanyalah syair-syair Arab yang mencakup hukum-hukum dan tamtsil (permisalan), penunjukan sifat keperwiraan dan kedermawanan.&lt;br /&gt;Nasyid tidaklah haram secara mutlak dan tidak juga dibolehkan secara mutlak, tergantung kepada sya’ir-sya’ir yang terkandung di dalamnya. Berbeda dengan musik yang hukumnya haram secara mutlak. Ini karena nasyid bisa saja memiliki hikmah yang dapat dijadikan pembelajaran atau peringatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di antara sya’ir itu ada hikmah.”&lt;br /&gt;(Riwayat Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 6145, Ibnu Majah no. 3755, Imam Ahmad (III/456, V/125), ad-Daarimi (II/296-297) dan ath-Thayalisi no. 558, dari jalan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang sya’ir, maka beliau bersabda, artinya:&lt;br /&gt;“Itu adalah perkataan, maka sya’ir yang baik adalah baik, dan sya’ir yang buruk adalah buruk.”&lt;br /&gt;(Riwayat Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, dan takhrijnya telah diluaskan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Hadits ash-Shahihah no. 447)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasyid Pada Zaman Dahulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Arab pada zaman dulu biasa membakar semangat dalam berperang dengan melantunkan sya’ir-sya’ir. Dan banyak pula orang-orang asing di antara mereka yang hendak berhaji melantunkan sya’ir tentang ka’bah, zam-zam, dan selainnya ketika berada di tengah perjalanan. Abdullah bin Rawahah pun pernah melantunkan sya’ir untuk menyemangati para shahabat yang sedang menggali parit ketika Perang Khandaq. Beliau bersenandung, "Ya Allah, tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin." Kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain, "Kita telah membai'at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad."&lt;br /&gt;(Rasa'ilut Taujihat Al Islamiyah, I/514–516)&lt;br /&gt;Akan tetapi, para Shahabat tidak melantunkan sya’ir setiap waktu, mereka melakukannya hanya pada waktu-waktu tertentu dan sekedarnya saja, tidak berlebihan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, artinya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya penuhnya rongga perut salah seorang di antara kalian dengan nanah itu lebih baik baginya daripada penuh dengan sya’ir.”&lt;br /&gt;(Riwayat Imam Bukhari no. 6154 dalam Bab Dibencinya Sya’ir yang Mendominasi Seseorang, Sehingga Menghalanginya Dari Dzikir Kepada Allah, ‘Ilmu dan al-Qur’an, diriwayatkan dari jalan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Maksud dari riwayat di atas adalah kecenderungan hati seseorang kepada sya’ir-sya’ir sehingga menyibukkannya dan memalingkannya dari kesibukan dzikrullah dan mentadabburi al-Qur’an, itulah orang-orang yang dikatakan sebagai orang dengan rongga perut yang penuh dengan sya’ir. (Fat-hul Baari X/564)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasyid Pada Zaman Sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasyid yang ada pada zaman sekarang tidak jauh berbeda dengan nyanyian dan musik yang telah jelas keharamannya. Berbeda dengan zaman dahulu, sya’ir-sya’ir sekarang mulai dilagukan dan mengikuti kaidah/aturan seni musik, sehingga menjatuhkan pelakunya kepada bentuk tasyabbuh kepada orang-orang kafir dan fasik. Ditambah lagi, kelompok nasyid yang belakangan didominasi oleh kaum laki-laki ini menambahkan alat musik sebagai ‘pemanis’ di dalamnya.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “(Setelah diketahui dari riwayat yang shahih bahwa) Bernyanyi, memainkan rebana, dan tepuk tangan adalah perbuatan kaum wanita, maka para ulama Salaf menamakan para laki-laki yang melakukan hal itu dengan banci, dan mereka menamakan penyanyi laki-laki itu dengan banci, dan ini adalah perkataan masyhur dari mereka.” (Majmuu’ Fataawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah XI/565-566)&lt;br /&gt;Nasyid yang seperti ini adalah kelanjutan dari bid’ahnya kaum sufi yang menjadikan nyanyian-nyanyian (mereka menamakannya dengan as-sama’) sebagai bentuk ibadah dan keta’atan mereka kepada Allah. Kaum sufi menganggap bahwa sya’ir-sya’ir yang mereka sebut dengan at-taghbiir (sejenis sya’ir yang berisikan anjuran untuk zuhud kepada dunia) adalah bentuk dzikir mereka kepada Allah, sehingga mereka layak untuk dikatakan sebagai al-mughbirah (orang-orang yang berdzikir kepada Allah dengan do’a dan wirid). Ketika mereka melantunkan ‘dzikir’ mereka, mereka menambahkannya dengan kehadiran alat-alat musik yang semakin menambah keharamannya, tetapi mereka menganggap itu sebagai upaya untuk melembutkan hati. (??)&lt;br /&gt;Kelompok-kelompok nasyid pada zaman sekarang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, sehingga mereka ingin menggeser kesukaan para pemuda terhadap lagu-lagu dan musik yang tidak Islami kepada lagu-lagu dan musik yang mereka labelkan ‘Islami’, adalah orang-orang yang telah terpengaruh dengan syubhat kaum sufi.&lt;br /&gt;Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan bahwa beribadah dengan sya’ir dan bernasyid pada bentuk dzikir, do’a dan wirid adalah bid’ah. Dan ini lebih buruk daripada berbagai jenis pelanggaran dalam berdo’a dan berdzikir. (Tash-hiidud Du’aa hal. 78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Nasyid Menjadi Bid’ah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bid’ah adalah perkara baru yang diada-adakan dalam agama. Maka, penamaan nasyid Islami adalah perkara baru yang diada-adakan (muhdats) dan tidak ada contoh dari Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan amalan yang tidak ada contohnya dari Nabi, maka amalan itu tertolak.&lt;br /&gt;Tidak ada satupun riwayat yang shahih yang menyebutkan tentang pensyari’atan nasyid atau penggolongan nasyid sebagai bagian dari agama. Adapun menjadikan nyanyian dan musik sebagai bagian dari agama adalah pemahaman yang dimiliki oleh kaum sufi, sebagaimana telah diterangkan di atas. Selain itu, beribadah dengan menyanyikan sya’ir adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Dan kaum Nashara pun menjadikan nyanyian sebagai bentuk dzikir dan do’a mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitabnya Fataawa Ibn Taimiyah: "Bid'ah adalah yang bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasul, atau ijma' para ulama as-Salaf berupa ibadah maupun i'tiqad, seperti pendapat kalangan Khawarij, Rafidhah, Syi'ah, Qadariyah, Jahmiyah dan mereka yang beribadah dengan tarian dan nyanyian di dalam masjid."&lt;br /&gt;Para Nabi ‘alaihimush sholatu wa sallam dan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum serta para Salafush Shalih tidak pernah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menggunakan nasyid-nasyid Islami seperti yang ada pada zaman sekarang. Adapun sya’ir-sya’ir yang mereka lantunkan pada waktu-waktu tertentu hanya dimaksudkan sebagai pengobar semangat ketika bekerja atau berperang, dan mereka tidak berlebihan dalam hal ini dan tidak pula menjadikannya sebagai kebiasaan apalagi menjadikannya kecintaan.&lt;br /&gt;Nasyid juga bukan merupakan metode dakwah yang pernah dilakukan oleh para Nabi ‘alaihimush sholatu wa sallam, dan tidak pula para Shahabat radhiyallahu ‘anhum pernah melakukannya. Seandainya nasyid itu dikatakan sebagai metode dakwah, maka dengan begitu pelakunya telah mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sempurna dalam menyampaikan risalah, karena beliau belum mengabarkan tentang berdakwah dengan nasyid.&lt;br /&gt;Sementara Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,&lt;br /&gt;Artinya: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. al-Maaidah: 3)&lt;br /&gt;Ayat di atas sebagai penjelas bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan keseluruhan risalah yang disampaikan oleh Rabbnya melalui perantara Malaikat Jibril ‘alaihis salam. Maka, apa-apa yang tidak termasuk syari’at pada hari itu, dia tidak akan menjadi syari’at pada hari ini dan hari-hari berikutnya. Dan pada hari itu, Allah dan Rasul-Nya tidak memasukkan nasyid sebagai syari’at Islam, maka apakah nasyid dapat menjadi syari’at pada hari ini..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah saudaraku, dapat kita simpulkan bahwa nasyid tidaklah mendatangkan manfaat bagi kita kecuali hanya sedikit sekali (dan ini sangat amat terbatas pada nasyid yang dibolehkan). Islam tidak pernah mensyari’atkan nasyid, akan tetapi Islam mensyari’atkan untuk berdzikir kepada Allah, mentadabburi al-Qur’an dan mempelajari ilmu yang bermanfaat. Dan sesungguhnya berdzikir yang paling afdhal adalah dengan membaca al-Qur’an, sebagaimana telah disebutkan dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;Artinya: “Dan Kami turunkan al-Qur’an yang merupakan obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. al-Israa’: 82)&lt;br /&gt;Tidaklah seorang Muslim yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat itu melakukan perbuatan yang sia-sia, kecuali dia meninggalkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya:&lt;br /&gt;“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya.”&lt;br /&gt;(Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi no. 2317, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)&lt;br /&gt;Bagaimana jadinya jika syaithan membuat hati kita lebih cenderung kepada nasyid daripada kepada Kitabullah al-Karim..??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu Ta’ala a’lam bish showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;Adakah Musik Islami?, Muslim Atsari, cet. Pustaka at-Tibyan.&lt;br /&gt;Al-Qaulul Mufiid fii Hukmil an-Naasyiid, Isham ‘Abdul Mun’im al-Murri, cet. Maktabah al-Furqan.&lt;br /&gt;Buletin an-Nur-Musik Dalam Kacamata Islam, edisi Senin 12 Mei 2008.&lt;br /&gt;Hukum Lagu, Musik, dan Nasyid, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka at-Taqwa.&lt;br /&gt;Nuurus Sunnah wa Zhulumaatul Bid'ah fii Dhauil Kitaab was Sunnah, Said bin 'Ali bin Wahf al-Qaththani, cet. Muassasah al-Juraisi, Riyadh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com"&gt;http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-8237840629182824216?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/8237840629182824216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=8237840629182824216' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/8237840629182824216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/8237840629182824216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/sunnahkah-nasyid-islami.html' title='Sunnahkah Nasyid Islami?'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-3863513130359138289</id><published>2009-12-05T20:19:00.001+07:00</published><updated>2009-12-05T20:23:38.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-Qur&apos;an wal hadits'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>PERSELISIHAN ADALAH RAHMAT, BENARKAH??!!</title><content type='html'>Oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perselisihan umatku adalah rahmat“. Hampir tidak ada di antara kita yang tak pernah mendengar atau membaca hadits ini.  Ia sangat begitu akrab dan populer sekali, baik di kalangan penceramah, aktivis dakwah, penulis, bahkan oleh masyarakat biasa masa kini. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban: Apakah kemasyhuran ungkapan tersebut berarti kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan?! Pernahkah terlintas dalam benak kita untuk mengkritisi ungkapan tersebut dari sudut sanad dan matan-nya?! Tulisan berikut mencoba untuk mengorek jawabannya. Semoga Allah menambahkan ilmu yang bermanfaat kepada kita. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. TEKS HADITS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perselisihan umatku adalah rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * TIDAK ADA ASALNYA. Para pakar hadits telah berusaha untuk mendapatkan sanadnya, tetapi mereka tidak mendapatkannya, sehingga al-Hafizh as-Suyuthi berkata dalam al-Jami’ ash-Shaghir: “Barangkali saja hadits ini dikeluarkan dalam sebagian kitab ulama yang belum sampai kepada kita!”[1] Syaikh Al-Albani berkata, “Menurutku ini sangat jauh sekali, karena konsekuensinya bahwa ada sebagian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang luput dari umat Islam. Hal ini tidak layak diyakini seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Al-Munawi menukil dari as-Subki bahwa dia berkata: “Hadits ini tidak dikenal ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu’ (palsu).” Dan disetujui oleh Syaikh Zakariya al-Anshori dalam Ta’liq Tafsir Al-Baidhowi 2/92.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Sebagian ulama berusaha untuk menguatkan hadits ini. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini sangat populer sekali. Sering ditanyakan dan banyak di kalangan imam hadits menilai bahwa ungkapan ini tidak ada asalnya, tetapi al-Khothobi menyebutkan dalam Ghoribul Hadits…Ucapannya kurang memuaskan dalam penisbatan hadits ini tetapi saya merasa bahwa hadits ini ada asalnya”.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Sungguh, ini adalah suatu hal yang sangat aneh sekali dari Al-Hafizh Ibnu Hajar –semoga Allah mengampuninya-. Bagaimana beliau merasa bahwa hadits ini ada asalnya, padahal tidak ada sanadnya?! Bukankah beliau sendiri mengakui bahwa mayoritas ulama ahli hadits telah menilai hadits ini tidak ada asalnya?! Lantas, kenapa harus menggunakan perasaan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Kami juga mendapati sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Su’ud al-Funaisan berjudul “Ikhtilaf Ummati Rohmah, Riwayatan wa Diroyatan”, beliau menguatkan bahwa hadits ini adalah shohih dari Nabi. Ini juga suatu hal yang aneh, karena semua ulama yang beliau katakan mengeluarkan hadits ini seperti Al-Khothobi, Nashr al-Maqdisi dan lain-lain. Mereka hanyalah menyebutkan tanpa membawakan sanad. Lantas, mungkinkah suatu hadits dikatakan shohih tanpa adanya sanad?![4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. MENGKRITISI MATAN HADITS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna hadits ini juga dikritik oleh para ulama. Berkata al-Allamah Ibnu Hazm setelah menjelaskan bahwasanya ini bukanlah hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Dan ini adalah perkataan yang paling rusak. Sebab, jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzab. Ini tidak mungkin dikatakan seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzab”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani juga berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Termasuk diantara dampak negatif hadits ini adalah banyak diantara kaum muslimin yang terus bergelimang dalam perselisihan yang sangat runcing diantara madzhab empat, dan mereka tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan hadits yang shohih sebagaimana perintah para imam mereka, bahkan menganggap madzhab seperti syari’at yang berbeda-beda!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengatakan hal ini padahal mereka sendiri mengetahui bahwa diantara perselisihan mereka ada yang tidak mungkin disatukan kecuali dengan mengembalikan kepada dalil, inilah yang tidak mereka lakukan! Dengan demikian mereka telah menisbatkan kepada syari’at suatu kontradiksi! Kiranya, ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ini bukanlah dari Allah karena mereka merenungkan firman Allah tentang Al-Qur’an (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (QS. An-Nisa: 82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa perselisihan bukanlah dari Allah, lantas bagaimana kiranya dijadikan sebagai suatu syari’at yang diikuti dan suatu rahmat?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        * Karena sebab hadits ini dan hadits-hadits serupa, banyak diantara kaum muslimin semenjak imam empat madzhab selalu berselisih dalam banyak masalah, baik dalam aqidah maupun ibadah. Seandainya mereka menilai bahwa perselisihan adalah tercela sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud dan selainnya serta didukung dengan banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang banyak sekali, maka niscaya mereka akan berusaha untuk bersatu. Namun, apakah mereka akan melakukannya bila mereka meyakini bahwa perselisihan adalah rohmat?!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, perselisihan adalah tercela dalam syari’at[6]. Maka sewajibnya bagi setiap muslim untuk berusaha semaksimal mungkin untuk melepaskan diri dari belenggu perselisihan, karena hal itu merupakan faktor lemahnya umat, sebagaimana firman Allah (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (QS. Anfal: 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ridho dengan perselisihan, apalagi menamainya sebagai suatu rohmat, maka jelas ini menyelisihi ayat-ayat Al-Qur’an yang secara tegas mencela perselisihan,  tidak ada sandarannya kecuali hadits yang tidak ada asalnya dari Rasulullah ini”. [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. SALAH MENYIKAPI PERSELISIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku seiman yang kami cintai, kita semua mengetahui bahwa perselisihan adalah suatu perkara yang tidak bisa dielakkan, baik dalam aqidah, ibadah maupun muamalat. Allah berfirman (yang artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka Senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (QS. Hud: 118-119)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta di atas mengharuskan kita untuk memahami masalah perselisihan, karena ternyata banyak juga orang yang terpeleset dalam kesalahan dalam memahaminya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Ada yang menjadikan perselisihan sebagai senjata pamungkas untuk menyuburkan kesalahan, kebid’ahan bahkan kekufuran, sehingga mereka memilih pendapat-pendapat nyeleneh seperti bolehnya acara tahlilan, manakiban, bahkan berani menentang hukum-hukum Islam dengan alasan “Ini adalah masalah khilafiyyah“, “Jangan mempersulit manusia“.  Bahkan, betapa banyak sekarang yang mengkritisi masalah-masalah aqidah dan hukum yang telah mapan dengan alasan  ”kemodernan zaman” dan “kebebasan berpendapat” sebagaimana didengungkan oleh para cendekiawan  zaman sekarang.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Sebaliknya, ada juga yang sesak dada menghadapi perselisihan, sekalipun dalam masalah fiqih dan ruang lingkup ijtihad ulama, sehingga ada sebagian mereka yang tidak mau sholat di belakang imam yang berbeda pendapat dengannya seperti masalah sedekap ketika i’tidal, mendahulukan lutut ketika sujud, menggerakan jari ketika tasyahhud dan lain sebagainya. Ini juga termasuk kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. MEMAHAMI PERSELISIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sangat penting kiranya kita jelaskan sikap yang benar dalam menyikapi perselisihan agar kita tidak berlebihan dan tidak juga meremehkan. Dari keterangan para ulama tentang masalah ini[9], dapat kami tarik suatu kesimpulan bahwa perselisihan itu terbagi menjadi dua macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Perselisihan Tercela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu setiap perselisihan yang menyelisihi dalil yang jelas dari Al-Qur’an atau hadits atau ijma’ ulama. Hal ini memiliki beberapa gambaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1. Perselisihan dalam masalah aqidah atau hukum yang telah mapan, seperti perselisihan ahli bid’ah dari kalangan Syi’ah, Khowarij, Mu’tazilah dan sebagainya.[10]&lt;br /&gt;       2. Perselisihan orang-orang yang tidak memiliki alat ijtihad seperti perselisihan orang-orang yang sok pintar, padahal mereka adalah bodoh.[11]&lt;br /&gt;       3. Perselisihan yang ganjil sekalipun dari seorang tokoh ulama, karena ini terhitung sebagai ketergelinciran seorang ulama yang tidak boleh diikuti[12].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Jadi, tidak semua perselisihan itu dianggap. Misalnya, perselisihan Iblis Liberal bahwa semua agama sama, ingkar hukum rajam dan potong tangan, hukum waris, jilbab dan sebagainya, ini adalah perselisihan yang tidak perlu dianggap dan didengarkan. Demikian juga perselisihan Mu’tazilah modern bahwa tidak ada siksa kubur, Nabi Isa tidak turun di akhir zaman, dan sebagainya, ini juga perselisihan yang tidak perlu dilirik. Demikian pula perselisihan sebagian orang yang berfiqih ganjil bahwa wanita nifas tetap wajib sholat, daging ayam haram, dan sebagainya, ini juga perselisihan yang tak perlu digubris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَ لَيْسَ كُلُّ خِلاَفٍ جَاءَ مُعْتَبَرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    إِلاَّ خِلاَفًا لَهُ حَظٌّ مِنَ اْلنَّظَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tidak seluruh perselisihan itu dianggap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kecuali perselisihan yang memang memiliki dalil yang kuat[13].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Perselisihan Yang Tidak Tercela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu perselisihan di kalangan ulama yang telah mencapai derajat ijtihad dalam masalah-masalah ijtihadiyyah, biasanya dalam masalah-masalah hukum fiqih. Imam Syafi’i berkata: “Perselisihan itu ada dua macam, pertama hukumnya haram dan saya tidak mengatakannya pada yang jenis kedua”.[14] Hal ini memiliki beberapa gambaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       1. Masalah yang belum ada dalilnya secara tertentu.&lt;br /&gt;       2. Masalah yang ada dalilnya tetapi tidak jelas.&lt;br /&gt;       3. Masalah yang ada dalilnya yang jelas tetapi tidak shohih atau diperselisihkan keabsahannya atau ada penentangnya yang lebih kuat[15].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jadi, dalam masalah-masalah yang diperselisihkan ulama hendaknya kita sikapi dengan lapang dada dengan tetap saling menghormati saudara kita yang tidak sependapat, tanpa saling menghujat dan mencela sehingga menyulut api perselisihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Imam Qotadah: “Barangsiapa yang tidak mengetahui perselisihan ulama, maka hidungnya belum mencium bau fiqih”.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Imam Syafi’I pernah berkata kepada Yunus ash-Shadafi: “Wahai Abu Musa, Apakah kita tidak bisa untuk tetap bersahabat sekalipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?!”.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun hal ini tidak menutup pintu dialog ilmiyah yang penuh adab untuk mencari kebenaran dan pendapat terkuat, karena yang kita cari semua adalah kebenaran. Camkanlah firman Allah, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (QS. An-Nisa’: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan yang penulis sampaikan adalah sebagaimana yang dikatakan Syaikh Al-Allamah Muhammad bin ShalihAl- ‘Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        * “Termasuk  di antara pokok-pokok Ahli Sunnah Wal Jama’ah dalam masalah khilafiyah adalah apabila perselisihan tersebut bersumber dari ijtihad dan masalah tersebut memungkinkan untuk ijtihad, maka mereka saling toleransi, tidak saling dengki, bermusuhan atau lainnya, bahkan mereka bersaudara sekalipun ada perbedaan pendapat di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        * Adapun masalah-masalah yang tidak ada ruang untuk berselisih di dalamnya, yaitu masalah-masalah yang bertentangan dengan jalan para shahabat dan tabi’in, seperti masalah aqidah yang telah yang telah tersesat di dalamnya orang yang tersesat dan tidak dikenal perselisihan tersebut kecuali setelah generasi utama, maka orang yang menyelisihi shahabat dan tabiin tadi tidak dianggap perselisihannya”.[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.abiubaidah.com"&gt;www.abiubaidah.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN KAKI:&lt;br /&gt;[1] Syaikh Ahmad bin Shiddiq al-Ghumari juga mengomentari ucapan ini, katanya: “Merupakan aib tatkala penulis (as-Suyuthi) mencantumkan hadits palsu, bathil dan tidak ada asalnya ini, apalagi dia juga tidak mendapati ulama yang mengeluarkannya”. (Al-Mudawi li ‘Ilalil Jami’ Shoghir waSyarhi Munawi 1/235).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah: 57&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Al-Maqoshidul Hasanah hlm. 47 oleh as-Sakhowi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Lihat At-Tahdzir Min Ahadits Akhto’a fi Tashihiha Ba’dhul Ulama hlm. 99-103 oleh Ahmad bin Abdur Rahman al-’Uwain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam (5/64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata: “Perselisihan bukanlah rohmat, persatuan itulah yang rohmat, adapun perselisihan maka ia adalah kejelekan dan kemurkaan sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud”. (Syarh Mandhumah Al-Ha’iyah hlm. 193).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah 1/142-143 -secara ringkas-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Lihat risalah yang bagus Manhaj Taisir Al-Mu’ashir oleh Abdullah bin Ibrahim ath-Thowil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Lihat secara luas tentang masalah perselisihan dalam kitab Al-Ikhtilaf wa Maa Ilaihi oleh Syaikh Muhammad bin Umar Bazimul dan Al-Ikhtilaf Rohmah Am Niqmah? oleh Syaikh Amin Al-Haj Muhammad Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Lihat Al-Muwafaqot 5/221 oleh asy-Syathibi, Qowathi’ul Adillah 2/326 oleh as-Sam’ani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 20/254.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Lihat Qowa’idul Ahkam 1/216 oleh al-’Izzu bin Abdis Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Lihat al-Itqan fi Ulum Qur’an 1/24 oleh al-Hafizh as-Suyuthi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Ar-Risalah hlm. 259.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Irsal Syuwath ‘ala Man Tatabba’a Syawadz hlm. 73 oleh Shalih bin Ali asy-Syamroni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Jami’ Bayanil Ilmi, Ibnu Abdil Barr 2/814-815.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Dikeluarkan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 10/16, lalu berkomentar: “Hal ini menunjukkan kesempurnaan akal imam Syafi’I dan kelonggaran hatinya, karena memang para ulama senantiasa berselisih pendapat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Syarh Al-ushul As-Sittah hal.155-156. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-3863513130359138289?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/3863513130359138289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=3863513130359138289' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/3863513130359138289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/3863513130359138289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/perselisihan-adalah-rahmat-benarkah.html' title='PERSELISIHAN ADALAH RAHMAT, BENARKAH??!!'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-3907223825272213875</id><published>2009-12-05T20:17:00.001+07:00</published><updated>2009-12-05T20:19:12.881+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>Download Audio: Tanda-Tanda Hati Yang Sehat (Ustadz Yazid Jawas) [PENTING]</title><content type='html'>Alhamdulillah, saudaraku -rahimakumullah- silakan download kajian yang sangat penting yang di sampaikan oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas dengan tema ” Tanda-tanda Hati yang  Sehat dan Sakit “. &lt;span class="fullpost"&gt; Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin. Silakan download pada link berikut ini: &lt;a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/30/download-audio-tanda-tanda-hati-yang-sehat-ustadz-yazid-jawas-penting/?utm_source=feedburner&amp;utm_medium=email&amp;utm_campaign=Feed%3A+KumpulanSitusSunnah+%28Kumpulan+Situs+Sunnah%29"&gt;salafiyunpad.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-3907223825272213875?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/3907223825272213875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=3907223825272213875' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/3907223825272213875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/3907223825272213875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/download-audio-tanda-tanda-hati-yang.html' title='Download Audio: Tanda-Tanda Hati Yang Sehat (Ustadz Yazid Jawas) [PENTING]'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-1776478132399035814</id><published>2009-12-05T20:10:00.002+07:00</published><updated>2009-12-05T20:14:09.546+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>Download Audio: MUNGKINKAH SUNNAH &amp; SYI’AH BERSATU? (Ust. Abu Qotadah) [PEnting]</title><content type='html'>Alhamdulillah, saudaraku rahimakumullah, silakan download kajian dengan tema MUNGKINKAH SUNNAH DAN SYI’AH BERSATU?. Kajian ini disampaikan oleh Ustadz Abu Qotadah hafizhahullah – beliau adalah pimpinan Pesantren Ihya’ As Sunnah Tasikmalaya dan Murid dari Al Imam Muqbil al Wadi’iy rahimahullah-. Semoga kajian ini bermanfaat bagi kaum muslimin. &lt;span class="fullpost"&gt; Silakan download pada link berikut: &lt;a href="http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/30/download-audio-mungkinkah-sunnah-syiah-bersatu-ust-abu-qotadah-penting/?utm_source=feedburner&amp;utm_medium=email&amp;utm_campaign=Feed%3A+KumpulanSitusSunnah+%28Kumpulan+Situs+Sunnah%29"&gt;salafiyunpad.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-1776478132399035814?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/1776478132399035814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=1776478132399035814' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/1776478132399035814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/1776478132399035814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/download-audio-mungkinkah-sunnah-syiah.html' title='Download Audio: MUNGKINKAH SUNNAH &amp; SYI’AH BERSATU? (Ust. Abu Qotadah) [PEnting]'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-6921506678969121081</id><published>2009-12-03T11:02:00.000+07:00</published><updated>2009-12-03T11:06:03.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatun Nufus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat Untuk Muslimah'/><title type='text'>Surat An-Nisa`, Satu Bukti Islam Memuliakan Wanita...!</title><content type='html'>Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal pengetahuan tentang Islam yang tipis, tak sedikit kalangan yang dengan lancangnya menghakimi agama ini, untuk kemudian menelorkan kesimpulan-kesimpulan tak berdasar yang menyudutkan Islam. Salah satunya, Islam dianggap merendahkan wanita atau dalam ungkapan sekarang ‘bias jender’. Benarkah? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah kita maklumi keberadaan wanita dalam Islam demikian dimuliakan, terlalu banyak bukti yang menunjukkan kenyataan ini. Sampai-sampai ada satu surah dalam Al-Qur`anul Karim dinamakan surah An-Nisa`, artinya wanita-wanita, karena hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita lebih banyak disebutkan dalam surah ini daripada dalam surah yang lain. (Mahasinut Ta`wil, 3/6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya kita lihat beberapa ayat dalam surah An-Nisa` yang berbicara tentang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surah An-Nisa` dibuka dengan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (An-Nisa`: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini merupakan bagian dari khutbatul hajah yang dijadikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka khutbah-khutbah beliau. Dalam ayat ini dinyatakan bahwa dari jiwa yang satu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan pasangannya. Qatadah dan Mujahid rahimahumallah mengatakan bahwa yang dimaksud jiwa yang satu adalah Nabi Adam ‘alaihissalam. Sedangkan pasangannya adalah Hawa. Qatadah mengatakan Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. (Tafsir Ath-Thabari, 3/565, 566)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits shahih disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَِإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini ada dalil dari ucapan fuqaha atau sebagian mereka bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk. Hadits ini menunjukkan keharusan berlaku lembut kepada wanita, bersikap baik terhadap mereka, bersabar atas kebengkokan akhlak dan lemahnya akal mereka. Di samping juga menunjukkan dibencinya mentalak mereka tanpa sebab dan juga tidak bisa seseorang berambisi agar si wanita terus lurus. Wallahu a’lam.”(Al-Minhaj, 9/299)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dijaganya hak perempuan yatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yatim (bilamana kalian menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita lain yang kalian senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang wanita saja atau budak-budak perempuan yang kalian miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk kalian tidak berlaku aniaya.” (An-Nisa`: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urwah bin Az-Zubair pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى maka Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab, “Wahai anak saudariku1. Perempuan yatim tersebut berada dalam asuhan walinya yang turut berserikat dalam harta walinya, dan si wali ini ternyata tertarik dengan kecantikan si yatim berikut hartanya. Maka si wali ingin menikahinya tanpa berlaku adil dalam pemberian maharnya sebagaimana mahar yang diberikannya kepada wanita lain yang ingin dinikahinya. Para wali pun dilarang menikahi perempuan-perempuan yatim terkecuali bila mereka mau berlaku adil terhadap perempuan-perempuan yatim serta memberinya mahar yang sesuai dengan yang biasa diberikan kepada wanita lain. Para wali kemudian diperintah untuk menikahi wanita-wanita lain yang mereka senangi.” Urwah berkata, “Aisyah menyatakan, ‘Setelah turunnya ayat ini, orang-orang meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perkara wanita, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita.” (An-Nisa`: 127)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sementara kalian ingin menikahi mereka (perempuan yatim).” (An-Nisa`: 127)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dari kalian (yang menjadi wali/pengasuh perempuan yatim) tidak suka menikahi perempuan yatim tersebut karena si perempuan tidak cantik dan hartanya sedikit. Maka mereka (para wali) dilarang menikahi perempuan-perempuan yatim yang mereka sukai harta dan kecantikannya kecuali bila mereka mau berbuat adil (dalam masalah mahar, pent.). Karena keadaan jadi terbalik bila si yatim sedikit hartanya dan tidak cantik, walinya enggan/tidak ingin menikahinya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4574 dan Muslim no. 7444)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاءِ قُلِ اللهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاءِ اللاَّتِي لاَ تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang wanita. Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepada kalian tentang mereka dan apa yang dibacakan kepada kalian dalam Al-Qur`an tentang para wanita yatim yang kalian tidak memberi mereka apa yang ditetapkan untuk mereka sementara kalian ingin menikahi mereka.” (An-Nisa`: 127)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُنْزِلَتْ فِي الْيَتِيْمَةِ، تَكُوْنُ عِنْدَ الرَّجُلِ فَتَشْرِكُهُ فِي مَالِهِ، فَيَرْغَبُ عَنْهَا أَنْ يَتَزَوَّجَهَا وَيَكْرَهُ أَنْ يُزَوِّجَهَا غَيْرَهُ، فَيَشْرَكُهُ فِي ماَلِهِ، فَيَعْضِلُهَا، فَلاَ يَتَزَوَّجُهَا وَيُزَوِّجُهَا غَيْرَهُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayat ini turun tentang perempuan yatim yang berada dalam perwalian seorang lelaki, di mana si yatim turut berserikat dalam harta walinya. Si wali ini tidak suka menikahi si yatim dan juga tidak suka menikahkannya dengan lelaki yang lain, hingga suami si yatim kelak ikut berserikat dalam hartanya. Pada akhirnya, si wali menahan si yatim untuk menikah, ia tidak mau menikahinya dan enggan pula menikahkannya dengan lelaki selainnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5131 dan Muslim no. 7447)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cukup menikahi seorang wanita saja bila khawatir tidak dapat berlaku adil secara lahiriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang wanita saja atau budak-budak perempuan yang kalian miliki.” (An-Nisa`: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan adil di sini adalah dalam perkara lahiriah seperti adil dalam pemberian nafkah, tempat tinggal, dan giliran. Adapun dalam perkara batin seperti rasa cinta dan kecenderungan hati tidaklah dituntut untuk adil, karena hal ini di luar kesanggupan seorang hamba. Dalam Al-Qur`anul Karim dinyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian, walaupun kalian sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kalian terlalu cenderung kepada istri yang kalian cintai sehingga kalian biarkan yang lain telantar.” (An-Nisa`: 129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan ketika menafsirkan ayat di atas, “Maksudnya, kalian wahai manusia, tidak akan mampu berlaku sama di antara istri-istri kalian dari segala sisi. Karena walaupun bisa terjadi pembagian giliran malam per malam, namun mesti ada perbedaan dalam hal cinta, syahwat, dan jima’. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Abidah As-Salmani, Mujahid, Al-Hasan Al-Bashri, dan Adh-Dhahhak bin Muzahim rahimahumullah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyebutkan sejumlah kalimat, Ibnu Katsir rahimahullah melanjutkan pada tafsir ayat: فَلاَ تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ maksudnya apabila kalian cenderung kepada salah seorang dari istri kalian, janganlah kalian berlebih-lebihan dengan cenderung secara total padanya, فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ “sehingga kalian biarkan yang lain telantar.” Maksudnya istri yang lain menjadi terkatung-katung. Kata Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Al-Hasan, Adh Dhahhak, Ar-Rabi` bin Anas, As-Suddi, dan Muqatil bin Hayyan, “Makna كَالْمُعَلَّقَةِ, seperti tidak punya suami dan tidak pula ditalak.” (Tafsir Al-Qur`anil Azhim, 2/317)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seorang lelaki khawatir tidak dapat berlaku adil dalam berpoligami, maka dituntunkan kepadanya untuk hanya menikahi satu wanita. Dan ini termasuk pemuliaan pada wanita di mana pemenuhan haknya dan keadilan suami terhadapnya diperhatikan oleh Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hak memperoleh mahar dalam pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَءَاتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar tersebut dengan senang hati maka makanlah (ambillah) pemberian itu sebagai makanan yang sedap lagi baik akibatnya.” (An-Nisa`: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Wanita diberikan bagian dari harta warisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ayah-ibu dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian dari harta peninggalan ayah-ibu dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (An-Nisa`: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di zaman jahiliah, yang mendapatkan warisan hanya lelaki, sementara wanita tidak mendapatkan bagian. Malah wanita teranggap bagian dari barang yang diwarisi, sebagaimana dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kalian mewarisi wanita dengan jalan paksa.” (An-Nisa`: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan, “Dulunya bila seorang lelaki di kalangan mereka meninggal, maka para ahli warisnya berhak mewarisi istrinya. Jika sebagian ahli waris itu mau, ia nikahi wanita tersebut dan kalau mereka mau, mereka nikahkan dengan lelaki lain. Kalau mau juga, mereka tidak menikahkannya dengan siapa pun dan mereka lebih berhak terhadap si wanita daripada keluarga wanita itu sendiri. Maka turunlah ayat ini dalam permasalahan tersebut.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4579)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari ayat ini, kata Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah, adalah untuk menghilangkan apa yang dulunya biasa dilakukan orang-orang jahiliah dari mereka dan agar wanita tidak dijadikan seperti harta yang diwariskan sebagaimana diwarisinya harta benda. (Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an, 5/63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada yang mempermasalahkan, kenapa wanita hanya mendapatkan separuh dari bagian laki-laki seperti tersebut dalam ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يُوصِيكُمُ اللهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ اْلأُنْثَيَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang pembagian warisan untuk anak-anak kalian, yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan….” (An-Nisa`: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dijawab, inilah keadilan yang sesungguhnya. Laki-laki mendapatkan bagian yang lebih besar daripada wanita karena laki-laki butuh bekal yang lebih guna memberikan nafkah kepada orang yang di bawah tanggungannya. Laki-laki banyak mendapatkan beban. Ia yang memberikan mahar dalam pernikahan dan ia yang harus mencari penghidupan/penghasilan, sehingga pantas sekali bila ia mendapatkan dua kali lipat daripada bagian wanita. (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 2/160)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Suami diperintah untuk berlaku baik pada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.” (An-Nisa`: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan serta penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hal ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (istri)nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)ku.”2 (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 2/173)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Suami tidak boleh membenci istrinya dan tetap harus berlaku baik terhadap istrinya walaupun dalam keadaan tidak menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa`: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an (5/65), Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ (“Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka”), dikarenakan parasnya yang buruk atau perangainya yang jelek, bukan karena si istri berbuat keji dan nusyuz, maka disenangi (dianjurkan) (bagi si suami) untuk bersabar menanggung kekurangan tersebut. Mudah-mudahan hal itu mendatangkan rizki berupa anak-anak yang shalih yang diperoleh dari istri tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan), sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang banyak bagi kalian di dunia dan di akhirat. Sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang ayat ini: ‘Si suami mengasihani (menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan rizki kepadanya berupa anak dari istri tersebut dan pada anak itu ada kebaikan yang banyak’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan larangan (untuk membenci), yakni sepantasnya seorang suami tidak membenci istrinya. Karena bila ia menemukan pada istrinya satu perangai yang tidak ia sukai, namun di sisi lain ia bisa dapatkan perangai yang disenanginya pada si istri. Misalnya istrinya tidak baik perilakunya, tetapi ia seorang yang beragama, atau berparas cantik, atau menjaga kehormatan diri, atau bersikap lemah lembut dan halus padanya, atau yang semisalnya.” (Al-Minhaj, 10/58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Bila seorang suami bercerai dengan istrinya, ia tidak boleh meminta kembali mahar yang pernah diberikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَءَاتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلاَ تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا. وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kalian ingin mengganti istri kalian dengan istri yang lain sedang kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kalian mengambil kembali sedikitpun dari harta tersebut. Apakah kalian akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan menanggung dosa yang nyata? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (An-Nisa`: 20-21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Termasuk pemuliaan terhadap wanita adalah diharamkan bagi mahram si wanita karena nasab ataupun karena penyusuan untuk menikahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian, putri-putri kalian, saudara-saudara perempuan kalian, ‘ammah kalian (bibi/ saudara perempuan ayah), khalah kalian (bibi/ saudara perempuan ibu), putri-putri dari saudara laki-laki kalian (keponakan perempuan), putri-putri dari saudara perempuan kalian, ibu-ibu susu kalian, saudara-saudara perempuan kalian sepersusuan, ibu mertua kalian, putri-putri dari istri kalian yang berada dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri. Tetapi jika kalian belum mencampuri istri tersebut (dan sudah berpisah dengan kalian) maka tidak berdosa kalian menikahi putrinya. Diharamkan pula bagi kalian menikahi istri-istri anak kandung kalian (menantu)…” (An-Nisa`: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharamkannya wanita-wanita yang disebutkan dalam ayat di atas untuk dinikahi oleh lelaki yang merupakan mahramnya, tentu memiliki hikmah yang agung, tujuan yang tinggi yang sesuai dengan fithrah insaniah. (Takrimul Mar`ah fil Islam, Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu, hal. 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ اْلأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Diharamkan atas kalian) menghimpunkan dalam pernikahan dua wanita yang bersaudara, kecuali apa yang telah terjadi di masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa`: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas menetapkan bahwa seorang lelaki tidak boleh mengumpulkan dua wanita yang bersaudara dalam ikatan pernikahan karena hal ini jelas akan mengakibatkan permusuhan dan pecahnya hubungan di antara keduanya. (Takrimul Mar`ah fil Islam, Muhammad Jamil Zainu, hal. 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa ayat dalam surah An-Nisa` yang menyinggung tentang wanita. Apa yang kami sebutkan di atas bukanlah membatasi, namun karena tidak cukupnya ruang, sementara hanya demikian yang dapat kami persembahkan untuk pembaca yang mulia. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang memberi taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Karena ibu ‘Urwah, Asma` bintu Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma adalah saudara perempuan Aisyah radhiyallahu ‘anha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://asysyariah.com"&gt;http://asysyariah.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-6921506678969121081?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/6921506678969121081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=6921506678969121081' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/6921506678969121081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/6921506678969121081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/surat-nisa-satu-bukti-islam-memuliakan.html' title='Surat An-Nisa`, Satu Bukti Islam Memuliakan Wanita...!'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-4559416590160404608</id><published>2009-12-03T10:51:00.000+07:00</published><updated>2009-12-03T10:54:06.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatun Nufus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlaq'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat Untuk Muslimah'/><title type='text'>Hidayah Itu Mahal Wahai Saudaraku</title><content type='html'>Oleh Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah terpikirkan bahwa kita tengah berada dalam anugerah yang tiada ternilai dari Dzat yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang dihalangi untuk memperolehnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa tahu ajaran yang benar dari agama Islam ini. Tahu ini haq, itu batil… Ini tauhid, itu syirik…. Ini sunnah, itu bid’ah… Lalu kita dimudahkan untuk mengikuti yang haq dan meninggalkan yang batil. Sementara, banyak orang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang sesat, atau ada yang tahu tapi tidak dimudahkan baginya untuk mengamalkan al-haq, malah ia gampang berbuat kebatilan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat berjalan mantap di bawah cahaya yang terang-benderang, sementara banyak orang yang tertatih meraba dalam kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu apa tujuan hidup kita dan kemana kita kan menuju. Sementara, ada orang-orang yang tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Bahkan kebanyakan mereka menganggap mereka hidup hanya untuk dunia, sekadar makan, minum, dan bersenang-senang di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa namanya semua yang kita miliki ini, wahai saudariku, kalau bukan anugerah terbesar, nikmat yang tiada ternilai? Inilah hidayah dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada jalan-Nya yang lurus.&lt;br /&gt;Dalam Tanzil-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;وَاللهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ&lt;br /&gt;“Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu menerangkan dalam tafsirnya bahwa hidayah di sini maknanya adalah petunjuk dan taufik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hidayah ini kepada orang yang pantas mendapatkannya, karena segala sesuatu yang dikaitkan dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala maka mesti mengikuti hikmah-Nya. Siapa yang beroleh hidayah maka memang ia pantas mendapatkannya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan ayat:&lt;br /&gt;وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ&lt;br /&gt;beliau berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meletakkan hidayah di dalam hati kecuali kepada orang yang pantas mendapatkannya. Adapun orang yang tidak pantas memperolehnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya beroleh hidayah tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan hidayah hati kepada setiap orang, namun hanya diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya berhak mendapatkannya dan dia memang pantas. Sementara orang yang Dia ketahui tidak pantas beroleh hidayah dan tidak cocok, maka diharamkan dari hidayah tersebut.”&lt;br /&gt;Asy-Syaikh yang mulia melanjutkan, “Di antara sebab terhalangnya seseorang dari beroleh hidayah adalah fanatik terhadap kebatilan dan semangat kesukuan, partai, golongan, dan semisalnya. Semua ini menjadi sebab seseorang tidak mendapatkan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang kebenaran telah jelas baginya namun tidak menerimanya, ia akan dihukum dengan terhalang dari hidayah. Ia dihukum dengan penyimpangan dan kesesatan, dan setelah itu ia tidak dapat menerima al-haq lagi. Maka di sini ada hasungan kepada orang yang telah sampai al-haq kepadanya untuk bersegera menerimanya. Jangan sampai ia menundanya atau mau pikir-pikir dahulu, karena kalau ia menundanya maka ia memang pantas diharamkan/dihalangi dari hidayah tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ&lt;br /&gt;“Maka tatkala mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati-hati mereka.” (Ash-Shaf: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ&lt;br /&gt;“Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (Al-An’am: 110) [I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, 1/357]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu engkau ketahui, hidayah itu ada dua macam:&lt;br /&gt;1. Hidayah yang bisa diberikan oleh makhluk, baik dari kalangan para nabi dan rasul, para da’i atau selain mereka. Ini dinamakan hidayah irsyad (bimbingan), dakwah dan bayan (keterangan). Hidayah inilah yang disebutkan dalam ayat:&lt;br /&gt;وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) benar-benar memberi hidayah/petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hidayah yang hanya bisa diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak selain-Nya. Ini dinamakan hidayah taufik. Hidayah inilah yang ditiadakan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih selain beliau, dalam ayat:&lt;br /&gt;إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) tidak dapat memberi hidayah/petunjuk kepada orang yang engkau cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya manusia, baik ia da’i atau selainnya, hanya dapat membuka jalan di hadapan sesamanya. Ia memberikan penerangan dan bimbingan kepada mereka, mengajari mereka mana yang benar, mana yang salah. Adapun memasukkan orang lain ke dalam hidayah dan memasukkan iman ke dalam hati, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya, karena ini hak Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. (Al-Qaulul Mufid Syarhu Kitabit Tauhid, Ibnu Utsaimin, sebagaimana dinukil dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il beliau, 9/340-341)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku, bersyukurlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika engkau dapati dirimu termasuk orang yang dipilih-Nya untuk mendapatkan dua hidayah yang tersebut di atas. Karena berapa banyak orang yang telah sampai kepadanya hidayah irsyad, telah sampai padanya dakwah, telah sampai padanya al-haq, namun ia tidak dapat mengikutinya karena terhalang dari hidayah taufik. Sementara dirimu, ketika tahu al-haq dari al-batil, segera engkau pegang erat yang haq tersebut dan engkau empaskan kebatilan sejauh mungkin. Berarti hidayah taufik dari Rabbul Izzah menyertaimu. Tinggal sekarang, hidayah itu harus engkau jaga, karena ia sangat bernilai dan sangat penting bagi kehidupan kita. Ia harus menyertai kita bila ingin selamat di dunia, terlebih di akhirat. Bagaimana tidak? Sementara kita di setiap rakaat dalam shalat diperintah untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hidayah kepada jalan yang lurus.&lt;br /&gt;اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ&lt;br /&gt;“Tunjukilah (berilah hidayah) kami kepada jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila timbul pertanyaan, bagaimana seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu shalatnya dan di luar shalatnya, sementara mukmin berarti ia telah beroleh hidayah? Bukankah dengan begitu berarti ia telah meminta apa yang sudah ada pada dirinya?&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu memberikan jawabannya: Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing hamba-hamba-Nya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam. Seorang hamba butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah, agar hidayah itu bertambah dan terus-menerus dimilikinya. Karena seorang hamba tidak dapat memberikan kemanfaatan dan tidak dapat menolak kemudaratan dari dirinya, kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun membimbing si hamba agar di setiap waktu memohon kepada-Nya pertolongan, kekokohan, dan taufik. Orang yang bahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memohon hidayah, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan jaminan untuk mengabulkan permintaan orang yang berdoa kepada-Nya di sepanjang malam dan di pengujung siang. Terlebih lagi bila si hamba dalam kondisi terjepit dan sangat membutuhkan bantuan-Nya. Ini sebanding dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (An-Nisa’: 136)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar tetap beriman. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, karena yang dimaukan dengan perintah beriman di sini adalah hasungan agar tetap tsabat (kokoh), terus-menerus dan tidak berhenti melakukan amalan-amalan yang dapat membantu seseorang agar terus di atas keimanan. Wallahu a’lam. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 1/38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah dengan hidayah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadamu dan jangan biarkan hidayah itu berlalu darimu. Mintalah selalu kekokohan dan keistiqamahan di atas iman kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Teruslah mempelajari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadirilah selalu majelis ilmu. Dekatlah dengan ulama, cintai mereka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bergaullah dengan orang-orang shalih dan jauhi orang-orang jahat yang dapat merancukan pemahaman agamamu serta membuatmu terpikat dengan dunia. Semua ini sepantasnya engkau lakukan dalam upaya menjaga hidayah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepadamu. Satu lagi yang penting, jangan engkau jual agamamu karena menginginkan dunia, karena ingin harta, tahta, dan karena cinta kepada lawan jenis. Sekali-kali janganlah engkau kembali ke belakang. Kembali kepada masa lalu yang suram karena jauh dari hidayah dan bimbingan agama. Ingatlah:&lt;br /&gt;فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ&lt;br /&gt;“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Al-Imam Al-’Allamah Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi rahimahullahu, “Kebenaran dan kesesatan itu tidak ada perantara antara keduanya. Maka, siapa yang luput dari kebenaran mesti ia jatuh dalam kesesatan.” (Mahasinut Ta’wil, 6/24)&lt;br /&gt;Lalu apa persangkaanmu dengan orang yang tahu kebenaran dari kebatilan, semula ia berjalan di atas kebenaran tersebut, berada di dalam hidayah, namun kemudian ia futur (patah semangat, tidak menetapi kebenaran lagi, red.) dan lisan halnya mengatakan ‘selamat tinggal kebenaran’? Wallahul Musta’an. Sungguh setan telah berhasil menipu dan mengempaskannya ke jurang yang sangat dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu, di atas ketaatan kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘alamin ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.asysyariah.com"&gt;http://www.asysyariah.com&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-4559416590160404608?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/4559416590160404608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=4559416590160404608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/4559416590160404608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/4559416590160404608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/hidayah-itu-mahal-wahai-saudaraku.html' title='Hidayah Itu Mahal Wahai Saudaraku'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-9102164199588751420</id><published>2009-12-03T10:34:00.000+07:00</published><updated>2009-12-03T10:37:36.812+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlaq'/><title type='text'>Ketika Dua Negeri Berseteru</title><content type='html'>At Tauhid edisi V/46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Yulian Purnama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih rasanya melihat dua bangsa berseteru, saling membanggakan diri dan mencaci yang lain, bahkan ada yang menyuarakan peperangan, padahal keduanya adalah negeri kaum muslimin. Lebih miris lagi, perseteruan ini didasari oleh hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika demikian adanya, bagaimana mungkin umat Islam menjadi kuat dan kokoh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Cinta dan Benci Dalam Islam &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam dikenal konsep Wala wal Bara’ (cinta dan benci) yang merupakan konsekuensi dari iman yang benar. Inti ajaran Islam adalah mengajak ummat manusia untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata. Konsekuensinya, seorang mukmin akan mencintai segala bentuk peribadatan dan ketaatan kepada Allah semata dan mencintai orang-orang yang melakukan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam juga bersabda: “Orang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna” (HR. Abu Daud no. 4681, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi lain adalah kebalikan dari itu, seorang mukmin akan membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah dan maksiat, serta membenci orang-orang yang melakukan demikian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, seorang mukmin sejati mencintai orang-orang yang menyembah Allah Ta’ala semata dan melakukan ketaatan kepada-Nya, baik ia berbeda suku, berbeda negara, berbeda warna kulit, berbeda bahasa, berbeda martabat. Dan seorang mukmin dalam hatinya memiliki rasa benci kepada orang yang menyembah kepada selain Allah dan membenci orang yang banyak melakukan maksiat, meskipun ia satu negara, meskipun ia satu bahasa, sama warna kulitnya, meskipun ia teman sepermainan, meskipun ia adalah orang tuanya, anaknya,atau keluarganya. Inilah konsep cinta dan benci dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dan Benci Orang Jahiliyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Jahiliyyah adalah masa sebelum di utusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa sallam. Dan pada saat itu dunia diliputi kebodohan terhadap agama, kesesatan, penyimpangan dan kemusyrikan (Lihat Syarh Masa’il Jahiliyyah (8), Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan). Oleh karena itu Allah Ta’ala banyak mencap buruk orang-orang pada masa Jahiliyyah dalam Al Qur’an Al Karim. Misalnya firman Allah Ta’ala (yang artinya): “(Wahai kaum wanita), hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana orang-orang Jahiliyah yang terdahulu” (QS. Al Ahdzab: 33). Sehingga Islam melarang ummat-Nya berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang Jahiliyyah secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimanakah konsep cinta dan benci yang diterapkan orang-orang Jahiliyyah? Cinta dan benci mereka dibangun atas dasar kesamaan suku dan bangsa. Ketika dua suku berseteru, mereka membenci orang-orang yang masih satu suku bangsa dan membenci orang-orang yang berbeda suku bangsa. Sebagaimana diceritakan sebuah hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu ketika di Gaza, (dalam sebuah pasukan) ada seorang dari suku Muhajirin mendorong seorang lelaki dari suku Anshar. Orang Anshar tadi pun berteriak: ‘Wahai orang Anshar (ayo berpihak padaku)’. Orang Muhajirin tersebut pun berteriak: ‘Wahai orang Muhajirin (ayo berpihak padaku)’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendengar kejadian tersebut, beliau bersabda: ‘Pada diri kalian masih terdapat seruan-seruan Jahiliyyah’. Mereka berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah mendorong seorang dari suku Anshar’. Beliau bersabda: ‘Tinggalkan sikap yang demikian, karena yang demikian adalah perbuatan busuk’ ” (HR. Al Bukhari no.4905)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan dengan baik hadits yang mulia ini. Muhajirin dan Anshar adalah dua kaum yang mulia yang dipuji oleh Allah Ta’ala. Namun tatkala mereka menyerukan fanatisme kesukuan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyatakan bahwa sikap tersebut adalah perangai Jahiliyah, bahkan beliau melaknat perbuatan tersebut. Bagaimana lagi dengan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Berpecah Belah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpecahan umat Islam adalah sesuatu yang tercela dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. Al Imran: 104). Dan sebaliknya, Islam memerintahkan ummat-Nya untuk bersatu-padu. Dan perintah untuk bersatu ini ditujukan kepada setiap Muslim di seluruh dunia, tidak hanya antar ummat Muslim di satu negara saja. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Al Imran: 102-103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas, jelas sekali bahwa perintah untuk bersatu ditujukan untuk setiap Muslim, bukan hanya muslim yang sebangsa saja. Oleh karena itu, perselisihan antar umat Islam baik yang satu negara ataupun berbeda negara adalah sumber kebinasaan. Maka bersatulah wahai kaum muslimin di negara manapun engkau berada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim Itu Bersaudara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim mempersembahkan cintanya yang paling besar dan yang paling tulus kepada Allah Ta’ala. Cinta ini tidak boleh pupus oleh cinta lain. Cinta kepada Allah tidak boleh ditenggelamkan oleh cinta seseorang kepada keluarganya, bahkan kepada kedua orang tuanya. Konsekuensinya, siapapun yang mencintai Allah Ta’ala, berhak untuk kita cintai. Sebaliknya, siapapun yang mendurhakai Allah Ta’ala, layak untuk kita benci. Rasa cinta kepada Allah inilah yang mengikat setiap muslim dalam lingkar persaudaraan yang mulia. Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu” (QS. Al Hujurat: 10). Oleh karena itu, wahai kaum muslimin, berbuat baiklah kepada sesama muslim layaknya saudara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah seseorang akan membenci saudaranya? Apakah ia akan menjauhi saudaranya? Apakah ia akan menghina saudaranya? Apakah ia akan menzhalimi saudaranya? Sama sekali tidak. Maka demikianlah sepatutnya seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jangan kalian saling hasad, jangan saling mencurangi, jangan saling membenci, jangan saling menjauhi, jangan kalian menawar barang yang sedang ditawar orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membohonginya dan tidak boleh menghinanya” (HR. Muslim no.2564)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlombalah dalam Kebaikan, bukan Dalam Maksiat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miris rasanya melihat umat muslim berselisih, bertengkar dan berseteru disebabkan rasa iri dan dengki dalam kemaksiatan. Mereka membangga-banggakan diri atas perkara maksiat dan saling dengki satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, mereka berseteru karena musik. Padahal Allah Ta’ala tidak ridha terhadap hal tersebut. Allah berfirman: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwal hadits untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah” (QS. Luqman: 6) Sebagian ahli tafsir, juga sahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu menjelaskan bahwa yang dimaksud lahwal hadits di dalam ayat ini adalah nyanyian. Rasul kita Shallallahu’alaihi Wasallam juga pernah bersabda, “Akan ada beberapa kaum dari ummatku yang menghalalkan zina dan sutra, serta khamr dan alat musik” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/tegas . Al Imam Ibnul Qayyim telah membantah anggapan yang mengatakan bahwa hadits ini dhaif. Hadits di atas dinilai sahih oleh banyak ulama, di antaranya: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Istiqomah (1/294) dan Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/259). Penilaian senada disampaikan An Nawawi, Ibnu Rajab Al Hambali, Ibnu Hajar dan Asy Syaukani –rahimahumullah-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini jelas menunjukkan keharaman musik. Dan Nabi kita Shallallahu’alaihi Wasallam tidak ridha terhadapnya. Jika Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tidak ridha, mengapa kita malah mencintainya? Dan malah berbangga-bangga dengannya? Dan menjadikannya bahan perseteruan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian yang dilakukan para wanita dengan memamerkan aurat mereka, kemudian berlenggak-lenggok gemulai di depan orang banyak, sungguh mereka telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Namun hal ini malah dijadikan kebanggaan dan menjadi sebab pertikaian!? Padahal Rasul kita Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Ada dua jenis manusia penghuni neraka yang aku belum pernah melihat sebelumnya. Yang pertama yaitu orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka mencambuki orang lain. Yang kedua yaitu wanita yang berpakaian namun sebenarnya telanjang, mereka berjalan berlenggak-lenggok. Kepala mereka seperti punuk unta yang bergoyang. Mereka tidak masuk surga, bahkan tidak mencium wanginya surga. Padahal wanginya surga dapat tercium dari jarah yang sangat jauh” (HR. Muslim no. 2128)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kaum muslimin, buktikan cintamu kepada Allah. Berhentilah berbangga dan berlomba dalam hal yang tidak diridhai Allah Ta’ala! Berlombalah dalam kebaikan dan ketaqwaan! Bukankah anda pernah mendengar firman Allah Ta’ala: “Sungguh, yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa” (QS. Al Hujurat: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka irilah kepada saudaramu yang hafal Al Qur’an, irilah kepada saudaramu yang paham ilmu agama, irilah pada saudaramu yang giat beribadah, irilah pada saudaramu yang zuhud dan qanaah. Berusahalah menandingi mereka dalam hal tersebut. Irilah jika ada negeri lain yang masyarakatnya lebih shalih, dan berusahalah menjadikan negeri kita ini lebih shalih dari negeri tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah Nasionalisme Bagian Dari Iman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah kesempatan, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Uqail rahimahullah, seorang ulama besar dari Unaizah, ditanya: “Bagaimana dengan ungkapan yang banyak tersebar di masyarakat, yaitu: “Cinta tanah air (wathon) adalah bagian dari iman”. Apakah ungkapan ini adalah sebuah hadits yang shahih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Uqail rahimahullah, menjawab: “Menurutku, andaikan hadits ini shahih, bisa dibenarkan jika wathon kita artikan sebagai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Surga, karena surga adalah negeri pertama bagi keturunan Adam ‘Alaihissalam&lt;br /&gt;   2. Mekkah, karena Mekkah adalah Ummul Quraa (Ibu kota dari semua kota) dan kiblatnya orang alim&lt;br /&gt;   3. Negeri yang baik, namun dengan syarat cinta kepada negeri dikarenakan adanya itikad untuk menyambung silaturahim, atau berbuat baik kepada penduduk negeri tersebut, misalnya kepada orang fakir dan anak yatim (bukan karena semangat nasionalisme, pent) [Demikian penjelasan Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al 'Uqail, dikutip dari Mauqi' Al Islam]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama pakar hadits abad ini, Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini adalah hadits palsu. As Shaghani dan ulama yang lain berkata: ‘Makna hadits ini tidak benar. Karena kecintaan kepada tanah air seperti mencintai diri sendiri, mencintai harta, dan semacamnya. Ini semua merupakan sifat-sifat manusiawi. Sehingga seseorang yang mencintai hal-hal tersebut tidak serta-merta dipuji. Oleh karena itu mencintai tanah air bukan bagian dari iman. Bukankah anda melihat bahwa semua manusia memiliki sifat ini? Baik yang mu’min maupun yang kafir tanpa terkecuali.’ (Silsilah Ahadits Adh Dhaifah, 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasionalisme yang Dibenarkan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang cinta tanah air, memang benar bahwa mencintai tanah kelahiran adalah hal yang manusiawi. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mencintai tempat kelahiran beliau, Makkah. Sampai-sampai beliau bersabda, “Wahai Makkah, tidak ada negeri yang lebih baik dan lebih kucintai dari pada engkau. Andai kaumku tidak mengusirku darimu, aku tidak akan pernah tinggal di negeri lain” (HR. At Tirmidzi no.3926, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beliau mencintai Makkah bukan karena semata-mata tempat kelahiran, namun karena Makkah adalah negeri kaum muslimin, negeri tauhid yang diwariskan Ibrahim ‘Alahissalam. Oleh karena itu beliau pun mencintai Madinah, yang juga negeri kaum muslimin, walaupun bukan tempat kelahiran beliau. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda ketika peristiwa hijrah ke Madinah, “Ya Allah, berikanlah kami rasa cinta terhadap Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan cinta yang lebih besar dari itu” (HR. Bukhari no.6372)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka nasionalisme yang benar adalah nasionalisme yang didasari rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Yaitu mencintai negeri tempat kelahiran kita yang merupakan negeri kaum muslimin, karena Islam ditegakkan di dalamnya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan: “Tanah air dicintai jika ia merupakan negeri kaum muslimin. Setiap orang wajib bersemangat untuk berbuat kebaikan di negerinya, juga di negeri lain yang merupakan negeri kaum muslimin. Setiap orang juga wajib mengusahakan keluarga dan kerabatnya tinggal di negeri kaum muslimin” (Fatawa Wal Maqalat Mutanawwi’ah, Juz 9, http://www.binbaz.org.sa/mat/2078 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sebagaimana dijelaskan Syaikh Al Uqail, semangat cinta tanah air dapat dibenarkan jika diniatkan dalam rangka ingin berbuat baik kepada masyarakatnya. Dengan kata lain, ia mencintai negerinya karena orang-orang yang ia sayangi berada di negeri tersebut, dan ia ingin berbuat baik kepada mereka. Karena memang Islam mengajarkan untuk mendahulukan orang-orang terdekat dalam berbuat kebaikan. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At Tahrim: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala juga berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat….” (QS. An Nisa: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kami mengajak kaum muslimin sekalian untuk meninggalkan semangat nasionalisme Jahiliyyah dan beralih kepada semangat nasionalisme di dasari rasa cinta kepada Allah Ta’ala. Hentikan pertikaian antara saudara seiman! Kemudian mari kita bersama membangun negeri kita ini dalam setiap aspek kehidupan, sehingga kaum muslimin kuat dan kokoh. Mari kita dukung program-program pemerintah yang sejalan dengan nilai-nilai Islami, dan mari unggulkan negeri kita ini dalam hal kebaikan dan ketaqwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah menjadikan negeri kita ini menjadi negeri yang diridhaiNya, semoga pada negeri ini diturunkan rahmah serta keberkahan Allah di dalamnya. Dan semoga Allah menjadikan penduduknya menjadi orang-orang yang bertaqwa kepada Allah serta bersatu-padu menjalin persaudaraan yang kuat dan kokoh karena-Nya. Wallahul musta’an. [Yulian Purnama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://bulein.muslim.or.id"&gt;Buletin At-Tauhid&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-9102164199588751420?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/9102164199588751420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=9102164199588751420' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/9102164199588751420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/9102164199588751420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/ketika-dua-negeri-berseteru.html' title='Ketika Dua Negeri Berseteru'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-8661445371831547190</id><published>2009-12-02T11:02:00.001+07:00</published><updated>2009-12-02T11:05:09.267+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlaq'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Bila Fanatisme Buta Merajalela</title><content type='html'>Di penghujung abad hijriah yang lalu, di kota Syam terjadi sebuah peristiwa yang cukup “unik”. Beberapa pemuka madzhab Syafi’I mendatangi sang hakim yang ada di negri tersebut. Apa gerangan yang mereka inginkan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengajukan sebuah tuntutan kepada sang hakim agar sang hakim mengeluarkan keputusan untuk membagi setiap mesjid yang ada di negri itu menjadi dua. Setengahnya untuk mereka para pengikut madzhab Syafi’I dan setengahnya lagi untuk para pengikut madzhab hanafy. Mengapa ? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usut punya usut ternyata penyebabnya adalah karena : “Para pemuka madznab hanafy itu berbeda pendapat tentang hukum pernikahan pria bermadzhab hanafy dengan wanita bermadzhab syafi’I, sebagian mereka menganggap pernikahan itu tidak sah dengan alasan wanita bermadzhab syafi’I itu diragukan keimanannya, sementara sebagian yang lain membolehkannya dengan mengqiyaskannya pada wanita dzimmiyyah (ahlu dzimmah)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ternyata para pemuka madzhab syafi’I itu sangat tersinggung dengan apa yang dibahas oleh para pemuka madzhab hanafy yang sampai pada tingkat meragukan keimanan mereka sebagai seorang muslim bahkan manyamakan mereka sama dengan kafir dzimmy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita lihat dari kisah ini hanyalah satu contoh di antara begitu banyak contoh yang menunjukkan bahaya yang lahir bila fanatisme buta merajalela di tengah-tengah kita. Ketika yang menjadi patokan dan ukuran adalah ketokohan seseorang, dan tidak lagi pada apakah ucapan atau pendapatnya sejalan dengan al-haq –dan yang kita maksudkan dengan al-haq tiada lain dan tiada bukan selain daripada Al-Qur'an dan As-sunnah yang dipahami secara benar-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila fanatisme buta telah mewabah maka yang lahir pastilah pengkultusan tanpa batas. Dan bukankah sejarah telah mencatat bahwa pengkultusan individu adalah sebab utama terpecahnya dan hancurnya ummat ini. Yang lebih parah lagi adalah bahwa kultus individu telah menjatuhkan kaum muslimin ke dalam jurang kesyirikan. Bagaimana tidak ? Akibat terlalu mengkultuskan individu tertentu, dalam diri mereka kemudian lahir kayakinan yang sesat : “sang tokoh” mengetahui hal-hal yang 'ghaib'lah, dikawal malaikatlah –kalau yang dimaksud malaikat penacatat amal sih tak masalah- , dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah yang menyebabkan kaum kafir quraisy dahulu menolak mengikuti Rasulullah adalah karena mereka terlalu fanatik dengan ajaran nenek moyangnya. Kesesatan yang samapun bisa terjadi pada diri kita bila kita tidak mau membebaskan diri dari belenggu “fanatisme buta “ dan “pengkultusan individu” ini. Dan apa yang kita saksikan pada hari-hari belakangan ini di tanah air kita hanyalah satu contoh lagi yang menunjukkan betapa mengerikannya dampak negatif penyakit yang satu ini. Bukan hanya bangunan yang hancur namun sebuah bangsa bisa hancur berkeping-keping bila masih saja rela dengan penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam kita diajari untuk tidak taklid buta dan mengkultuskan individu. Seperti ucapan Imam Malik –Rahimahullah- : “Setiap perkataan bisa saja ditolak atau diterima kecuali perkataan penghuni kubur ini” –kata beliau seraya menunjuk makam Rasulullah-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagi kita kaum muslimin, perkataan siapapun –sekali lagi : siapapun juga !- bisa diterima ataupun ditolak tanpa pandang bulu –walaupun seorang bernenekmoyangkan para ulama- kecuali Firman Allah dan sabda RasulNya yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ukuran penerimaan dan penolakan suatu pendapat sepenuhnya berpulang pada : apakah pendapat itu sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah –yang dipahami secara benar sebagaimana dipahami oleh As-Salaf Ash-Shaleh-. Maka tepatlah apa yang diungkapkan oleh sebagian ulama bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebenaran itu tidaklah diukur berdasarkan (pendapat) orang namun sesorang itu akan dikenal dengan kebenaran yang ia perjuangkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, bagi kita –para pembaca yang budiman- kebenaranlah yang berhak untuk diikuti walaupun ia bertentangan dengan keinginan diri atau terpaksa menjatuhkan orang yang kita cintai dan hormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahul Muwaffiq !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;______________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : Abul Miqdad Al-Madany&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-8661445371831547190?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/8661445371831547190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=8661445371831547190' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/8661445371831547190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/8661445371831547190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/12/bila-fanatisme-buta-merajalela.html' title='Bila Fanatisme Buta Merajalela'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-2231325527623569410</id><published>2009-11-29T20:37:00.000+07:00</published><updated>2009-11-29T20:39:27.141+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatun Nufus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Sepenggal Ucapan Indah dari Salaf Nan Shalih</title><content type='html'>Oleh Ustadz Adni Kurniawan, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ali Ibn Abī Thālib berkata, “Sesungguhnya dunia telah pergi berpaling sedangkan akhirat datang menghadap. Masing-masing dari keduanya memiliki anak. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah menjadi anak-anak dunia. Ketahuilah, sesungguhnya mereka yang zuhud di dunia menjadikan bumi sebagai permadani, tanah sebagai kasur dan air sebagai minyak wangi. Ingatlah, siapa saja yang merindui surga niscaya terhibur dan terlupakan dari syahwat; barangsiapa yang takut dengan neraka niscaya mundur dari hal-hal yang diharamkan; dan barangsiapa yang zuhud di dunia maka terasa ringan baginya segala musibah.” [Ar-Riqqah wal Bukā` fī Akhbār ash-Shālīhīn wa Shifātihim, Imam Ibn Qudāmah, hal. 31; Az-Zuhd, hal. 130; dan Al-Bayhaqi dalam Syu'ab Al-Īmān no. 9670] &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aun Ibn ‘Abdillah berkata, “Kedudukan dunia dan akhirat dalam hati seseorang adalah bagaikan dua sisi timbangan. Jika salah satunya sisinya menurun maka sisi lainnya terangkat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kita menjadikan untuk dunia adalah sisa dari akhirat mereka. Namun sekarang kalian justru menjadikan untuk akhirat kalian adalah sisa dari dunia kalian.” [Shifah Ash-Shafwah, vol. III, hal. 101]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Muhammad Ibn Abī ‘Imrān, ia mendengar Hātim al-Ashamm ditanya oleh seseorang, “Di atas apa engkau membangun segala urusanmu dalam hal tawakkal kepada Allah?” Hātim menjawab, “Di atas empat perkara. (1) Aku tahu rizkiku tidak akan dimakan oleh selainku, karena itu jiwaku pun tentram. (2) Aku tahu amalanku tidak akan dilakukan oleh selainku, karena itu aku pun tersibukkan dengannya. (3) Aku tahu kematian akan mendatangiku secara tiba-tiba, karena itu aku pun bersegera untuk itu. (4) Aku tahu bahwa aku tidak akan pernah terlepas dari penglihatan Allah di mana pun aku berada, karena itu aku malu kepada-Nya.” [Shifah ash-Shafwah, IV/161. Lihat pula ad-Dun-yā Zhill Zā-il, hal. 21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahya Ibn Mu’ādz berkata, “Sungguh kasihan anak Adam, sekiranya saja ia takut neraka sebagaimana ia takut kemiskinan niscaya ia akan masuk surga.” [Ihyā` 'Ulūm ad-Dīn, vol. IV, hal. 162. Lihat pula ad-Dun-yā Zhill Zā-il, hal. 25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga berkata, “Wahai anak Adam, kau meminta dunia dengan tuntutan orang-orang yang benar-benar butuh kepadanya. Namun kau meminta akhirat dengan tuntutan orang-orang yang tidak membutuhkannya. Padahal, apa yang kau dapatkan dari dunia sudah cukup meskipun kau tidak memintanya, sementara akhirat akan kau dapatkan dengan menuntut dan memintanya. Karena itu, sadarilah kondisimu.” [Shifah ash-Shafwah, vol. IV, hal. 93]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fudhayl Ibn ‘Iyādh berkata, “Rasa takut seorang hamba kepada Allah adalah sebesar tingkat keilmuannya terhadap Allah; dan tingkatan zuhudnya terhadap dunia adalah sebesar hasratnya terhadap akhirat.” [Ad-Dun-yā Zhill Zā-il, hal. 28]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika beliau ditanya, “Bagaimanakah keadaanmu?” Fudhayl menjawab, “Keadaan mana yang engkau maksud? Keadaan dunia atau keadaan akhirat? Jika engkau bertanya tentang keadaan dunia, maka dunia telah condong bersama kami dan membawa kami kemana pun ia pergi. Dan jika engkau bertanya tentang keadaan akhirat, maka bagaimanakah engkau melihat keadaan orang yang telah banyak dosanya, lemah amalannya, fana umurnya, belum memiliki bekal untuk hari kembali, belum siap menghadapi kematian, serta belum tunduk, belum berusaha dengan sungguh-sungguh dan berhias untuk kematian, namun justru berhias untuk dunia.” [Ad-Dun-yā Zhill Zā-il, hal. 37]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abū Muslim al-Khaulāni berkata, “Sekiranya aku melihat surga dengan mata kepala, maka aku tidak mempunyai bekal (untuk ke sana); dan sekiranya aku melihat neraka dengan mata kepala, aku juga tidak mempunyai bekal (untuk selamat darinya).” [Shifah ash-Shafwah, vol. IV, hal. 213; dan Siyar A'lām an-Nubalā`, vol. IV, hal. 9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Blog Ustadz Adni Kurniawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipublikasikan oleh &lt;a href="http://www.salafiyunpad.wordpress.com"&gt;www.salafiyunpad.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-2231325527623569410?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/2231325527623569410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=2231325527623569410' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/2231325527623569410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/2231325527623569410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/sepenggal-ucapan-indah-dari-salaf-nan.html' title='Sepenggal Ucapan Indah dari Salaf Nan Shalih'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-7103005538849911043</id><published>2009-11-29T20:30:00.001+07:00</published><updated>2009-11-29T20:33:24.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>[kiamat 2012] KIAMAT YANG BEGITU DEKAT, MENGAPA HARUS DIRAMAL?</title><content type='html'>Orang ramai bicara tentang kiamat,  saat kehancuran bumi yang kemudian diikuti dengan dibangkitkannya manusia kembali.  Kini semakin ramai diperbincangkan kembali.  Bukan masalah ada atau tidaknya kiamat, karena hampir semua orang percaya adanya kiamat.  Yang sedang hangat didiskusikan adalah kapan kiamat itu tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam dunia adalah salah satu fase kehidupan yang dilalui oleh manusia, suatu saat nanti  dunia ini akan berakhir dan manusia berpindah kepada fase kehidupan berikutnya yaitu alam akhirat. Akhir kehidupan dunia inilah yang disebut kiamat.  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya setiap makhluk hidup —apakah itu manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan— memiliki tanda-tanda dari akhir kesudahan hidupnya di dunia.  Tanda-tanda dekatnya kematian manusia adalah rambut beruban, tua, sakit, atau lemah. Begitu juga halnya dengan hewan, hampir sama dengan manusia.  Sementara tumbuhan warna menguning, kering, jatuh, lalu hancur. Demikian juga alam semesta, memiliki tanda-tanda akhir masanya seperti kehancuran dan kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiamat disebut juga dengan Sa’ah.   Sa’ah asalnya adalah sebagian malam atau siang.   Dikatakan juga bahwa sa’ah segala sesuatu berarti waktunya hilang dan habis.   Dari makna ini, sa’ah atau kiamat mengandung dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ah khusus bagi setiap makhluk, seperti tanaman, binatang dan manusia ketika mati; dan bagi sebuah umat jika datang ajalnya. Itu semua dikatakan telah datang saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ah umum bagi dunia secara keseluruhan ketika ditiup sangkakala, maka hancurlah segala yang di langit dan di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kiamat yang sebenarnya?  Tentu saja lebih dahsyat, lebih besar, dan lebih mengerikan.   Al-Quran banyak menyebutkan tentang kejadian di hari kiamat. Tanpa keraguan sedikit pun, kaum muslimin meyakini bahwa kiamat memang akan tiba. Kepastian terjadinya ditetapkan oleh dalil-dalil al-Quran dalam jumlah yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara dalil-dalil tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Dan sesungguhnya Sa’ah (Hari Kiamat) Itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya;  dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur.” (Al-Hajj: 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.” (Ghafir: 59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDATANGANNYA DIDAHULUI DENGAN TANDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya kiamat adalah hal yang ghaib.  Hanya Allah yang tahu. Tidak satu pun makhluk-Nya mengetahui kapan kiamat, baik para nabi maupun malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.” (Luqman:34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, ketika ditanya tentang hal ini,  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengembalikannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kepada-Nya lah dikembalikan pengetahuan tentang hari kiamat.” (Fushilat:47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah merahasiakan terjadinya hari kiamat, dan menerangkan bahwa kiamat akan datang secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah:  ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’” (Al-A’raf: 187)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata, “Firman Allah, ‘Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku;  tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia’ adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, apabila beliau ditanya tentang waktu terjadinya kiamat, hendaklah mengembalikan pengetahuan tentang itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Sesungguhnya Dialah yang menjelaskan waktu kedatangannya atau mengetahui kejelasan&lt;br /&gt;perkara itu dan kapan kepastian waktunya.’ (Tafsir Ibnu Katsir juz III hal. 518)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak diketahui, kiamat sebenarnya sudah dekat waktu kedatangannya.  Allah nyatakan di dalam al-Quran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Manusia bertanya kepadamu tentang Hari Berbangkit. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi Hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (Al-Ahzab:63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Telah dekat datangnya sa’ah itu dan telah terbelah bulan.” (Al-Qamar: 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi  Shallalahu Alaihi wa Sallam, di antaranya, pernah bersabda menyatakan betapa dekatnya waktu datangnya hari kiamat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Aku diutus, sedangkan aku dan Hari Kiamat adalah seperti ini,’ beliau menyandingkan antara jari tengah dan jari telunjuk.” (Syu’abul Iman juz VII hal 259/260 no. 10235,  menurut penulisnya hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari dari hadits Abu Hushain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim ketika Jibril datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya tentang kapan Kiamat, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Yang ditanya tentang Hari Kiamat tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.” (Shahih al-Bukhari no. 48 dan Muslim no. 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, sesungguhnya Allah dengan rahmat-Nya telah menjadikan kiamat memiliki alamat yang menunjukkan ke arah itu dan tanda-tanda yang mengantarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tanda-nya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?” (Muhammad: 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu.  Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah:  ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya kami pun menunggu (pula) (Al-An’am: 158)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda kiamat adalah alamat kiamat yang menunjukkan akan terjadinya kiamat tersebut.  Tanda-tanda kiamat ada dua: tanda-tanda kiamat besar dan tanda-tanda kiamat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif  lama, dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamr,  berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda kiamat besar adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang kemunculannya tidak biasa terjadi, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa, datangnya Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat tentang permulaan yang muncul dari tanda kiamat besar.  Tetapi Ibnu Hajar berkata, “Yang kuat dari sejumlah berita tanda-tanda kiamat, bahwa keluarnya Dajjal adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar, dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh di muka bumi. Dan diakhiri dengan wafatnya Isa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan terbitnya matahari dari barat adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar yang mengakibatkan perubahan kondisi langit. Dan berakhir dengan terjadinya kiamat.” Ibnu Hajar melanjutkan, “Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit matahari dari barat, maka tertutuplah pintu taubat.” (Fathul Bari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau kita perhatikan, sebagian tanda kiamat kecil di atas jelas sudah kita jumpai di zaman kita dewasa ini. Bahkan bila kita buka kitab para ulama yang menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai kita baca kita akan segera bergumam di dalam hati: “Wah, yang ini sudah..!” Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits.  La haula wa la quwwata illabillah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tanda-tanda kecil Kiamat sudah hampir muncul seluruhnya berarti kondisi dunia dewasa ini berada di ambang menyambut kedatangan tanda-tanda besar Kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPA BISA MERAMAL KIAMAT?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak peramal meramaikan bursa dugaan datangnya kiamat.  Isaac Newton dikabarkan meramalkan kiamat pada tahun 2060. Sebagian orang beranggapan, berdasarkan perhitungan kalander bangsa Maya.   Kiamat, menurut anggapan mereka, terjadi pada tahun 2012, tepatnya 21 ‘Desember. Wow!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti anti kiamat,  namun terlalu na’if membenarkan sebuah prediksi yang kesannya terlalu dipaksakan. Memang saat ini kita masuk kedalam zaman akhir, namun akhir zaman tetaplah sebuah misteri kepunyaan Allah. Tidak ada dalam satu agama manapun yang menyebutkan secara eksplisit kapan terjadinya kiamat dengan secara terbuka.   Semua hanyalah bersifat tanda-tanda. Kiranya dengan begitu manusia menyadari bahwa setiap hari&lt;br /&gt;bisa menjadi akhir untuk hidup mereka di dunia dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diberi sebuah wewenang untuk mengetahui kapan secara pasti hari kiamat akan terjadi. Yang terjadi saat ini adalah sebuah kesoktahuan manusia untuk berusaha memprediksi angka jadi kapan dunia ini akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan akhir penanggalan panjang suku Maya jelas itu hanya hitung-hitungan yang penuh dugaan. Tidak layak seorang muslim mempercayai ramalan semacam itu. Kalaulah benar tahun 5126 M yang bertepatan dengan tahun 2012 M adalah tahun berakhirnya penanggalan mereka yang diyakini pula dengan berakhirnya dunia maka bukanlah berarti bahwa dunia ini akan hancur (kiamat), dikarenakan menurut kosmologi suku Maya bahwa bumi diciptakan 5 kali dan dihancurkan 4 kali. Dengan demikian siklus kalender Maya boleh berakhir, namun siklus baru akan kembali berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sebagian ahli mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ‘Ramalan-ramalan itu benar-benar tidak ada dasarnya sama sekali, apalagi di kebudayaan Maya yang kita kenal,” kata Stephen Houston, profesor antropologi di Brown University, yang juga ahli tulisan hieroglif Maya. “Penggambaran bangsa Maya tidak pernah menyebut-nyebut hal ini.”katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Maya melihat bahwa tanggal tersebut adalah tanggal kalender mereka, tapi kemudian mengulang kalender mereka kembali tanpa adanya bencana sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian meramal berdasar teori planet Nibiru, bantahan yang ada dari seorang ahli di NASA mengatakan “Kami saja sampai sekarang masih berdebat soal Pluto, tiba-tiba ada orang yang mengatakan adanya planet Nibiru. Dari mana ini? Lucu sekali, kami sampai sekarang belum bisa menemukan planet lain, sudah ada yang menemukan planet Nibiru pula,&lt;br /&gt;tanpa ada konfirmasi dari mana berita itu muncul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kunci-kunci ghaib itu lima, ‘Sesungguhnya hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada didalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada yang seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (Shahih al-Bukharino.4261)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qurthubi menyebutkan pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa kelima kunci ghaib tersebut tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Hal itu juga tidak diketahui oleh para malaikat, para Nabi yang diutus.  Karena itu barang siapa yang beranggapan bahwa dirinya mengetahui sesuatu tentang itu semua, maka orang itu telah mengingkari al-Quran dikarenakan ia telah menyalahinya.  (Al-Jami’ Li Ahkamil Quran juz XIV hal. 400)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah lah yang mengetahui kebenaran hakikinya, bahkan terhadap berbagai penafsiran tentang alam semesta ini, perkembangan alam maupun kehidupan yang seluruhnya merupakan teori-teori, seperti halnya teori ledakan besar, teori ini dan itu.  Sebagaimana sebuah teori, tentu akan ada pula sebagian ilmuwan lainnya yang melakukan penyanggahan terhadapnya dengan berbagai teori lainnya dan begitulah selanjutnya.  Adapun hakikat kebenarannya di dalam permasalahan ini tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah Azza wa Jalla, sebagaimana disebutkan didalam Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas mengapa sebagian kita percaya dengan ramalan tersebut bahkan merasa harus menguatkan dengan uthak-athik dalil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;========&lt;br /&gt;disalin dari Majalah Fatawa, Vol. V / No.11 Dzulhijjah 1430-November 2009, hal. 8-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://jilbab.or.id"&gt;Jilbab Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-7103005538849911043?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/7103005538849911043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=7103005538849911043' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/7103005538849911043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/7103005538849911043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/kiamat-2012-kiamat-yang-begitu-dekat.html' title='[kiamat 2012] KIAMAT YANG BEGITU DEKAT, MENGAPA HARUS DIRAMAL?'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-4320656158516940315</id><published>2009-11-29T20:16:00.000+07:00</published><updated>2009-11-29T20:19:20.541+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idul Adha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Qurban'/><title type='text'>Hukum Seputar Penyembelihan Qurban</title><content type='html'>Oleh Al Ustadz Hammad Abu Muawiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahkam Al-Udhhiyah (Sembelihan Kurban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Udhhiyah:&lt;br /&gt;Udhhiyah adalan nama hewan yang akan disembelih, yaitu hewan tertentu yang dikhususkan untuk disembelih dengan niat taqarrub kepada Allah yang dilakukan pada waktu tertentu -yaitu pada tanggal 10 Zulhijjah dan ketiga hari tasyriq-, dengan syarat-syarat tertentu pula. Lihat: Tanwir Al-Ainain hal. 314 &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukumnya:&lt;br /&gt;Kaum muslimin sepakat akan disyariatkannya berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34)&lt;br /&gt;Mereka hanya berbeda pendapat apakah hukumnya wajib ataukah sunnah?&lt;br /&gt;Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu hukumnya sunnah. Ini adalah pendapat Abu Bakar, Umar, Abu Mas’ud Al-Badri, Bilal, Suwaid bin Ghaflah, Said bin Al-Musayyab, Asy-Sya’bi, Said bin Jubair, Al-Hasan, Thawus, Jabir bin Zaid, Abu Asy-Sya’tsa`, Muhammad bin Ali bin Al-Husain, Alqamah, Al-Aswad, Atha`, Sufyan, Abdullah bin Al-Hasan, Abu Yusuf, Malik, Asy-Syafi’i, Al-Muzani Ahmad, Abu Sulaiman Daud bin Ali, Ishaq, Abu Tsaur, Daud, dan Ibnu Al-Mundzir. Lihat Al-Mughni (11/94), Al-Majmu’ (8/385) dan Al-Muhalla (7/358).&lt;br /&gt;Mereka berdalil dengan beberapa dalil di antaranya:&lt;br /&gt;1.    Hadits yang shahih dari seluruh jalan-jalannya dimana disebutkan bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- menyembelih dua ekor domba: Salah satunya untuk beliau dan keluarga beliau dan yang satunya untuk umat beliau. Datang dari hadits Jabir riwayat Abu Daud (2795,2810), At-Tirmizi (1521), Ibnu Majah (3121), Ahmad (3/356,362,375) dan selainnya, juga datang dari hadits Ibnu Umar riwayat At-Tirmizi (1506) dan Ibnu Majah (3124), juga dari hadits Abu Rafi’ riwayat Al-Hakim (4/229) dan selainnya, juga hadits Abu Thalhah riwayat Ibnu Abi Syaibah, sebagaimana dalam Al-Mathalib (2323), juga hadits Aisyah riwayat Abu Daud (2792), Ahmad (6/78), dan selainnya, dan juga dari hadits Abu Said riwayat Al-Hakim (4/228) dan selainnya.&lt;br /&gt;Sisi pendalilannya: Barangsiapa di antara umat beliau yang tidak menyembelih maka sembelihan beliau sudah mencukupinya. Ini menunjukkan umat beliau sudah tidak wajib lagi untuk menunaikan udhhiyah, tapi tetap disunnahkan. Demikian disebutkan dalam Syarh Az-Zarkasyi (8/386)&lt;br /&gt;2.    Hadits Ummu Salamah, bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:&lt;br /&gt;إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ, فَلاَ يَمُسَّ مِنْ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا&lt;br /&gt;“Jika sepuluh hari pertama Zulhijjah telah masuk dan salah seorang di antara kalian ingin menyembelih maka jangan dia mencabut rambut dan kulitnya sedikitpun.” (HR. Muslim no. 1977 dan selainnya)&lt;br /&gt;Sisi pendalilan: Beliau mengaitkan hukum udhhiyah dengan keinginan seseorang dan ini menunjukkan sunnahnya, karena pelaksanaan sebuah kewajiban tidaklah ditentukan oleh keinginan hamba.&lt;br /&gt;Adapun dalil-dalil yang memerintahkan udhhiyah maka: Ada yang tidak shahih, ada yang shahih tapi tidak tegas menunjukkan wajibnya, dan ada yang shahih dan tegas memerintahkan akan tetapi perintahnya dipalingkan kepada makna sunnah dengan kedua dalil di atas, wallahu a’lam.&lt;br /&gt;[Lihat Al-Mughni (11/94) dan Al-Muhalla (7/355-358)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana yang Afdhal, Udhhiyah atau Bersedekah Dengan Harganya (Uang)?&lt;br /&gt;Udhhiyah lebih afdhal karena itulah yang dikerjakan oleh Rasululah -alaihishshalatu wassalam- dan kaum muslimin sepeninggal beliau. Ini adalah pendapat Rabiah guru Imam Malik, Abu Az-Zinad, Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan selainnya.&lt;br /&gt;Hanya saja Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata, “Jika kaum muslimin terdesak sehingga mereka sangat membutuhkan sedekah, maka dalam keadaan seperti bersedekah lebih afdhal.” (Asy-Syarhul Mumti: 7/521-522)&lt;br /&gt;[Lihat: Al-Majmu’ (8/425) dan Al-Mughni (11/95)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan Apa yang Disembelih?&lt;br /&gt;Para ulama sepakat bahwa yang disembelih adalah bahimah al-an’am (hewan ternak) berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 28) dan ayat 34 di atas.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan ‘bahimah’ di sini adalah: Onta, sapi/kerbau, dan kambing/domba/biri-biri. Maka tidak termasuk darinya: Rusa/kijang, kuda, itik, ayam, burung, dan selainnya selain ketiga hewan di atas.&lt;br /&gt;Kata ‘al-an’am’ artinya hewan yang diternakkan, maka dikecualikan darinya semua hewan yang tidak diternakkan atau hewan liar, walaupun dia berupa sapi atau kambing.&lt;br /&gt;Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai keabsahan udhhiyah pada selain bahimah al-an’am. Mayoritas ulama berpendapat tidak syahnya udhhiyah selain dari ketiga hewan di atas. Inilah pendapat yang kuat yang merupakan pendapat Imam Empat kecuali Imam Ahmad. Maka yang boleh disembelih hanyalah onta ternak (bukan yang liar) dengan semua jenisnya, sapi/kerbau ternak dengan semua jenisnya, dan kambing ternak dengan semua jenisnya, tidak syah dengan selain ketiga hewan ternak ini. Karenanya tidak pernah ternukil dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- dan para sahabat mereka pernah menyembelih selain ketiga hewan ini.&lt;br /&gt;[Lihat: Al-Majmu’ (8/393), Badai’ Ash-Shanai’ (5/104), dan Al-Muhalla (7/370)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udhhiyah yang afdhal.&lt;br /&gt;Yang paling afdhal adalah yang lebih mahal dan lebih berharga bagi pemiliknya. Karenanya menyembelih onta lebih afdhal daripada sapi dan sapi lebih utama daripada kambing. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Hanya saja ini berlaku jika satu onta atau sapi mewakili satu orang, adapun jika satu ekor onta atau sapi untuk tujuh orang sedang kambing untuk satu orang, maka yang lebih utama adalah satu kambing untuk satu orang.&lt;br /&gt;Kesimpulannya: Yang terbaik adalah onta kemudian sapi kemudian kambing kemudian stau onta untuk tujuh orang kemudian satu sapi untuk tujuh orang. Yang jantan afdhal dari yang betina, yang gemuk afdhal dari yang kurus, dan yang bertanduk afdhal dari yang tidak. Lihat Al-Muhalla (7/372)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Hukum Seputar Udhhiyah&lt;br /&gt;a.    Tidak boleh menjual kulitnya, bulunya, susunya, dan dagingnya.&lt;br /&gt;Ibnu Rusyd berkata, “Para ulama sepakat -sepanjang pengetahuan saya- akan tidak bolehnya menjual dagingnya. Mereka berbeda pendapat mengenai kulitnya, bulunya, dan bagian lainnya yang bisa dianfaatkan (apakah bisa dijual)? Mayoritas ulama berpendapat tidak bolehnya.” Selesai yang diinginkan dari As-Subul (4/177)&lt;br /&gt;Kami katakan: Khusus untuk kulitnya, jika dia menjualnya maka hasil penjualannya harus dia sedekahkan, wallahu a’lam.&lt;br /&gt;[Lihat: Al-Umm (2/351) dan Al-Majmu’ (8/419-420)]&lt;br /&gt;b.     Hukum mengganti hewan udhhiyah.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’ (7/509) menguatkan pendapat mayoritas ulama yang berpendapat bolehnya mengganti udhhiyah dengan yang lebih baik daripada sebelumnya. Tidak boleh menggantinya dengan yang lebih rendah nilainya, sedangkan menggantinya dengan yang semisalnya adalah perbuatan sia-sia.&lt;br /&gt;c.    Tidak boleh memberi upah kepada tukang potong/sembelih dengan daging udhhiyah. Ini berdasarkan hadits Ali -radhiallahu anhu- beliau berkata:&lt;br /&gt;وَأَمَرَنِي أَنْ لاَ أُعْطِيَ الجَزُوْرَ مِنْهَا شَيْئًا وَقَالَ: نَحْنُ نُعْطِيْهِ مِنْ عِنْدِنَا&lt;br /&gt;“Dan beliau memerintahkan saya untuk tidak memberikan dagingnya sedikitpun kepada tukang potong dan beliau bersabda, “Kami akan memberikan upahnya dari harta kami.” (HR. Mslim no. 1317)&lt;br /&gt;Tapi jika dia adalah orang miskin maka tidak mengapa memberikan daging udhhiyah disamping dia juga berhak menerima upah pekerjaannya.&lt;br /&gt;d.    Jika dia sudah membeli dan menetapkan mana hewan udhhiyahnya, lalu dia kembali menjualnya maka Imam Asy-Syafi’i menyatakan kalau jual belinya tidak syah dan dia harus menarik kembali udhhiyah tersebut dan mengembalikan uang kepada pembelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Aib/Cacat Pada Udhhiyah&lt;br /&gt;Al-Barra` bin Azib berkata, “Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- ditanya tentang hewan yang harus dijauhi dalam udhhiyah. Maka beliau menjawab:&lt;br /&gt;أَرْبَعًا: اَلْعُرْجَاءَ الْبَيِّنَ ضَلْعُهَا, وَالْعَوْرَاءَ الْبَيِّنُ عَوْرُهَا, وَالْمَرِيْضَ الْبَيِّنَ مَرَضُهَا, وَالْعُجْفَاءَ الَّتِى لاَ تَنْقَى&lt;br /&gt;“Ada empat: Pincang yang jelas kepincangannya, aura` (rusak sebelah matanya) yang jelas a’warnya, sakit yang jelas sakitnya, dan kurus yang tidak mempunyai sum-sum.” (HR. Abu Daud no. 2802, At-Tirmizi no. 1497, An-Nasai no. 4369-4371, dan Ibnu Majah no. 3144)&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qudamah menukil ijma’ dalam Al-Mughni (11/100) akan tidak syahnya udhhiyah yang mempunyai salah satu dari cacat di atas.&lt;br /&gt;a.    Yang dimaksud dengan pincang di sini adalah kepincangan yang parah lagi jelas sehingga dia tidak bisa menyusul teman-temannya menuju makanan, yang menyebabkan dagingnya/berat badannya berkurang. Jika kepincangannya tidak sampai pada keadaan di atas maka syah menyembelih dengannya. (Al-Mughni: 11/100)&lt;br /&gt;b.    Yang dimaksud dengan a’war di sini adalah kerusakan yang nampak/kentara pada salah satu atau kedua matanya. Adapun jika salah satu matanya tidak melihat akan tetapi matanya kelihatan normal/tidak ada kelainan pada bentuknya, maka tidak mengapa menyembelihnya, demikian pula jika pada matanya ada sesuatu yang putih akan tetapi tidak menghilangkan penglihatannya maka syah menyembelihnya. Dari sini dipetik lebih tidak bolehnya menyembelih hewan yang hilang biji matanya dan tidak pula hewan yang buta. (Al-Mughni: 11/100-101)&lt;br /&gt;c.    Yang dimaksud dengan sakit di sini adalah penyakit yang menyebabkan dagingnya rusak atau berkurang dan menyebabkan harganya kurang dari yang semestinya. Misalnya: Perutnya membengkak karena tidak bisa buang angin dan buang air, gila, gugurnya gigi karena penyakit dan mengganggu makannya, yang terpotong/tidak ada sebagian anggota tubuhnya. (Al-Mughni: 11/101-102, Mughni Al-Muhtaj: 6/129, Al-Muhalla: 7/358, Asy-Syarhul Mumti’: 7/476, dan Al-Majmu’: 8/401-402)&lt;br /&gt;d.    Yang terakhir adalah hewan yang tidak memiliki sum-sum di dalam tulangnya sehingga membuat tubuhnya sangat kurus. (Al-Mughni: 11/100)&lt;br /&gt;Kesimpulannya sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Qadhi Abdul Wahhab Al-Baghdadi dalam Al-Ma’unah (1/662), “Inti permasalahan ini adalah bahwa semua cacat yang mengakibatkan kurangnya daging atau mempengaruhinya, atau dia berupa penyakit, atau mengurangi postur fisiknya, maka cacat itu menjadi penghalang untuk menyembelihnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[bersambung insya Allah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://al-atsariyyah.com/?p=1188"&gt;http://al-atsariyyah.com/?p=1188&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-4320656158516940315?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/4320656158516940315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=4320656158516940315' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/4320656158516940315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/4320656158516940315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/hukum-seputar-penyembelihan-qurban.html' title='Hukum Seputar Penyembelihan Qurban'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-7023955572895369966</id><published>2009-11-28T13:51:00.001+07:00</published><updated>2009-11-28T13:53:55.253+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Prediksi Kiamat 2012, Benarkah?</title><content type='html'>At Tauhid edisi V/45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sejak dua tahun yang lalu isu kiamat ini muncul. Apalagi belakangan ini semakin mencuat karena boomingnya film yang menceritakan ramalan tersebut. Mereka yang percaya bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012, mendasarkan kepercayaan mereka pada kalender yang dibuat oleh suku Maya, yang ditemukan di reruntuhan di Meksiko. Masyarakat Maya Kuno, yang dikenal maju ilmu matematika dan astronominya, mengikuti “perhitungan panjang” kalender yang mencapai 5126 tahun. Ketika peta astronomi mereka dipindahkan ke kalender Gregorian, yang digunakan secara standar sekarang, waktu perhitungan bangsa Maya berhenti pada 21 Desember 2012. Mereka yang percaya juga mengatakan adanya hubungan lain selain antara kalender maya dan kehancuran yang akan datang. Matahari akan terhubung lurus dengan pusat Tata Surya pertama kalinya semenjak 26000 tahun yang lalu, yang menandai puncak musim dingin. Beberapa orang mengatakan hal ini akan mempengaruhi aliran energi ke bumi, atau karena adanya sunspot dan sunflare yang jumlahnya membengkak, menyebabkan adanya efek terhadap medan magnet bumi. Tukang ramal Indonesia, Mama Lauren pun sempat angkat bicara di transTV bahwa paranormal tidak bisa menembus tahun 2013 (hanya mentok di 2012). Apakah betul prediksi kiamat 2012? Apakah ada yang tahu kapan terjadinya kiamat? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hancurnya Dunia Memang Semakin Dekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur’an telah menjelaskan bahwa hari kiamat benar-benar akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu.” (QS. Ar Ra’du: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda semakin dekatnya kiamat, sudah muncul semenjak diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara tandanya ada yang sudah terjadi. Seperti terbelahnya bulan di zaman Nabi (Lihat QS. Al Qamar: 1 dan HR. Bukhari no. 4864). Juga ada tanda yang akan bermunculan dan berulang hingga hari kiamat. Seperti keadaan banyak wanita yang berpakaian tetapi telanjang (pakaian ketat dan mengumbar aurat) (HR. Muslim no. 2128) dan munculnya beberapa orang yang mengaku sebagai Nabi (HR. Bukhari no. 3609 dan Muslim no. 157). Inilah berbagai kejadian yang menandakan semakin dekat hancurnya dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengisyaratkan jarak waktu umat ini dengan hari kiamat dengan sabda beliau, “Jarak antara aku diutus dengan datangnya hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini.” Beliau pun berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya (HR. Bukhari no. 6504 dan Muslim no. 2951, dari Anas bin Malik). Gambarannya, jari tengah itu adalah umur kehidupan di dunia ini hingga hari kiamat. Sedangkan jari telunjuk adalah lamanya waktu mulai dunia ini ada hingga pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun jarak pengutusan Nabi kita dengan hari kiamat adalah selisih antara jari tengah dan jari telunjuk. Bandingkanlah umur dunia ini hingga Nabi kita diutus dengan masa setelah Nabi diutus hingga hari kiamat! Jika kita bandingkan, waktu terjadinya kiamat itu sangatlah dekat dengan umat Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia mungkin merasakan kiamat itu masih sangat lama. Namun itulah pemikiran dan pandangan manusia yang dangkal. “Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya.” (QS. An Nahl: 1) “Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi).” (QS. An Nahl: 77) (Lihat keterangan Dr. Sulaiman Al Asyqor dalam kitab beliau “Al Yaumul Akhir: Al Qiyamah Ash Shughro”, hal. 115-117, terbitan Daarun Nafa-is, cetakan keempat, 1411 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Sendiri Tidak Tahu Kapan Datangnya Kiamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam wujud seorang Arab Badui, beliau ditanya mengenai kapan hari kiamat terjadi. Lantas beliau menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” (HR. Bukhari no. 50 dan Muslim no. 9, 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat mengherankan yang terjadi saat ini. Sebagian orang atau tukang ramal (yang sudah pasti suka berdusta), ada yang bisa memprediksi kapan terjadinya kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mengetahui terjadinya hari kiamat, padahal beliau adalah orang yang paling dekat dengan Allah. Begitu pula malaikat Jibril selaku penyampai wahyu dari Allah juga tidak mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Jika Nabi yang paling mulia dan malaikat yang mulia saja tidak mengetahui tanggal, bulan atau tahun terjadinya hari kiamat, sudah sepantasnya orang selain keduanya tidak mengetahui hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan pula bahwa waktu terjadinya hari kiamat termasuk perkara ghoib dan menjadi kekhususan Allah yang mengetahuinya. Sehingga sungguh sangat dusta jika beberapa paranormal (yang sebenarnya tidak normal) bisa menentukan waktu tersebut, baik Mama Laurent, suku Maya di Meksiko atau pun yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah”. Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. Al Ahzab: 63). Ayat ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa tidak satu pun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, tidak ada yang mengetahui waktunya selain Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengetahui karena waktu tersebut termasuk di antara mafaatihul ghoib (kunci-kunci ilmu ghoib) yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. (Lihat QS. Luqman: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi prediksi kiamat 2012 berasal dari orang kafir. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat: 6). Jika orang fasiq (yang suka maksiat) dari kalangan kaum muslimin membawa berita, perlu kita kroscek ulang atau cari kejelesan. Lalu bagaimana lagi dengan berita orang kafir yang melakukan kefasiqan yang besar?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, Kiamat Terjadi Tanpa Melalui Tanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia hancur begitu saja tanpa melalui tanda-tanda kiamat terlebih dahulu. Itulah yang diangkat dalam ramalan tersebut dan film yang lagi booming saat ini. Sungguh hal ini berseberangan jauh dengan aqidah yang harus diyakini seorang muslim. Seharusnya kiamat datang melalui tanda-tanda terlebih dahulu. Ada tanda kiamat shugro (kiamat kecil) yang pernah terjadi, ada tanda yang terus berulang dan ada tanda kiamat kubro (kiamat besar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara tanda kiamat kubro disebutkan dalam hadits Hudzaifah bin Asid Al Ghifariy, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan kami ketika berbincang-bincang. Beliau berkata, ‘Apa yang sedang kalian perbincangkan?’ Kami menjawab, ‘Kami sedang berbincang-bincang tentang hari kiamat.’ Beliau berkata, ‘Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sepuluh tanda.’ Beliau menyebutkan, ’[1] Dukhan (asap), [2] Dajjal, [3] Daabah, [4] terbitnya matahari dari barat, [5] turunnya Isa ‘alaihis salam, [6] keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, [7,8,9] terjadinya tiga gerhana yaitu di timur, barat dan di jazirah Arab, yang terakhir adalah [10] keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat berkumpulnya mereka’.” (HR. Muslim no. 2901) Nabi ‘Isa sendiri turun kembali ke muka bumi dan beliau akan tinggal selama 40 tahun (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Nabi Isa akan membunuh Dajjal (HR. Muslim no. 2940), menghancurkan salib dan membunuh babi (HR. Bukhari no. 2222 dan Muslim no. 155). Tanda kiamat yang disebutkan dalam hadits lainnya adalah datangnya Imam Mahdi dan beliau akan berkuasa selama 7 atau 8 tahun (Riwayat ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah Al Mukhtashoroh no. 711). Dari sini, mungkinkah kiamat terjadi tahun 2012 sementara tanda-tandanya saja belum muncul?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi Kiamat Tidak Ada yang Tepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sejak dulu banyak orang yang mengklaim terjadinya kiamat pada tanggal-tanggal tertentu. Anehnya lagi yang dipilih adalah angka-angka cantik layaknya memilih angka menarik ketika beli voucher perdana. Dulu ada yang meramalkan bahwa kiamat akan terjadi tanggal 19 September 1990 (19-9-1990) dan 9 September 1999 (9-9-1999). Namun ternyata prediksi yang ada ternyata keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ulama masa silam, memang ada yang sempat membicarakan waktu kapan terjadinya kiamat bahkan mereka memiliki kitab tersendiri yang membahas hal itu, di antaranya adalah Imam As Suyuthi. Begitu pula As Suhailiy memprediksi datangnya hari kiamat dengan menghitung-hitung huruf muqoto’ah (seperti alif laam miim dan haamiim) yang berada di awal-awal surat dalam Al Qur’an. Beliau memprediksikan bahwa kiamat akan terjadi 703 tahun setelah diutusnya Nabi (Lihat ‘Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, Badaruddin Al ‘Ainiy Al Hanafiy, 7/424, Multaqo Ahlil Hadits, Asy Syamilah). Begitu pula yang belakangan meneliti hal serupa adalah Dr. Baha’i. Beliau mengklaim bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 1710 H. Beliau melakukan perhitungan dari huruf-huruf muqotho’ah yang terdapat di awal-awal surat sebagaimana yang dilakukan sebelumnya oleh As Suhailiy. Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor pun membantah pernyataan Dr. Baha’i, “Ini adalah suatu metode yang benar-benar keliru. Orang-orang sebelum dia ada yang menggunakan metode yang sama melalui hitungan huruf-huruf muqhoto’ah. Namun hasil perhitungan orang-orang sebelum Dr. Baha’i tidaklah sama dengannya. Mereka memiliki cara perhitungan yang sama, tetapi hasil perhitungannya jauh berbeda. Inilah yang menunjukkan kelirunya cara mereka dan menunjukkan pula tidak terbuktinya penelitian mereka.” (Disarikan dari “Al Yaumul Akhir: Al Qiyamah Ash Shughro”, hal 121-126)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun memiliki bantahan terhadap orang-orang semacam Dr. Baha’i dan yang sepemikiran dengannya. Beliau mengatakan, “Siapa saja yang menyibukkan diri memprediksikan terjadinya kiamat pada tahun tertentu; di antaranya yang menulis kitab “Ad Durro Al Munazzom Fii Ma’rifati Al A’zhom” (dalam kitab tersebut disebutkan sepuluh dalil yang menunjukkan kapan terjadinya kiamat), begitu pula ada yang memprediksi dalam kitab “Huruful Mu’jam”, atau dalam kitab ‘Anqo’ Mughrib, atau orang-orang lain yang melakukan prediksi yang sama; walaupun itu dianggap suatu hal yang menakjubkan oleh pengikutnya, namun perlu diketahui bahwa mayoritas mereka adalah pendusta, yang telah tertipu, dan telah terbukti bahwa mereka hanya berbicara tanpa dasar ilmu. Sungguh mereka telah mengklaim dan mengungkap suatu yang ghoib tanpa dasar ilmu sama sekali. Padahal Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui“.” (QS.Al A’rof: 33) (Majmu’ Al Fatawa, 4/342)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor mengatakan, “Semestinya yang dilakukan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan para ulama umat ini dalam sejarah. Seandainya membicarakan kapan terjadinya kiamat adalah suatu kebaikan untuk manusia, tentu Allah Ta’ala akan memberitahukannya kepada mereka. Akan tetapi, Allah sendiri tidak memberitahukan hal tersebut. Maka inilah yang terbaik bagi mereka.” (Al Qiyamah Ash Shugro, hal. 122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih Ada Kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun belum muncul beberapa tanda kiamat kubro, namun ada kematian yang pasti akan menghampiri setiap insan. Walaupun tidak menemui tanda kiamat kubro, setiap orang pasti akan merasakan kematian cepat ataupun lambat. Tidak ada seorang pun yang bisa lari dari yang namanya maut. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.” (QS. Al Jumu’ah: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian (maut) adalah benar adanya. “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaaf: 19). Sehingga pantaskah terbetik untuk menunda-nunda beriman dan beramal sholih. Sungguh, hanya orang yang hatinya tertutup dengan kelamnya maksiat yang tidak mau memperhatikan hal ini. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf: 37). Hanya Allah yang memberi taufik. &lt;br /&gt;[Muhammad Abduh Tuasikal]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://buletin.muslim.or.id"&gt;Buletin At-Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-7023955572895369966?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/7023955572895369966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=7023955572895369966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/7023955572895369966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/7023955572895369966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/prediksi-kiamat-2012-benarkah.html' title='Prediksi Kiamat 2012, Benarkah?'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-8182558883766468606</id><published>2009-11-18T13:41:00.002+07:00</published><updated>2009-11-18T14:00:15.347+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibadah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Qurban'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dzulhijjah'/><title type='text'>Keutamaan Amal Shaleh Pada Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijjah</title><content type='html'>Oleh Ustadz Abdullah Taslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal shaleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.”[1] &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan beramal shaleh pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, Imam an-Nawawi dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin[2] mencantumkan hadits ini pada bab: Keutamaan ibadah puasa dan (ibadah-ibadah) lainnya pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Allah melebihkan keutamaan zaman/waktu tertentu di atas zaman/waktu lainnya, dan Dia mensyariatkan padanya ibadah dan amal shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya[3].&lt;br /&gt;   2. Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Ta’ala sampai bersumpah dengannya dalam firman-Nya: وَلَيَالٍ عَشْرٍ  “Dan demi malam yang sepuluh.” (Qs. al-Fajr: 2). Yaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab[4], [serta menjadi pendapat mayoritas ulama].&lt;br /&gt;   3. Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”[5]&lt;br /&gt;   4. Amal shaleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk shalat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan sebagainya.[6]&lt;br /&gt;   5. Termasuk amal shaleh yang paling dianjurkan pada waktu ini adalah berpuasa pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)[7], bagi yang tidak sedang melakukan ibadah haji[8], karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya tentang puasa pada hari ‘arafah, beliau bersabda, أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ “Aku berharap kepada Allah puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu dan tahun berikutnya.”[9]&lt;br /&gt;   6. Khusus untuk puasa, ada larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya pada tanggal 10 Dzulhijjah[10], maka ini termasuk pengecualian.&lt;br /&gt;   7. Dalam hadits ini juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa berjihad di jalan Allah Ta’ala adalah termasuk amal yang paling utama[11].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, Lc.&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] HSR al-Bukhari (no. 926), Abu Dawud (no. 2438), at-Tirmidzi (no. 757) dan Ibnu Majah (no. 1727), dan ini lafazh Abu Dawud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] 2/382- Bahjatun Naazhirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Latha-iful Ma’aarif (hal. 19-20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Lihat Tafsir Ibnu Katsir (4/651) dan Latha-iful Ma’aarif (hal. 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Fathul Baari (2/460).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhis Shalihin (3/411).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam as-Syarhul Mumti’ (3/102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa pada hari itu ketika melakukan ibadah haji, sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1887) dan Muslim (no. 123). Lihat kitab Zaadul Ma’ad (2/73).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] HSR Muslim (no. 1162).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 1889) dan Muslim (no. 1137).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Lihat Syarhu Riyadhis Shalihin (3/411).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://salafiyunpad.wordpress.com"&gt;salafiyunpad.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-8182558883766468606?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/8182558883766468606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=8182558883766468606' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/8182558883766468606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/8182558883766468606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/keutamaan-amal-shaleh-pada-sepuluh-hari.html' title='Keutamaan Amal Shaleh Pada Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijjah'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-3141040249509956828</id><published>2009-11-18T13:16:00.001+07:00</published><updated>2009-11-18T13:24:19.908+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>Download Audio: Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah dan Hukum Qurban (Ust. Aris Abu Sulaiman) [NEW]</title><content type='html'>Alhamdulillah, saudaraku -semoga dirahmati Allah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;silakan download rekaman kajian bersama Al Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiantoro hafizhahullah (Murid Syaikh Utsaimin dan Mudir Ma’had Al ukhuwah) di Masjid Syaikh Utsaimin di Ma’had Al ukhuwah, Sukoharjo pada tanggal 15 november 2009. kajian ini mengambil tema Keutamaan 10 Hari Dzulhijjah dan Hukum Qurban. Semoga kajian ini bermanfaat dan dapat menambah ilmu kita.  &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Download disini &lt;br /&gt;&lt;a href="http://salafiyunpad.wordpress.com"&gt;salafiyunpad.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-3141040249509956828?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/3141040249509956828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=3141040249509956828' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/3141040249509956828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/3141040249509956828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/download-audio-keutamaan-10-hari.html' title='Download Audio: Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah dan Hukum Qurban (Ust. Aris Abu Sulaiman) [NEW]'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-826568586159776228</id><published>2009-11-18T13:13:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T13:15:48.123+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlaq'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasihat'/><title type='text'>Kemuliaan Qana’ah</title><content type='html'>Oleh Ummu ‘Athiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wa ta’ala telah menciptakan kematian dan kehidupan ini, untuk menguji siapa diantara hambanya yang terbaik amalnya, hal ini telah Allah sebutkan dalam kitabnya yang agung dalam surat Al Mulk ayat 2:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ َوالْحَيَوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أيُّكُمْ أحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun makna ayat ini, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al Hafidz Ibnu Katsier dalam tafsirnya bahwa “Allah telah menciptakan seluruh makhluk ini dari ketiadaan, untuk menguji jin dan manusia, siapakah diantara mereka yang paling baik amalnya.” Kalau demikian apakah kita akan terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia dan lupa memperbaiki amal-amal kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah membawakan sebuah hadits yang terdapat dalam Shahih Muslim dan yang lainnya, riwayat Al-Miswar bin Syaddad tentang perumpamaan dunia dan akhirat. Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا الدُّنْيَا فِيْ اْلاَخِرَةِ إلاَّ كَمِثْْلِ مَا يَجْعَلُ أحَدُكُمْ إصْبَعَهُ فِيْ الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia ini dibanding akhirat tiada lain hanyalah seperti jika seseorang diantara kalian mencelupkan jarinya ke lautan, maka hendaklah dia melihat air yang menempel di jarinya setelah dia menariknya kembali.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan tentang hakekat dunia juga disebutkan oleh Abul-Ala’, dia berkata: “Aku pernah bermimpi melihat seorang wanita tua renta yang badannya ditempeli dengan berbagai macam perhiasan. Sementara orang-orang berkerumun di sekelilingnya dalam keadaan terpesona, memandang ke arahnya, Aku bertanya, “Siapa engkau ini?” Wanita tua itu menjawab, “Apakah engkau tidak mengenalku?” “Tidak,” jawabku “Aku adalah dunia,” jawabnya. “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu,” kataku. Dia berkata, “Kalau memang engkau ingin terlindung dari kejahatanku, maka bencilah dirham (uang).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah telah menjadikan bumi ini sebagai tempat tinggal bagi kita selaku hamba Allah. Dan apa yang ada diatas bumi ini seperti pakaian, makanan, minuman, pernikahan dan lain-lain merupakan santapan bagi kendaraan badan kita yang sedang berjalan kepada Allah. Barangiapa di antara manusia yang memanfaatkan semua itu menurut kemaslahatannya dan sesuai dengan yang diperintahkan Allah maka itu adalah perbuatan yang terpuji. Dan barangsiapa yang memanfaatkannya melebihi apa yang dia butuhkan karena tuntutan kerakusan dan ketamakan maka dia pantas untuk dicela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai hamba Allah, setelah kita mengetahui hakekat dunia dan bagaimana seharusnya kita bersikap dengan dunia ini, akankah kita tetap akan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan kita jadikan harta tersebut sebagai tujuan hidup kita???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suri tauladan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus bersikap terhadap harta, yaitu menyikapi harta dengan sikap qana’ah (kepuasan dan kerelaan). Sikap qana’ah ini seharusnya dimiliki oleh orang yang kaya maupuan orang yang miskin adapun wujud qana’ah yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, tidak iri melihat apa yang ada di tangan orang lain dan tidak rakus mencari harta benda dengan menghalalkan semua cara, sehingga dengan semua itu akan melahirkan rasa puas dengan apa yang sekedar dibutuhkan. Tentang sikap qana’ah, Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan hadits dalam Shahih Muslim dan yang lainnya, dari Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقُ كَفَا فًا، وَ قَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rizki yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai saudariku sesungguhnya di dalam qana’ah itu ada kemuliaan dan ketentraman hati karena sudah merasa tercukupi, ada kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang syubhat dan yang melebihi kebutuhan pokoknya, yang semua itu akan mendatangkan pahala di akhirat. Dan sesungguhnya dalam kerakusan dan ketamakan itu ada kehinaan dan kesusahan karena dia tidak pernah merasa puas dan cukup terhadap pemberian Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan qana’ah yang dapat kita lakukan misalnya puas terhadap makanan yang ada, meskipun sedikit laku pauknya, dan cukup dengan beberapa lembar pakaian untuk menutup aurat kita. Maka hendaklah dalam masalah keduniaan kita melihat orang yang di bawah kita, dan dalam masalah kehidupan akhirat kita melihat orang yang di atas kita. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan Rasulullah dalam hadits yang artinya: “Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap qana’ah ini hendaklah kita lakukan dalam setiap kondisi, baik ketika kita kehilangan harta maupun ketika mendapatkan harta. Barangsiapa yang mendapatkan harta maka haruslah diikuti dengan sikap murah hati, dermawan, menafkahkan kepada orang lain dan berbuat kebajikan. Marilah kita tengok kedermawanan dan kemurahan hati Rasulullah: Telah diriwayatkan dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa beliau adalah orang yang lebih cepat untuk berbuat baik daripada angin yang berhembus. Selagi beliau diminta sesuatu, maka sekali pun tidak pernah beliau menjawab. “Tidak” Suatu ketika ada seseorang meminta kepada beliau. Maka beliau memberinya sekumpulan domba yang digembala di antara dua bukit. Lalu orang itu menemui kaumnya dan berkata kepada mereka: “Wahai semua kaumku, masuklah Islam! Karena Muhammad memberikan hadiah tanpa merasa takut miskin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah sungguh indah pahala yang Allah janjikan terhadap hambaNya yang memiliki sikap qana’ah, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar kita di anugrahi sikap qana’ah dan dijauhkan dari sikap kikir dan bakhil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ إنِّي أعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَ الْحَزَنِ،وَ الْعَجْزِ وَ الْكَسَلِ،وَالْبُخْلِ وَ الْجُبْنِ،وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَ غَلبَةِالرِّجَالِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (bahaya) rasa gundah gulana dan kesedihan, (rasa) lemah dan malas, (rasa) bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penguasaan orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللّهمّ قنّعني بما رزقتني و با رك لي فيه ، و ا خلف على كلّ غا ئبة لي بخير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qona’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah engkau rizkikan kepadaku, dan berikanlah berkah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan lebih baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Hisnul Muslim min Udzkuril Kitaabi wa Sunnati oleh Sa’id Bin Wahf Al-Qahthani&lt;br /&gt;   2. Terjemah Minhajul Qashidin; “Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk”&lt;br /&gt;   3. Terjemah Tafsir Ibnu Katsier terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i&lt;br /&gt;   4. Do’a &amp; Wirid Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah- Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawwas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diringkas oleh: Ummu ‘Athiyah&lt;br /&gt;Dimuroja’ah oleh: Ustadz Abu Salman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disalin dari artikel www.muslimah.or.id dan dipublikasikan kembali oleh &lt;a href="http://salafiyunpad.wordpress.com"&gt;www.salafiyunpad.wordpress.com &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-826568586159776228?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/826568586159776228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=826568586159776228' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/826568586159776228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/826568586159776228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/kemuliaan-qanaah.html' title='Kemuliaan Qana’ah'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-46504237549707689</id><published>2009-11-18T12:59:00.001+07:00</published><updated>2009-11-18T13:03:03.110+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idul Adha'/><title type='text'>Meraih Limpahan Pahala di Awal Dzulhijah</title><content type='html'>At Tauhid edisi V/44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai macam nikmat, kita pun diberi anugerah akan berjumpa dengan bulan Dzulhijah. Berikut kami akan menjelasakan keutamaan beramal di awal bulan Dzulhijah dan apa saja amalan yang dianjurkan ketika itu. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam sepuluh hari bulan Dzulhijah terdapat hari Arofah dan hari an nahr (Idul Adha). Kedua hari tersebut adalah hari yang mulia sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin Qurth, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari an nahr (Idul Adha) kemudian yaumul qorr (hari setelah hari an nahr).” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits Ibnu ‘Abbas di atas menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah.” Lalu beliau memberi pengecualian yaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahwa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad. [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan.” [5] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.” [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan di Awal Dzulhijah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu [7]. Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya [8], …” [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” [10] Mengenai riwayat ini, Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah, yaitu hadits pertama. Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya. [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan: Boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah) atau berpuasa pada sebagian harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Kadang dalam hadits disebutkan berpuasa pada sepuluh hari awal Dzulhijah. Yang dimaksudkan adalah mayoritas dari sepuluh hari awal Dzulhijah, hari Idul Adha tidak termasuk di dalamnya dan tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ‘Ied. [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Hari Arofah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keutamaan hari Arofah (9 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits berikut, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk orang yang berada di Arofah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan yang lainnya, hari arofah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.” [14] Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan. [15] Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a ketika ini adalah do’a yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Tinggalkan Puasa Arofah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” [16] Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. [17] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat. [18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” [19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arofah di Arofah. Beliau mengatakan, “Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arofah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.” [20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, yang lebih utama bagi orang yang sedang berhaji adalah tidak berpuasa ketika hari Arofah di Arofah dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa’ur Rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman), juga agar lebih menguatkan diri dalam berdo’a dan berdzikir ketika wukuf di Arofah. Inilah pendapat mayoritas ulama. [21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada riwayat yang menyebutkan, “Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.” Ibnul Jauzi [22], Asy Syaukani [23], dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah). [24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadisnya dha’if (lemah). Namun jika berpuasa karena mengamalkan keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia Berbeda dengan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika wukuf di Arofah lebih dulu dari tanggal 9 Dzulhijah di Indonesia, manakah yang harus diikuti dalam berpuasa Arofah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Dalam puasa hari Arofah, engkau tetap mengikuti negerimu.” Alasan beliau adalah kita tetap mengikuti hilal di negeri ini bukan mengikuti hilal Saudi Arabia. Jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara kita selang satu hari setelah ru’yah di Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara kita, maka kita seharusnya kita berpuasa Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah. Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memudahkan kita beramal sholih dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi-Nya. [Muhammad Abduh Tuasikal]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim&lt;br /&gt;[2] HR. Abu Daud no. 1765. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih&lt;br /&gt;[3] Latho-if Al Ma’arif, hal. 456&lt;br /&gt;[4] Lihat Latho-iLatho-if Al Ma’ariff Al Ma’arif, hal. 457 dan 461&lt;br /&gt;[5] Idem&lt;br /&gt;[6] Latho-if Al Ma’arif, hal. 458&lt;br /&gt;[7] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad&lt;br /&gt;[8] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi&lt;br /&gt;[9] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih&lt;br /&gt;[10] HR. Muslim no. 1176, dari ‘Aisyah&lt;br /&gt;[11] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460&lt;br /&gt;[12] Lihat Fathul Bari, 3/390 dan Latho-if Al Ma’arif, hal. 460&lt;br /&gt;[13 HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah&lt;br /&gt;[14] HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan&lt;br /&gt;[15] Lihat Tuhfatul Ahwadziy, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Ala, 8/482, Mawqi’ Al Islam&lt;br /&gt;[16] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah&lt;br /&gt;[17] Lihat Fathul Bari, 6/286&lt;br /&gt;[18] Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 4/179, Mawqi’ Al Islam&lt;br /&gt;[19] HR. Tirmidzi no. 750. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih&lt;br /&gt;[20] HR. Tirmidzi no. 751. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih&lt;br /&gt;[21] Lihat Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 2/137, Al Maktabah At Taufiqiyah&lt;br /&gt;[22] Lihat Al Mawdhu’at, 2/565, dinukil dari http://dorar.net&lt;br /&gt;[23] Lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah, hal. 96, dinukil dari http://dorar.net&lt;br /&gt;[24] Lihat Irwa’ul Gholil no. 956&lt;br /&gt;[25] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17/25, Asy Syamilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://buletin.muslim.or.id"&gt;Buletin At-Tauhid&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-46504237549707689?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/46504237549707689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=46504237549707689' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/46504237549707689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/46504237549707689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/meraih-limpahan-pahala-di-awal.html' title='Meraih Limpahan Pahala di Awal Dzulhijah'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-724409835667864899</id><published>2009-11-18T11:56:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:57:40.572+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Syaikh Ahmad An-Najmi, Mufti Daerah Jizaan</title><content type='html'>Ditulis oleh: As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan ulama rabbani sangatlah tinggi dalam Dien yang mulia ini. Allah Ta’ala telah mengangkat derajat mereka dan memuji mereka dalam Tanzil-Nya. Demikian pula pujian datang lewat lisan Rasul-Nya dalam mutiara-mutiara hikmah yang beliau tuturkan. Dan tidak ada yang tahu kadar ulama dan memuliakannya sesuai dengan apa yang berhak mereka dapatkan kecuali orang-orang yang mulia. Karena itu, sepantasnyalah bagi orang yang ingin mendapatkan kemuliaan untuk mengagungkan mereka lewat lisan dan tulisan, tidak melanggar kehormatan mereka dan tidak merendahkan mereka. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah datang ayat-ayat Qur`an, hadits-hadits nabawiyah dan atsar-atsar pilihan yang berisi larangan dari perbuatan tersebut. Satu dari ulama rabbani yang memiliki hak untuk kita muliakan adalah As-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, seorang alim yang sekarang menjadi mufti di daerah Jizaan. Salah seorang murid beliau, As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali menuturkan secara ringkas cerita hidup beliau sebagaimana dinukilkan dalam Ibrah kali ini. Semoga semangat ilmiah dan amaliyah beliau dapat menjadi ibrah bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMA DAN NASAB BELIAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah Asy-Syaikh Al-Fadlil Al-Allamah, Al-Muhaddits, Al-Musnad, Al-Faqih, mufti daerah Jizaan, pembawa bendera sunnah dan hadits di sana. As-Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad bin Syabir An-Najmi dari keluarga Syabir dari Bani Hummad, salah satu kabilah yang terkenal di daerah Jizaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlahir di Najamiyah pada tanggal 26 Syawwal 1346 hijriyah, beliau tumbuh dalam asuhan dua orang tua yang shalih. Keduanya bahkan bernadzar untuk Allah dalam urusan putranya ini, yaitu mereka berdua tidak akan membebani Ahmad An-Najmi kecil dengan satu pun dari pekerjaan dunia. Dan sungguh Allah telah merealisasikan apa yang diinginkan pasangan hamba-Nya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan ibu yang shalih ini menjaga beliau dengan sebaik-baiknya, sampai-sampai keduanya tidak meninggalkan beliau bermain bersama anak-anak yang lain. Ketika mencapai usia tamyiz, ayah dan ibu yang mulia ini memasukkan beliau ke tempat belajar yang ada di kampungnya. Di sini beliau belajar membaca dan menulis. Demikian pula membaca Al-Qur`an, beliau pelajari di sini sampai tiga kali sebelum kedatangan As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii rahimahullah pada tahun 1358 hijriyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali beliau membaca Al-Qur`an di bawah bimbingan As-Syaikh Abduh bin Muhammad Aqil An-Najmi tahun 1355 hijriyah. Kemudian beliau membacanya di hadapan As-Syaikh Yahya Faqih Absi -seorang yang berpemahaman Asy’ari- yang semula merupakan penduduk Yaman lalu datang dan bermukim di Najamiyah. Tahun 1358, As-Syaikh Ahmad An-Najmi masih belajar pada orang ini. Ketika datang As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii terjadi perdebatan antara keduanya (antara As-Syaikh Yahya Faqih Absi dan As-Syaikh Al-Qar’aawii) dalam masalah istiwa. Dan Allah Ta’ala berkehendak untuk memenangkan Al-Haq hingga As-Syaikh Yahya yang Asy’ari ini kalah dan pada akhirnya meninggalkan Najamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKITAR KISAH BELIAU DALAM BELAJAR ILMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1359, setelah perginya guru beliau yang berpemahaman Asy’ari, As-Syaikh Ahmad An-Najmi bersama kedua paman beliau, As-Syaikh Hasan dan As-Syaikh Husein bin Muhammad An-Najmi sering menjumpai As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawi di kota Shaamithah. Kemudian pada tahun berikutnya beliau masuk ke Madrasah As-Salafiyah. Dan pada kali ini beliau membaca Al-Qur`an dengan perintah As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii rahimahullah di hadapan As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamli rahimahullah. Beliau menghafal Tuhfatul Athfal, Hidayatul Mustafid, Ats-Tsalatsatul Ushul, Al-Arba’in An-Nawawiyah dan Al-Hisab. Beliau juga memantapkan pelajaran khath.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Madrasah As-Salafiyah, As-Syaikh Ahmad An-Najmi yang masih belia ini duduk di majlis yang ditetapkan oleh As-Syaikh Al-Qar’aawii sampai murid-murid kecil pulang ke rumah masing-masing setelah shalat dhuhur. Namun As-Syaikh Ahmad An-Najmi tidak ikut pulang bersama mereka. Beliau malah ikut masuk ke halaqah yang diperuntukkan bagi orang dewasa / murid-murid senior yang diajari langsung oleh As-Syaikh Al-Qar’aawii. Beliau duduk bersama mereka dari mulai selesai shalat dhuhur sampai datang waktu Isya. Setelah itu baru beliau kembali bersama kedua paman beliau ke kediamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal demikian berlangsung sampai empat bulan hingga akhirnya As-Syaikh Al-Qar’aawii mengijinkan beliau untuk bergabung dengan halaqah kibaar ini. Di hadapan As-Syaikh Al-Qar’aawii beliau membaca kitab Ar-Rahabiyah dalam ilmu Fara’id, Al-Aajurumiyah dalam ilmu Nahwu, Kitabut Tauhid, Bulughul Maram, Al-Baiquniyah, Nukhbatul Fikr dan syarahnya Nuzhatun Nadhar, Mukhtasharaat fis Sirah, Tashriful Ghazii, Al-’Awaamil fin Nahwi Mi’ah, Al-Waraqaat dalam Ushul Fiqih, Al-Aqidah Ath-Thahawiyah dengan syarah / penjelasan dari As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii sebelum mereka diajarkan Syarah Ibnu Abil ‘Izzi terhadap Aqidah Thahawiyah ini. Beliau juga mempelajari beberapa hal dari kitab Al-Alfiyah karya Ibnu Malik, Ad-Durarul Bahiyah dengan syarahnya Ad-Daraaril Mudliyah dalam fiqih karya Al-Imam Syaukani rahimahullah. Dan masih banyak lagi kitab lainnya yang beliau pelajari, baik kitab tersebut dipelajari secara kontinyu -sebagaimana kitab-kitab yang disebutkan di atas- maupun kitab-kitab yang digunakan sebagai perluasan wawasan dari beberapa risalah-risalah dan kitab-kitab kecil dan kitab-kitab yang dijadikan rujukan ketika diadakan pembahasan ilmiyah seperti Nailul Authar, Zaadul Ma’aad, Nurul Yaqin, Al-Muwatha’ dan kitab-kitab induk (Al-Ummahat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1362 hijriyah, As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii mengajarkan di halaqah kibar ini kitab-kitab induk yang ada di perpustakaan beliau seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Nasa’i dan Muwaththa’ Imam Malik. Mereka yang membacakan kitab-kitab tersebut di hadapan beliau. Namun mereka tidak sampai menyelesaikan kitab-kitab tersebut karena mereka harus berpisah satu dengan lainnya disebabkan paceklik yang menimpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan keutamaan dari Allah, pada tahun 1364 mereka dapat kembali ke tempat belajar mereka dan melanjutkan apa yang semula mereka tinggalkan. As-Syaikh Abdullah kemudian memberi izin kepada As-Syaikh Ahmad An-Najmi untuk meriwayatkan kitab induk yang enam (Al-Ummahat As-Sitt).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan hingga sampai pada tahun 1369. Beliau berkesempatan untuk belajar kitab Ishlahul Mujtama’ dan kitab Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam karya As-Syaikh Abdurrahman bin Sa’di rahimahullah dalam masalah fiqih yang disusun dalam bentuk tanya jawab. Dua kitab ini beliau pelajari dari As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-’Amuudi rahimahullah seorang qadli daerah Shaamith pada waktu itu. Beliau berkesempatan pula untuk belajar Nahwu pada As-Syaikh Ali bin Syaikh Utsman Ziyaad Ash-Shomaalii dengan perintah As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii rahimahullah dengan membahas kitab Al-’Awwamil fin Nahwi Mi’ah dan kitab-kitab lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1384, beliau hadir dalam halaqah Syaikh Al-Imam Al-’Allamah Mufti negeri Saudi Arabia As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh rahimahullah selama hampir dua bulan untuk mempelajari tafsir dalam hal ini Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari dengan pembaca kitab Abdul Aziz Asy-Syalhuub. Pada tahun yang sama beliau juga hadir dalam halaqah Syaikh Al-Imam Al-’Allamah As-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah selama kurang lebih satu setengah bulan guna mempelajari Shahih Bukhari. Majelis yang terakhir ini diadakan antara waktu Maghrib dan Isya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GURU-GURU BELIAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ahmad An-Najmi memiliki beberapa orang guru sebagaimana bisa dibaca pada keterangan di atas. Guru-guru beliau adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) As-Syaikh Ibrahim bin Muhammad Al-’Amuudi, seorang qadli di daerah Shaamithah pada zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) As-Syaikh Hafidh bin Ahmad Al-Hakami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) As-Syaikh Al-Allamah Ad-Da’iyah Al-Mujaddid di daerah selatan kerajaan Saudi Arabia Abdullah Al-Qar’aawii, beliau adalah guru yang paling banyak memberikan faedah kepada As-Syaikh Ahmad An-Najmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) As-Syaikh Abduh bin Muhammad Aqil An-Najmi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) As-Syaikh Utsman bin Utsman Hamli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) As-Syaikh Ali bin Syaikh Utsman Ziyaad Ash-Shomaali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) As-Syaikh Al-Imam Al-Allamah Mufti negeri Saudi Arabia yang dahulu, Muhammad bin Ibrahim Alus Syaikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) As-Syaikh Yahya Faqih Absi Al-Yamani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MURID-MURID BELIAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Syaikh Ahmad An-Najmi hafidhahullah memiliki murid yang sangat banyak, seandainya ada yang mencoba menghitungnya niscaya ia membutuhkan ribuan lembaran kertas. Namun di sini cukup disebutkan tiga orang saja yang ketiganya masyhur dalam bidang keilmuan. Mereka adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) As-Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits penolong Sunnah, As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) As-Syaikh Al-Allamah Al-Faqih Zaid bin Muhammad Hadi Al-Madkhali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) As-Syaikh Al-Alim Al-Fadlil Ali bin Nashir Al-Faqiihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KECERDASAN BELIAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala menganugerahkan kepada beliau kecerdasan yang tinggi sekali. Berikut ini kisah yang menunjukkan kecerdasan dan kemampuan menghafal beliau sejak kecil -semoga Allah menjaga beliau-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata As-Syaikh Umar bin Ahmad Jaradii Al-Madkhali -semoga Allah memberi taufik kepada beliau-: “Tatkala As-Syaikh Ahmad An-Najmi hadir bersama kedua pamannya Hasan dan Husein An-Najmi di Madrasah As-Salafiyah di Shaamithah, tahun 1359 hijriyah, umur beliau saat itu 13 tahun namun beliau mampu mendengarkan dan memahami pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii kepada murid-murid seniornya. Dan beliau benar-benar menghafal pelajaran-pelajaran tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku katakan (yakni As-Syaikh Muhammad bin Hadi bin Ali Al-Madkhali): “Inilah yang menyebabkan As-Syaikh Abdullah Al-Qar’aawii menggabungkannya pada halaqah kibaar yang beliau tangani sendiri pengajarannya. Beliau melihat bagaimana kepandaiannya, kecepatan hafalannya dan kecerdasannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIBUKAN BELIAU DALAM MENYEBARKAN ILMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Syaikh Ahmad An-Najmi menyibukkan dirinya dengan mengajar di madrasah-madrasah milik gurunya As-Syaikh Al-Qar’aawii rahimahullah semata-mata karena mengaharapkan pahala. Pada tahun 1367 hijriyah beliau mengajar di kampungnya An-Najamiyah. Lima tahun kemudian (tahun 1372) beliau pindah ke tempat yang bernama Abu Sabilah di Hurrats. Di sana beliau menjadi imam dan guru. Pada tahun berikutnya ketika dibuka Ma’had Ilmi di Shaamithah, beliau menjadi guru di sana sampai tahun 1384 hijriyah. Saat itu beliau memutuskan untuk safar ke Madinah guna mengajar di Jami’ah Al-Islamiyah di sana, namun ternyata beliau mendapat tugas yang lain sehingga beliau harus kembali ke daerah Jaazaan. Di sini Allah menghendaki agar beliau menjadi seorang penasehat dan pemberi bimbingan, dan beliau menjalankan tugas beliau dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1387, beliau mengajar di Ma’had Ilmi di kota Jazaan sesuai dengan permintaan beliau. Pada awal pengajaran tahun 1389 beliau kembali mengajar di Ma’had Shaamithah dan beliau tinggal di sana sebagai guru hingga tahun 1410.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu sampai ditulisnya biografi ini, beliau menyibukkan diri dengan mengajar di rumahnya dan di masjid yang berdekatan dengan rumah beliau serta di masjid-masjid lain dengan tetap menjalankan tugas beliau sebagai mufti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau -hafidhahullah- dengan semua aktifitas ilmiahnya telah menjalankan wasiat gurunya untuk terus mengajar dan menjaga / memperhatikan para pelajar, khususnya pelajar asing dan mereka yang terputus bekal / nafkahnya dalam penuntutan ilmu. Dan kita dapatkan beliau -semoga Allah menjaganya- memiliki kesabaran yang menakjubkan. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas apa yang telah dia berikan kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wasiat As-Syaikh Al-Qar’aawii juga, beliau terus melakukan pembahasan ilmiyah dan mengambil faedah, khususnya dalam ilmu hadits dan fiqih serta ushul ilmu hadits dan ushul fiqih, hingga beliau mencapai keutamaan dengannya melebihi teman-temannya. Semoga Allah memberkahi umur beliau dan ilmu beliau, dan semoga Allah memberi manfaat dengan kesungguhan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARYA ILMIAH BELIAU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau banyak memiliki karya-karya tulis ilmiah, sebagiannya sudah dicetak dan sebagian lagi belum dicetak. Semoga Allah memudahkan dicetaknya seluruh karya beliau agar kemanfaatannya tersampaikan pada ummat. Di antara karya beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Awdlahul Irsyad fir Rad ‘ala Man Abaahal Mamnuu’ minaz Ziyaarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Ta’sisul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam, telah dicetak dari karya ini satu juz yang kecil / tipis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Tanzihusy Syari’ah ‘an Ibaahatil Aghaanil Khali’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Risalatul Irsyaad ila Bayanil Haq fi Hukmil Jihaad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Risalah fi Hukmil Jahri bil Basmalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Fathur Rabbil Waduud fil Fatawa war Ruduud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Al-Mawridul ‘Udzbuz Zalaal fiimaa Intaqada ‘ala Ba’dlil Manaahijid Da’wiyah minal ‘Aqaaid wal A’maal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi dari tulisan-tulisan beliau yang bermanfaat yang beliau persembahkan untuk kaum muslimin, semoga Allah membalas beliau dengan sebaik-baik pahala dan semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi Islam dan muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian akhir biografi beliau yang dapat kami haturkan pada para pembaca, walhamdulillah ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diterjemahkan secara ringkas oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari dari mukaddimah kitab Al-Mawridul ‘Udzbuz Zalaal fiimaa Intaqada ‘ala Ba’dlil Manaahijid Da’wiyah minal ‘Aqaaid wal A’maal, hal 3-10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=42 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-724409835667864899?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/724409835667864899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=724409835667864899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/724409835667864899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/724409835667864899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-syaikh-ahmad-najmi-mufti.html' title='Biografi Syaikh Ahmad An-Najmi, Mufti Daerah Jizaan'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-5885192327136051759</id><published>2009-11-18T11:54:00.001+07:00</published><updated>2009-11-18T11:55:54.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Shiddiq Hasan Khan – Ulama dari Negeri India</title><content type='html'>Nasabnya&lt;br /&gt;Beliau adalah Al-Imam Al-’Allamah Al-Ushuli Al-Muhaddits Al-Mufassir As-Sayyid Shiddiq bin Hasan bin Ali bin Luthfullah Al-Husaini Al-Bukhari Al-Qinnauji. Nasab beliau berakhir pada Al-Imam Husain, cucu terkecil dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran dan Pertumbuhannya&lt;br /&gt;Beliau lahir pada bulan Jumadil Ula tahun 1248 H (sekitar 1832) di Negeri Berlhi tanah air kakeknya yang terdekat dari pihak ibu. Kemudian keluarga beliau pindah ke kota Qinnauj, tanah air kakek-kakeknya. Ketika tahun keenam ayahnya wafat. Tinggallah ia di bawah asuhan ibunya dalam keadaan yatim. Shiddiq kecil tumbuh sebagai seorang yang afif (memelihara diri), bersih dan cinta kepada ilmu dan para ulama. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu Beliau dan Belajarnya&lt;br /&gt;Beliau safar ke Delhi untuk menyempurnakan pelajarannya di sana. Beliau bersungguh-sungguh mendalami Al-Qur’an dan As-Sunnah dan membukukan ilmu keduanya. Beliau memiliki keinginan yang kuat untuk mengumpulkan buku-buku, mendapatkan pemahaman tambahan dalam membacanya serta meraih faedah-faedahnya, khususnya kitab-kitab tafsir, hadits dan ushul. Kemudian beliau safar ke Bahubal untuk mencari biaya penyambung hidup beliau. Di sana beliau mendapatkan faedah besar, yaitu menikah dengan Ratu Bahubal dan beliau digelari dengan Nawwab Jaah Amirul Malik bi Hadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-guru Beliau&lt;br /&gt;Guru beliau cukup banyak, di antaranya Syaikh Muhamad Ya’qub, saudara Syaikh Muhammad Ishaq cucu Syaikh Al-Muhaddits Abdul Aziz Ad-Dahlawi. Di antara guru beliau juga Syaikh Al-Qadhi Husain bin Al-Muhsin As-Sa’bi Al-Anshari Al-Yamani Al-Hadidi, murid dari Asy-Syarif Al-Imam Muhammad bin Nashir Al-Hazimi murid dari Imam Asy-Syaukani. Guru beliau juga adalah Syaikh Abdul haq bin Fadhl Al-Hindi, murid dari Al-Imam Asy-Syaukani juga, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karangan-karangan Beliau&lt;br /&gt;Dalam mengarang, beliau memiliki kemampuan yang menakjubkan, yaitu dapat menulis beberapa kitab dalam satu hari dan mengarang beberapa kitab tebal dalam beberapa hari. Karangan-karangan beliau dalam beberapa bahasa hingga 222 buah. Demikian yang dihimpun oleh Syaikh Abdul Hakim Syafaruddin, pentashih dan penta’liq kitab At-Taajul Mukallal. Beliau berkata, “Di antaranya 54 berbahasa Arab, 42 berbahasa Persia, dan 107 dengan bahasa Urdu”. Dan beliau belumlah menghitung jumlah yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab beliau memenuhi dan mencapai segala penjuru dunia islam. Banyak para ulama tafsir dan hadits yang menulis risalah tentang beliau yang berisi pujian kepada kitab-kitabnya dan mendoakan kebaikan kepada beliau. Beliau juga dianggap sebagai tokoh kebangkitan Islam dan mujaddid. Di antara karangan beliau yang tercetak dengan bahasa Arab:&lt;br /&gt;• Fathu Bayaan fi Maqashisil Qur’an&lt;br /&gt;• Nailul Maran min Tafsiiri Aayatil Ahkam&lt;br /&gt;• Ad-Dinul Khalish&lt;br /&gt;• Husnul Uswah bimaa Tsabata ‘anilhiwa Rasuulihi fin Niswah&lt;br /&gt;• ‘Aunul Bari bi Halli Adillatil Bukhari&lt;br /&gt;• As-Sirajul Wahhaj min Kasyfi Mathaalihi Shahihi Muslim bin Al-Hajjaj&lt;br /&gt;• Al-Hittah fi Dzikrish Shihabis Sittah&lt;br /&gt;• Quthfus tsamar fii Aqidatil Atsar&lt;br /&gt;• Al-Ilmu Khaffaq fil Ilmil Itsiqaq&lt;br /&gt;• Abjadul Ulum&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafat Beliau&lt;br /&gt;Beliau wafat pada tahun 1307 H, bertepatan dengan 1889 M. Maka masa kehidupan beliau adalah 59 tahun qamariyah atau 57 tahun syamsiah. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;Indahnya Surga Dahsyatnya Neraka, karya Asy-Syaikh Ali Hasan, terbitan Pustaka Al-Haura’ Jogjakarta, halaman 81-84&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;)*Catatan:&lt;br /&gt;Di atas beliau digelari dengan Al-’Allamah Al-Ushuli Al-Muhaddits Al-Mufassir As-Sayyid. Artinya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Al-’Allamah : Orang yang banyak sekali ilmunya&lt;br /&gt;• Al-Ushuli: Ahli ilmu ushul (ilmu-ilmu dasar dalam agama)&lt;br /&gt;• Al-Muhaddits: Ahli dalam ilmu hadits&lt;br /&gt;• Al-Mufassir: Ahli tafsir&lt;br /&gt;• Adapun As-Sayyid, saya belum mendapatkan maksudnya apa. Mungkin beliau digelari dengan As-Sayyid karena beliau masih keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://ulamasunnah.wordpress.com"&gt;http://ulamasunnah.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-5885192327136051759?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/5885192327136051759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=5885192327136051759' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/5885192327136051759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/5885192327136051759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-shiddiq-hasan-khan-ulama-dari.html' title='Biografi Shiddiq Hasan Khan – Ulama dari Negeri India'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-2693622238171672575</id><published>2009-11-18T11:52:00.002+07:00</published><updated>2009-11-18T11:53:58.199+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Asy Syaikh Abdullah Al Ghudayyan</title><content type='html'>Beliau dilahirkan pada tahun 1345 H/ 1934 di kota Az Zulfi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau belajar dan qiraah dan menulis ketika masih muda bersama Abdullah bin Abdul Aziz As Suhaimi, Abdullah bin Abdurrahman Al Ghayts, dan Falih Ar Rumi. Beliau juga belajar ushul fiqh, tauhid, nahwu, dan ilmu waris dari Hamdan bin Ahmad Al Batil. Beliau kemudian berangkat ke Riyadh pada tahun 1363 H/ 1852 M, dan di tahun 1366 H/ 1955 M beliau belajar di Madrasah As Sa’udiyyah Al Ibtidaiyah (dulu dikenal sebagai Madrasah Al Aytam) dan tamat pada tahun 1368 H/ 1957 M. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau lalu ditunjuk sebagai pengajar di Madrasah Al Aziziyah, dan di tahun 1371 H / 1960 M beliau masuk ke institut pendidikan. Pada waktu itu beliau belajar dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (mufti ‘am Kerajaan Saudi Arabia pada masa itu –wr1). Beliau juga belajar fiqh dari Syaikh Sa’ud bin Rasyud yang merupakan hakim tinggi Riyadh, tauhid dari Syaikh Ibrahim bin Sulaiman, serta nahwu dan ilmu waris dari Asy Syaikh Abdul Latif bin Ibrahim. Kemudian beliau pun melanjutkan studi beliau sampai lulus dari fakultas syariah di tahun 1372 H. 1961 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Syaikh Abdullah Al Ghudayyan lalu ditunjuk sebagai salah seorang kepala pengadilan yang kemudian dipindahkan untuk mengajar di Institut Pendidikan pada tahun 1378 H/ 1967 M. Pada tahun 1380 H/ 1969 M, beliau ditunjuk sebagai pengajar di fakultas syariah, dan di tahun 1386 H/ 1975 M beliau dipindahkan lagi ke bagian fatwa di Darul Ifta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1391 H/ 1980, beliau ditunjuk sebagai anggota Al Lajnah Ad Daimah, sebuah dewan tetap untuk penelitian masalah keislaman dan fatwa, dan juga ditunjuk pula sebagai anggota Kibaarul Ulama, Dewan Tinggi Ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau belajar kepada para ulama dari berbagai bidang. Guru-guru beliau yang kita kenal bersama antara lain:&lt;br /&gt;• Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dari beliau Asy Syaikh belajar fiqh.&lt;br /&gt;• Asy Syaikh Abdullah Al Khulayfi, Asy Syaikh juga belajar fiqh darinya.&lt;br /&gt;• Asy Syaikh Abdul Aziz bin Rasyid, Asy Syaikh belajar fiqh, tauhid, dan ilmu waris dari beliau.&lt;br /&gt;• As Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, Asy Syaikh belajar ushul fiqh, ilmu Al Qur’an dan Tafsir.&lt;br /&gt;• Asy Syaikh Abdurrahman Al Afriqi, beliau belajar mustalah dan hadits.&lt;br /&gt;• Asy Syaikh Abdurrazzaq Afifi.&lt;br /&gt;• Asy Syaikh Abdul Fattah Qari Al Bukhari, Asy Syaikh belajar qira’ah Hafs an Aasim dengan sanad yang sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan tugas beliau, mulai tahun 1389 H/ 1978 M sampai sekarang, Syaikh Abdullah Al Ghudayyan juga mengajar fiqh, ushul fiqh, kaidah fiqh, musthalah hadits, tafsir dan ilmu tafsir serta akidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengajarkan fiqh dalam muhadharah dan dars hampir setiap hari, sesuai dengan jadwal dan padanya tugas beliau, setelah maghrib dan setelah isya. Sesekali beliau mengajar setelah shalat subuh dan setelah ashr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1395 H/ 1984 M, sebagai tugas tambahan beliau di Al Lajnah Ad Daimah, Syaikh Abdullah mengajar para mahasiswa Universitas Imam Muhammad dan di fakultas Syariah dalam mata kuliah fiqh, ushul fiqh, serta kaidah fiqh. Beliau juga terlibat langsung dalam supervisi tesis untuk program master dan doktoral di universitas tersebut, beliau juga ambil bagian dalam komite universitas untuk pendiskusian thesis. Selama masa ini, banyak mahasiswa yang belajar dari beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Asy Syaikh Abdullah bin Humaid meninggal pada tahun 1402 H/ 1991 M, Asy Syaikh Abdullah Al Ghudayyan menggantikan beliau dalam memberi fatwa di program Radio Nur ‘alad Darb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diterjemahkan untuk http://ulamasunnah.wordpress.com dari http://fatwa-online.com/scholarsbiographies/15thcentury/ibnghudayyaan.htm) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-2693622238171672575?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/2693622238171672575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=2693622238171672575' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/2693622238171672575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/2693622238171672575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-asy-syaikh-abdullah-al.html' title='Biografi Asy Syaikh Abdullah Al Ghudayyan'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-8958603449959610905</id><published>2009-11-18T11:52:00.001+07:00</published><updated>2009-11-18T11:52:53.710+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di</title><content type='html'>Beliau adalah Asy Syaikh Abu Abdillah Abdurrahman bin Naashir bin Abdullah bin Nashir As Sa’di dari Bani Tamim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dilahirkan di kota Unaizah, daerah Qosim (sekarang di Kerajaan Saudi Arabia) pada tanggal 12 Muharram 1307 H atau 1886 M. Ibu beliau wafat ketika beliau berusia empat tahun yang disusul sang bapak di usia beliau yang ketujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menghapalkan Al Quran dan menguasai ilmu qira’ah sebelum usia beliau genap sebelas tahun. Syaikh As Sa’di kemudian mendedikasikan diri beliau untuk menuntut ilmu, belajar dari para ulama di kota beliau serta ulama-ulama yang sedang berkunjung ke sana. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara guru-guru beliau yang terkenal antara lain:&lt;br /&gt;- Asy Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Haasir&lt;br /&gt;- Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Kariim Asy Syibl&lt;br /&gt;- Asy Syaikh Shalih bin Utsman, qadi Unaizah,&lt;br /&gt;- Asy Syaikh Muhammad Asy Syinqiti yang tinggal di Hijaz, dan yang selain mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun juga, barangsiapa yang mengatakkan bahwa guru beliau adalah Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim, maka sungguh mereka telah berkata benar, karena beliau adalah seorang penuntut ilmu yang sangat antusias terhadap karya Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik utama beliau adalah beliau memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau begitu ramah, baik dengan yang lebih tua maupun yang muda. Beliau akan berbicara kepada setiap orang sesuai dengan tingkat pemahaman serta apa yang terbaik bagi orang tersebut. Beliau tidak perduli dan menjauh dari kemewahan serta godaan kehidupan dunia. Beliau tidak ambil peduli dengan kedudukan, kekuasaan, maupun kemasyhuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menulis banyak karya, di antaranya:&lt;br /&gt;1. Al Adillati wal Qawathi’ wal Baraahin fi Ibthali Ushulul Mulhidin&lt;br /&gt;2. Al Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam&lt;br /&gt;3. Intisharul Haq&lt;br /&gt;4. Bahjahtu Qulubil Abrar wa Qurratu Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’ul Akhbar (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan” oleh Al Ustadz Harits Abrar Thalib, Penerbit Cahaya Tauhid Press)&lt;br /&gt;5. At Ta’liq wa Kasyfun Niqaab ala Nizhami Qawaidul I’rab&lt;br /&gt;6. Taudhih Al Kaafiyah Asy Syafiyah&lt;br /&gt;7. Taudhihu wal Bayaan li Sajaratil Iman&lt;br /&gt;8. Haasyiyah Fiqhiyah&lt;br /&gt;9. Diiwan Khutab&lt;br /&gt;10. Al Qawaidul Hisan&lt;br /&gt;11. Tanzihuddin&lt;br /&gt;12. Radd ala Al Qasimi&lt;br /&gt;13. Al Haqq Al Wadhih Al Mubayyin&lt;br /&gt;14. Taisir Karimirrahman fit Tafsiri Kalamil Mannan, sebuah tafsir Al Quran sebanyak delapan jilid.&lt;br /&gt;15. Hukmu Syarbud Dukhan (Hukum Menghisap Rokok)&lt;br /&gt;16. Risalah fi Qawaid Al Fiqhiyyah&lt;br /&gt;17. Al Fatawa As Sa’diiyah&lt;br /&gt;18. Al Wasaailul Mufiidah lil Hayatis Sa’idah (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kunci Meraih Kebahagiaan Hidup oleh Al Ustadz Fuad Qawwam, Lc. Penerbit Cahaya Tauhid Press)&lt;br /&gt;19. Ad-Durar Al-Mukhtasharah fii Mahaasin Al-Islaam, (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Sungguh Islam itu Indah!” oleh Al Ustadz Fuad Qawwam, Lc. Penerbit Al Ilmu)&lt;br /&gt;20. Al Qawaidul Hisan lit Tafsiril Qur’an (Kaidah-kaidah dalam menafsirkan Kitab Suci Al Qur’an)&lt;br /&gt;21. Al Qaulussadiid fi Maqasidit Tauhid (merupakan penjelasan terhadap Kitabut Tauhid karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)&lt;br /&gt;22. Minhajus Salikin fit Taudhihil Fiqhi fid Diin&lt;br /&gt;23. Ar Riyadh An Nadhirah dan puluhan kitab lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Antara Murid Beliau&lt;br /&gt;Salah seorang murid Asy Syaikh As Sa’di yang termasyhur adalah Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Asy Syaikh Al Utsaimin belajar ilmu tauhid, tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqh, ilmu waris, musthalah hadits, nahwu dan sarf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah memberikan sebuah testimony tentang guru beliau, Asy Syaikh As Sa’di,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya banyak sekali terpengaruh dengan metode beliau dalam mengajar dan menyampaikan ilmu, bagaimana mempermudah murid-murid beliau agar bisa memahami dengan beragam contoh dan makna-makna. Dan saya juga terpengaruh dengan akhlak beliau karena Asy Syaikh Abdurrahman rahimahullah adalah orang yang memiliki akhlak yang sangat mulia, beliau rahimahullah banyak sekali ilmu dan ibadahnya, beliau terkadang bersenda gurau dengan yang lebih muda, bermurah senyum dengan yang lebih tua. Dia adalah salah seorang yang kulihat paling baik akhlaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kesaksian Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin terhadap guru beliau Asy Syaikh As Sa’di.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid beliau yang lain adalah Asy Syaih Abdullah bin Abdul Aziz bin Aqil, salah seorang anggota Hai’ah Ad Daimah bi Majalisil Qadhail A’la – Komite Tetap dalam Mahkamah Agung Kerajaan Saudi Arabia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafat Beliau&lt;br /&gt;Beliau hidup dalam keadaan yang mulia dan terpuji sampai akhirnya beliau wafat pada tanggal 24 Jumadits Tsani tahun 1376 H/ 1955 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;- Biography of Shaikh Abdurrahman bin Naasir As Sa’dee, Fatwa-Islam.Com, alamat URL: http://fatwa-online.com/scholarsbiographies/14thcentury/ibnsadee.htm (diakses tanggal 9 Mei 2009)&lt;br /&gt;- Tarjumah Asy Syaikh As Sa’di dalam Maktabah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, e-book diterbitkan oleh Mauqi’ Ruuhul Islam www.islamspirit.com&lt;br /&gt;- Syarh Al Ushuluts Tsalatsah, Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, e-book diterbitkan oleh Muasasah Asy Syaikh Bin Utsaimin http://www.binothaimeen.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disusun oleh Abu Umar Al Bankawy. Copyright: Silakan dicopy dengan mencantumkan sumber: http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/05/09/biografi-asy-s…nashir-as-sadi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-8958603449959610905?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/8958603449959610905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=8958603449959610905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/8958603449959610905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/8958603449959610905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-asy-syaikh-abdurrahman-bin.html' title='Biografi Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-2351143009956392100</id><published>2009-11-18T11:49:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:51:54.997+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Asy Syaikh Abdullah Al Bukhari</title><content type='html'>Berikut biografi Asy-Syaikh Abdullah Al Bukhari, yang insya Allah akan hadir di tengah-tengah kita kedua kalinya, di kota Bantul, Yogyakarta tahun 2009 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama :&lt;br /&gt;‘Abdullâh bin ‘Abdirrahîm bin Husain bin Mahmûd As-Sa’di kemudian Al-Bukhâri Al-Madîni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sa’di adalah nisbah kepada Bani Sa’d yang berasal dari Ath-Thâ`if. Beliau dilahirkan di Madinah di desa Bâbut Tamâr. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya :&lt;br /&gt;Adapun tentang ayah beliau, yaitu Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm bin Husain Al-Bukhâri rahimahullah, tumbuh dalam kondisi yatim. Telah hafal Al-Qur`an semenjak kecil. Belajar di Madrasah Al-’Ulûm Asy-Syar’iyyah. Beliau sangat berprestasi. Di tengah aktivitasnya, beliau juga sangat aktif dan bersemangat menghadiri halaqah-halaqah ilmu di Masjid Nabawi dan mengambil ilmu dari para ‘ulama pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau pindah ke kota Riyâdh, bekerja sebagai staff Al-Malik (Raja) ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah. Setelah itu beliau bekerja pada bidang lain, dan pada awal tahun 1374 H bergabung pada Hai`ât Al-Amri bil Ma’rûf. Pimpinan umumnya waktu itu adalah Asy-Syaikh Al-’Allâmah ‘Umar bin Hasan âlu Asy-Syaikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm Al-Bukhâri mendapat ijazah dan rekomendasi yang ditandatangani oleh Asy-Syaikh ‘Umar bin Hasan âlu Asy-Syaikh atas kebaikan prilaku dan tugas beliau. Ijazah tersebut bernomor 2396/Kh/M tertanggal 25/9/1377 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm pindah ke Madinah, bertugas di Al-Mahkamah Asy-Syar’iyyah Al-Kubrâ pada tanggal 13 – 2 – 1380 H. Pimpinan mahkamah pada waktu itu adalah Asy-Syaikh Al-’Allâmah ‘Abdul ‘Azîz bin Shâlih rahimahullah, beliau sekaligus imam dan khathib Masjid Nabawi. Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm juga mendapat ijazah dari pimpinan mahkamah tertanggal 21/9/1392 H. ditegaskan dalam ijazah tersebut : “Selama bertugas menjadi teladan dalam kesungguhan dan semangat kerja. Senantiasa menjalankan tugas dengan sangat baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada tanggal 1 – 4- 1388 H, beliau pindah ke Universitas Islam Madinah, dengan Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz rahimahullah sebagai rektornya. Beliau juga mendapat ijazah dari Asy-Syaikh Al-Imâm ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz, bahwa “Bersifat dengan prilaku dan akhlaq yang baik, dan sangat bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas.” Ijazah tersebut bernomor 338 tertanggal 27/31392 H. Beliau terus bertugas di Universitas Islam Madinah sampai pensiun pada 1 – 7 – 1407 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm Al-Bukhâri adalah seorang yang sangat rajin beribadah, bersemangat dalam ilmu, sangat mencintai dan menghormati para ‘ulama, konsisten berpegang kepada sunnah, dan sangat menentang bid’ah dan para pengusungnya. Beliau juga menjaling hubungan sangat baik dan erat dengan sejumlah ‘ulama besar Ahlus Sunnah, di antaranya Samâhatul Imâm Al-’Allâmah Al-Mufassir Muhammad Al-Amîn Asy-Syinqhîthi (penulis tafsir Adhwâ`ul Bayân ) rahimahullah, Samâhatul Imâm Syaikhul Islâm ‘Abdul ‘Azîz bin ‘Abdillâh bin Bâz rahimahullah, beliau juga sering berhubungan dengan Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Faqîh ‘Abdurrahmân As-Sa’di –bahkan Asy-Syaikh Sa’di menghadiahkan kepada beliau sejumlah kitab yang padanya ada tulisan tangan beliau. Kitab-kitab tersebut masih tersimpan- , di antaranya juga : Al-’Allâmah Al-Muhaddits Hammâd Al-Anshâri, Al-’Allâmah Al-Muhaddits ‘Abdul Muhsin Al-’Abbâd, Al-’Allâmah Al-Mujâhid Muhammad Amân Al-Jâmi, Al-’Allâmah Rabî’ bin Hâdi Al-Madkhali, Al-’Allâmah ‘Umar bin Muhammad Fallâtah, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh ‘Abdurrahîm Al-Bukhâri wafat pada 23 Dzulhijjah 1422 H, di dekat salah satu pintu masuk Masjid Nabawi, menjelang maghrib, dan ketika itu beliau sedang bershaum. Meninggalkan 13 anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuntut Ilmu&lt;br /&gt;Asy-Syaikh ‘Abdullâh bin ‘Abdirrahîm hafizhahullâh tumbuh di bawah asuhan dan bimbingan kedua orang tuanya yang sangat antusias dan memiliki perhatian yang sangat besar terhadap ilmu, serta upaya mendidik anak-anak dengan pendidikan yang selamat dan lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mulai menghafal Al-Qur`an semejak tahun-tahun pertama ketika beliau duduk di madrasah ibtida`iyyah di Masjid Al-Imâm Al-Bukhâri ( ayah beliau sebagai penanggung jawab di masjid tersebut ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dikarunai kecintaan terhadap ilmu hadits sejak kecil. Karena itu beliau sangat bersemangat untuk mengumpulkan dan membaca kitab-kitab tentang ilmu hadits, bertanya tentang perkara yang sulit, dan menghafalnya.&lt;br /&gt;Beliau juga sangat bersemangat untuk mempelajari kitab-kitab aqidah, karena beliau melihat kebutuhan umat yang sangat besar terhadapnya. Itu semua beliau lakukan dengan cara senantiasa rutin dan bermulâzamah di Masjid Nabawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-gurunya antara lain :&lt;br /&gt;Dalam bidang Al-Qur`an dan Tajwid&lt;br /&gt;1.Asy-Syaikh Muhammad Ramadhân Ad-Dahlawi v&lt;br /&gt;2.Asy-Syaikh Al-Mudaqqiq Sayyid Lâsyîn Abul Faraj hafizhahullâh, banyak menimba ilmu dari beliau, terutama dalam penarapan tilawah dan praktek langsung dalam bidang tajwid.&lt;br /&gt;3.Asy-Syaikh Ahmad ‘Abdul Karîm rahimahullah.&lt;br /&gt;4.Asy-Syaikh Muhammad Al-Marisi rahimahullah (juru tulis di Universitas Islam Madinah dan imam di Masjid Al-Imâm Al-Bukhâri) Banyak mengambil ilmu tajwid dari beliau. Juga belajar secara khusus risalah yang berjudul Al-Burhân fî Tajwîdil Qur`an, karya Ash-Shâdiq Qamhari. Juga belajar ilmu khath, baik teori maupun praktek. Demikian juga belajar ilmu nahwu dengan mempelajari kitab Al-Âjurrûmiyyah.&lt;br /&gt;5.Asy-Syaikh Mu’ammar Bakri bin ‘Abdil Majîd Ath-Tharâbîsyi. Mendapat ijazah dari beliau dalam bidang Al-Qur`an. Juga mendapat ijazah umum atas semua riwayat beliau yang didapat dari gurunya Asy-Syaikh Muhammad bin Salîm Al-Hulwâni.&lt;br /&gt;6.Asy-Syaikh Ahmad Al-Qâdhi hafizhahullâh. Secara khusus mengambil ilmu dalam bidang tajwid, dan mempelajari kitab Haqqut Tilâwah karya Husni Syaikh ‘Utsmân.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai disiplin ilmu lainnya :&lt;br /&gt;1.Al-’Allâmah An-Nâshih Ash-Shâdiq Ar-Rabbâni Asy-Syaikh Muhammad Amân bin ‘Ali Al-Jâmi rahimahullah. Bermulâzamah kepada beliau selama 10 tahun. Mendapatkan ijazah dari beliau atas berbagai kitab yang dipelajari dari beliau dalam berbagai disiplin ilmu, sebagaimana tertulis dalam ijazah yang sangat menjadi kebanggaan Asy-Syaikh Al-Bukhâri. Kitab-kitab yang dipelajari dari beliau, antara lain :&lt;br /&gt;-Al-Ushûluts Tsalâtsah karya Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb&lt;br /&gt;-Al-Qawâ’idul Arba’ karya Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb&lt;br /&gt;-Kitâbut Tauhid karya Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb&lt;br /&gt;-Fathul Majîd karya Asy-Syaikh ‘Abdurrahmân bin Hasan, cucu Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb.&lt;br /&gt;-Qurratu ‘Uyûnil Muhawwidîn karya Asy-Syaikh ‘Abdurrahmân bin Hasan, cucu Syaikhul Islâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb&lt;br /&gt;-Tajrîdut Tauhid karya Al-Maqrîzi&lt;br /&gt;-Al-’Aqidah Al-Wâsithiyyah, karya Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah.&lt;br /&gt;-Al-Hamawiyyah, karya Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah.&lt;br /&gt;-At-Tadmûriyyah, karya Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah.&lt;br /&gt;-Syarh Al-’Aqîdah Ath-Thahâwiyyah, karya Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi.&lt;br /&gt;-Al-Qawâ’idul Mutslâ, karya Asy-Syaikh Al-’Utsaimîn.&lt;br /&gt;-Qathrun Nadâ,&lt;br /&gt;-Al-âjurrûmiyyah,&lt;br /&gt;-Nailul Authâr (beberapa bab), karya Asy-Syaukâni.&lt;br /&gt;-Zâdul Ma’âd, karya Ibnul Qayyim.&lt;br /&gt;-Kitâbush Shiyâm dari kitab Shahîhul Bukhâri.&lt;br /&gt;-’Umdatul Ahkâm, karya Abdul Ghanî Al-Maqdisi.&lt;br /&gt;-dan masih banyak lagi&lt;br /&gt;mayoritasnya di Masjid Nabawi, sebagian lagi di masjid dekat rumah Asy-Syaikh Al-Jâmi, sebagiannya lagi di Masjid Ash-Shâni’ di desa Al-Mashâni’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Fâdhil ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-’Abbâd hafizhahullâh. Bermulazamâh kepada beliau selama 16 tahun. Kitab-kitab yang dipelajari dari beliau antara lain :&lt;br /&gt;-Jilid terakhir kitab Shahîh Muslim&lt;br /&gt;-Shahîh Al-Bukhâri&lt;br /&gt;-Sunan An-Nasâ`i&lt;br /&gt;-Sunan Abî Dâwûd&lt;br /&gt;-Sebagian besar Jâmi’ At-Tirmidzi&lt;br /&gt;-Al-Lu`lu` wal Marjân (belum sampai tamat)&lt;br /&gt;-’Aqidah Ibni Abî Zaid Al-Qairâwani&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Bukhâri bercerita, “Pada musim haji tahun 1420 H saya membaca di hadapan beliau satu juz Kitâbul Hajj dari kitab Syarhus Sunnah karya Al-Imâm Al-Baghawi rahimahullah. Kemudian pada musim haji tahun 1421 H saya membaca di hadapan beliau kitab Fatwâ Arkânil Islâm karya Asy-Syaikh Al-Utsaimîn. … .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Muhaddits Al-Mu`arrikh ‘Umar bin Muhammad Fallâtah rahimahullah . Menghadiri pelajaran syarh terhadap kitab Shahîh Muslim, Al-Muwattha`, dan syarh tentang sirah nabawiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Al-’Allâmah Al-Faqîh Asy-Syaikh ‘Athiyyah bin Muhammad Sâlim rahimahullah.&lt;br /&gt;Menghadiri pelajaran syarh terhadap kitab Mudzakkirah Asy-Syinqithi fî Ushûlil Fiqh, dan sebagian pelajaran kitab Ar-Rahbiyyah, yang membahas tentang ilmu fara`idh, dan pelajaran kitab Syarh Al-Waraqât. Semua pelajaran tersebut di Masjid Nabawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Asy-Syaikh Al-’Allâmah An-Nâshih ‘Ali bin Muhammad bin Sinân rahimahullah. Mempelajari kitab Alfiyyah Ibni Mâlik, Irsyâdhul Fuhûl karya Asy-Syaukâni, dan Ar-Raudh Al-Murabbâ’ fiqh hanbali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Al-’Allâmah Al-Muhaddits Al-Mujâhid An-Nâqid Asy-Syaikh Rabî’ bin Hâdi Al-Madkhali hafizhâhullâh. Belajar kepada beliau di masjid dekat rumah beliau ketika itu, yaitu di kampung Al-Azhari, beberapa pelajaran antara lain pelajaran Muqaddimah Shahîh Muslim, At-Taqyîd wal îdhah karya Al-Hâfizh Al-’Irâqi, I’lâmul Muwaqqi’în karya Ibnul Qayyim, dan Ikhtishâr ‘Ulûmil Hadîts karya Ibnu Katsîr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.Al-’Allâmah Al-Mu`arrikh Al-Lughawi An-Nassâbah Shafiyyurrahmân Al-Mubârakfûri rahimahullah. Duduk bersama beliau selama kurang lebih dua tahun. Membaca di hadapan beliau beberapa bagian yang mencukupi dari Al-Kutubus Sittah –sebagaimana tertulis dalam ijazah- dan mendapatkan ijazah Al-Kutubus Sittah dari beliau (yaitu kitab : Shahîh Al-Bukhâri, Shahîh Muslim, Sunan Abî Dâwûd, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasâ`i, Sunan Ibni Mâjah), dan juga ijazah atas semua riwayat beliau yang bersambung dengan kitab Al-Hâfizh Asy-Syaukâni Ithâful Al-Akâbir bi Isnâdid Dafâtir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga membaca di hadapan beliau sebagian besar kitab Jâmi’ At-Tirmidzi, dan beberapa kitab dalam bidang lughah, terkhusu Nahwu dan Sharaf, dan kitab-kitab yang tersebar di negeri India, di antara kitab Syarh Mi`ah ‘âmil. Juga membaca di hadapan beliau beberapa kitab aqidah, seperti Ushûlus Sunnah karya Al-Imâm Ahmad bin Hanbal, dll. Pelajaran-pelajaran tersebut mayoritas di Masjid Nabawi dalam majelis khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.Al-’Allâmah Al-Muhaddits Al-Faqîh Asy-Syaikh Ahmad bin Yahyâ An-Najmi rahimahullah. Menghadiri majelis pembacaan kitab Sunnan Abî Dâwûd di rumah kediaman Asy-Syaikh Muhammad bin Hâdi Al-Madkhali. Kemudian beliau (Asy-Syaikh An-Najmi) memberikan ijazah umum atas semua riwayatnya, dengan nama Inâlatuth Thâlibîn bi Asâdîd Kutubil Muhadditsîn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.Al-’Allâmah An-Nabîh Asy-Syaikh ‘Alî bin Nâshir Al-Faqîhi hafizhahullâh. Membaca di hadapan beliau sejumlah besar kitab aqidah, antara lain kitab Sharîhus Sunnah karya Ibnu Jarîr Ath-Thabari, kitab Sulâlatur Risâlah fî Dzammir Rawâfidh min Ahlidh Dhalâl karya Mulâ ‘Ali Al-Qâri, pada musim haji tahun 1421 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Asy-Syaikh Al-Jalîl ‘Ubaid bin ‘Abdillâh Al-Jâbiri hafizhahullâh. Membaca di hadapan beliau kitab Mudzakkirah Asy-Syinqîthi fî Ushûlil Fiqh, As-Sailil Jarrâh (jilid I) karya Al-’Allâmah Asy-Syaukâni rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.Asy-Syaikh Al-Lughawi Al-Bâri’ ‘Abdurrahmân bin ‘Auf Al-Kûni. Mempelajari kitab Malhatul I’rab karya Al-’Allâmah Al-Harîri, dan juga mengikuti majelis pelajaran nahwu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para masyâikh ahlus sunnah lainnya yang mengajar beliau di Fakultas Hadits di Universitas Islam Madinah juga termasuk guru-guru beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dengan Asy-Syaikh Al-’Allâmah ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz rahimahullah dan Asy-Syaikh Al-’Allâmah Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berdua adalah ‘ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah masa ini. Tokoh besar salafiyyun masa ini yang sangat terhormat dan disegani. Ketokohan dan kapasitas keilmuan dan keshalihan beliau berdua diakui secara internasional, baik oleh kawan maupun lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berdua merupakan guru besar Asy-Syaikh ‘Abdullâh Al-Bukhâri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Imâm ‘Abdul ‘Azîz bin Bâz rahimahullah&lt;br /&gt;Menghadiri majelis beliau di masjid di daerah Ath-Tha`if, pada musim panas tahun 1408 H, membahas kitab Bulûghul Marâm karya Al-Hâfizh Ibnu Hajar. Kemudian hadir pula di majelis pembacaan kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jâmi’it Tirmidzi di kediaman beliau di Ath-Tha`if. Sering hadir dalam majelis-majelis beliau dan menyampaikan berbagai pertanyaan kepada beliau.&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Bukhâri menuturkan : “Aku ingat, suatu waktu ketika aku bertanya kepada beliau tentang belajar di Universitas Islam Madinah. Maka beliau memberikan motivasi dan dorongan kepadaku. Kemudian aku tanya lagi tentang Fakultas Hadits, maka beliau pun makin memberikan motivasi kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Faqîh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullah.&lt;br /&gt;Menghadiri pelajaran-pelajaran beliau di Masjidil Haram pada sepuluh terakhir Ramadhân tahun 1407 H, ketika itu beliau mensyarh Hadits Jibril yang sangat panjang. Menghadiri pelajaran beliau di ‘Unaizah pada musim panas tahun 1408 H dan 1409 H. Demikian juga senantiasa hadir dalam pelajaran beliau di Masjid Nabawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan dengan Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Muhaddits An-Nâqid Muhammad Nâshiruddîn Al-Albâni rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beliau rahimahullah berziarah ke Madinah pada tahun 1408 H, maka kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh Asy-Syaikh Al-Bukhâri untuk senantiasa menghadiri seluruh majelis-majelis beliau. Majelis-majelis umum dan sebagian dari majelis khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-Bukhâri menuturkan kenangan manisnya bersama Asy-Syaikh Al-Albâni : “Aku merasa mulia ketika aku berkesempatan untuk menyendiri bersama beliau. Ketika itu beliau sedang berada di luar masjid hendak menuju tempat tinggalnya. Maka aku menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada beliau, sambil beliau memegang tanganku dan menyilangkan jari-jari tangan kanan beliau dengan jari-jari tangan kiriku. Kemudian beliau menanyaiku, bahwa siapa namaku dan belajarku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karir Ilmiah&lt;br /&gt;1.Lulus dari Fakultas Hadits Al-Jâmi’ah Al-Islâmiyyah (Universitas Islam) Madinah pada tahun ajaran 1410 – 1411 H dengan peringkat : sangat baik.&lt;br /&gt;2.Guru/Pengajar Ad-Dirâsât Al-Islâmiyyah (Studi Ilmu Islam) di madrasah Ibtida`iyyah dan Tsanawiyyah selama 6 tahun, di bawah Departemen Pendidikan dan Pengajaran.&lt;br /&gt;3.Tahun 1417 H melanjutkan jenjang Magister (S2) di Universitas Ummul Qurâ Makkah Al-Mukarramah, Fakultas Da’wah dan Ushûlud Dîn Jurusan Al-Kitâb was Sunnah. Lulus dengan predikat cumlaod.&lt;br /&gt;4.Menulis tesis magister dengan judul Marwiyyât Abî ‘Ubaidah bin ‘Abdillâh bin Mas’ûd ‘an Abîhi Jam’an wa Dirâsatan. Diuji pada 21 – 8 – 1420 H, dan berhasil meraih cumload dengan anjuran untuk mencetak tesis tersebut.&lt;br /&gt;5.Tahun 1418 H pindah dari Departemen Pendidikan dan Pengajaran ke Universitas Islam Madinah, kembali ke Fakultas Hadits jurusan Fiqhus Sunnah wa Mashâdiruhâ.&lt;br /&gt;6.Berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1426 H dengan tesis tahqîq (penelitian) atas kitab Takmilatu Syarh At-Tirmidzi karya Al-Hâfizh Al-’Irâqi, mulai awal kitab ar-radhâ’ sampai pada penghujung kitab Idzâ Aflasa lirrajuli Gharîm. Dengan prestasi cumlaude pada level utama.&lt;br /&gt;7.Sekarang sebagai Ustâdz Musâ’id  pada Fakultas Hadits jurusan Fiqhus Sunnah wa Mashâdiruhâ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya Tulis :&lt;br /&gt;Tidak diragukan, bahwa ikut berperan aktif dalam mengumpulkan ilmu dan menyebarkannya merupakan perkara yang sangat penting dan mulia. Allah  telah memberikan nikmat dan taufiqnya kepada Asy-Syaikh Al-Bukhâri untuk juga memiliki andil yang besar pada sisi ini. Beliau memiliki banyak karya tulis ilmiah yang beliau tekuni sejak lama. Tidak lain adalah dalam rangka ikut berperan aktif menyebarkan ilmu yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas manhaj salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara karya tulis beliau :&lt;br /&gt;1.Marwiyyât Abî ‘Ubaidah bin ‘Abdillâh bin Mas’ûd ‘an Abîhi Jam’an wa Dirâsatan (karya tulis), dicetak oleh penerbit Dâr Adhwâ’is Salaf Al-Mishiryyah.&lt;br /&gt;2.Takmilatu Syarh At-Tirmidzi karya Al-Hâfizh Al-’Irâqi (tahqîq). Belum dicetak.&lt;br /&gt;3.Manârus Sabîl bi Takhrîji Juz`i Ibni Dîzîl (tahqîq) dicetak oleh penerbit Al-Ghurabâ` Madinah pada tahun 1413 H. dicetak ulang lagi pada tahun ini 1429 H oleh penerbit Dâr Al-Imâm Ahmad Mesir.&lt;br /&gt;4.Ithâful Nubalâ` bi Adillati Tahrîm Ityânil Mahal Al-Makrûh minan Nisâ` (karya tulis) dicetak pada tahun 1414 H, oleh penerbit Dârul Ghurabâ` Madinah, dicetak ulang pada tahun 1428 H oleh penerbit Dârul Minhâj, Mesir.&lt;br /&gt;5.Riyâdhul Jannah bi Takhrîji Ushûlis Sunnah libni Abî Zamanin (tahqîq dan takhrîj) dicetak tahun 1414 H oleh penerbit Dârul Ghurabâ`, dicetak ulang oleh Dâr Adhwâ`is Salaf, Mesir pada tahun ini 1429 H.&lt;br /&gt;6.Tuhfatul Ikhwân bi Takhrîji Majlisi min Amâli Ibni Bisyrân (takhrîj dan tahqîq) masih tulisan tangan belum dicetak.&lt;br /&gt;7.At-Tanbîh wal Irsyâd litajâwuzât Mahmûd Al-Haddâd (karya tulis), fotocopy, publikasi tahun 1414 H.&lt;br /&gt;8.Al-Fathul Rabbâni fir Radd ‘alâ Abil Hasan As-Sulaimâni (karya tulis) dicetak tahun 1424 H oleh penerbit Dârul âtsâr, Yaman, dan dicetak pula pada tahun 1425 H oleh penerbit Dâr Mâjid ‘Asîrî, Jeddah – Saudi.&lt;br /&gt;9.At-Taudhîhul Abhar li Tadzkirati Ibnil Mulaqqin fî ‘Ilmil Atsar karya Al-Hâfizh As-Sakhâwi (tahqîq) dicetak oleh Dâr Adhwâ`is Salaf, Riyadh – Saudi tahun 1418 H, dan tahun ini dicetak lagi oleh penerbit Dâr Al-Imâm Ahmad, Mesir.&lt;br /&gt;10.Al-Maqâlat Asy-Syar’iyyah/kumpulan pertama, (karya tulis), dengan pengantar dari Al-’Allâmah Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi rahimahullah dan Al-’Allâmah Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali hafizhahullâh, dicetak oleh Dârul Madînah Al-’Amaliyyah, Imarat pada tahun 1428 H, dan dicetak pula oleh Dâr Adhwâ`is Salaf, Mesir pada tahun yang sama.&lt;br /&gt;11. Al-Maqâlat Asy-Syar’iyyah/kumpulan kedua (karya tulis), dicetak oleh Dâr Adhwâ`is Salaf, Mesir pada tahun 1429 H.&lt;br /&gt;12. Al-Ajwibah Al-Madaniyyah ‘an Al-As`ilatil Haditsiyyah (karya tulis) dicetak pada tahun 1429 H oleh penerbit Dârul Istiqamah, Mesir.&lt;br /&gt;13.Mushthalahâtul Muhadditsîn fî Kitâbatil Hadîts wa Dhabthihi wa Ishlâhihi (pembasan ilmiah) telah diuji oleh Universitas Al-Imâm Muhammad bin Su’ûd. Diangkat oleh universitas dan akan ditampilkan dalam beberapa edisi majalah universitas. Semoga Allah memudahkan penerbitannya.&lt;br /&gt;14.Su`âlât Al-Imâm Abî Zur’ah Ad-Dimasyqi li Al-Imâm Ahmad bin Hanbal fi Kitâbihi (at-Târîkh), Jam’an wa Dirâsatan (karya tulis), pembahasan ilmiah telah diuji oleh Lembaga Riset Ilmiah Universitas Islam Madinah. Kemudian akan dicetak oleh Dârul Istiqâmah, Mesir. Semoga Allah memudahkan penerbitannya.&lt;br /&gt;15.Tamâmul Minnah bi Syarh Ushûlis Sunnah li Al-Imâm Al-Humaidi (transkrip atas pelajaran) – (karya tulis), dicetak oleh Dârul Istiqâmah, Mesir tahun 1429 H.&lt;br /&gt;16.At-Ta’liqât Ar-Radhiyyah ‘alâ Al-Manzhûmah Al-Baiqûniyyah (karya tulis), akan dicetak oleh Dârul Istiqâmah, Mesir. Semoga Allah memudahkan penerbitannya.&lt;br /&gt;17.Kemudian Dârul Istiqâmah juga meminta naskah transkrip atas transkrip 2 kaset syarh kitab Al-Mûqizhah karya Adz-Dzahabi. Semoga Allah memudahkan penerbitannya.&lt;br /&gt;18.At-Ta’liqât Ar-Radhiyyah ‘alâ Al-’Aqîdah Al-Wâsithiyyah karya Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah. Syarh yang telah ditranskrip, tahun 1424 H. Naskahnya diminta oleh Dârul Falâh untuk dicetak. Saat ini masih dalam proses murâja’ah.&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi selain yang tersebut di atas. Semoga Allah membantu dan memudahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab yang diajarkan :&lt;br /&gt;Kitab-kitab yang diajarkan oleh Asy-Syaikh Al-Bukhâri hafizahullâh dalam berbagai pelajaran beliau, antara lain :&lt;br /&gt;1.Haqqut Tilâwah, dalam bidang ilmu tajwid. Karya Husni Syaikh ‘Utsmân.&lt;br /&gt;2.Al-Burhân fi Tajwîdil Qur`an , karya Ash-Shâdiq Al-Qamhâwi.&lt;br /&gt;3.Al-Ushûlts Tsalâtsah.&lt;br /&gt;4.Al-Qawâ’idul Arba’ah.&lt;br /&gt;5.Kitâbut Tauhîd (ketiga kitab ini karya Al-Imâm Muhammad bin ‘Abdil Wahhâb v).&lt;br /&gt;6.Fathul Majîd Syarh Kitâbit Tauhîd.&lt;br /&gt;7.Sullamul Wushûl, karya Al-’Allâmah Hâfizh Hakami.&lt;br /&gt;8.Ushûlus Sunnah, karya Al-Humaidi.&lt;br /&gt;9.As-Sunnah, karya Al-Muzani.&lt;br /&gt;10.Sharîhus Sunnah, karya Ibnu Jarîr Ath-Thabari.&lt;br /&gt;11.As-Sunnah, karya ‘Abdullah bin Al-Imâm Ahmad.&lt;br /&gt;12.Al-Imân, karya Abû ‘Ubaid Al-Qâsim bin Sallâm.&lt;br /&gt;13.Kitâbut Tauhîd dari kitab Shahîh Al-Bukhâri.&lt;br /&gt;14.Kitâbul Imân dari kitab Shahîh Al-Bukhâri.&lt;br /&gt;15.Al-Wâsithiyyah, karya Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah.&lt;br /&gt;16.Kitâbur Riqâq dari kitab Shahîh Al-Bukhâri.&lt;br /&gt;17.Al-Manzhûmah Al-Baiqûniyyah.&lt;br /&gt;18.Ikhtishâr ‘Ulûmil Hadîts, karya Ibnu Katsîr.&lt;br /&gt;19.At-Taudhîhul Abhar li Tadzkirati Ibnil Mulaqqin fî ‘Ilmil Atsar karya Al-Hâfizh As-Sakhâwi.&lt;br /&gt;20.Al-Mûqizhah karya Adz-Dzahabi.&lt;br /&gt;21.Al-Muqni’ fî ‘Ulûmil Hadîts karya Ibnul Mulaqqin.&lt;br /&gt;22.Irsyâd Thullâbil Haqâ`iq, karya Al-Hâfizh An-Nawawi.&lt;br /&gt;23.Muqaddimah Shahîh Muslim bin Al-Hajjâj.&lt;br /&gt;24.Nukhbatul Fikar fî Mushthalahi Ahlil Atsar, karya Al-Hâfizh Ibni Hajar.&lt;br /&gt;25.Mukhtashar Shahîhil Bukhâri, karya Az-Zubaidi.&lt;br /&gt;26.Al-Adabul Mufrad karya Al-Imâm Al-Bukhâri.&lt;br /&gt;27.’Umdatul Ahkâm Al-Kubrâ karya Al-Hâfizh Al-Maqdisi.&lt;br /&gt;28.’Umdatul Ahkâm Ash-Sughrâ karya Al-Hâfizh Al-Maqdisi.&lt;br /&gt;29.Bulûghul Marâm min Adillatil Ahkâm karya Al-Hâfizh Ibnu Hajr.&lt;br /&gt;30.Al-Anjam Az-Zâhirât ‘ala Hill Alfâzhil Waraqât, karya Al-Mâridîni Asy-Syâfi’i.&lt;br /&gt;31.Al-Arba’în An-Nawawiyyah.&lt;br /&gt;32.Minhâjus Sâlikîn, karya Al-’Allâmah As-Sa’di.&lt;br /&gt;33.Bahjatul Qulûbil Abrâr, karya Al-’Allâmah As-Sa’di.&lt;br /&gt;34.Al-Muharrar fîl Hadîts, karya Al-Hâfizh Ibnu ‘Abdil Hâdi.&lt;br /&gt;35.Ar-Risâlah At-Tabûkiyyah, karya Al-Imâm Ibnul Qayyim.&lt;br /&gt;36.Al-Wâbilush Shayyib min Al-Kallimith Thayyib, karya Al-Imâm Ibnul Qayyim.&lt;br /&gt;37.Ad-Durûsul Muhimmah li ‘âmmatil Ummah, karya Al-’Allâmah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz.&lt;br /&gt;38.Dhawâbithul Jarh wat Ta’dîl, karya ‘Abdul ‘Azîz ‘Abdul Lathîf.&lt;br /&gt;39.Ar-Raf’u wat Takmîl fil Jarh wat Ta’dîl, karya Al-Kanawi Al-Hindi.&lt;br /&gt;40.Thuruq Takhruju Hadîts Rasûlillâh .&lt;br /&gt;41.Al-Jâmi’ li Akhlâqir Râwi wa âdâbis Sâmi’, karya Al-Hâfizh Al-Khathîb Al-Baghdâdi.&lt;br /&gt;42.Al-Âjurrûmiyyah.&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi lainnya.&lt;br /&gt;Para ‘Ulama Senior yang memberikan Ijazah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ‘ulama kibâr (senior) Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang memberikan ijazah kepada Asy-Syaikh ‘Abdullâh Al-Bukhâri, antara lain :&lt;br /&gt;1.Asy-Syaikh Bakri Ath-Tharâbîsyi.&lt;br /&gt;2.Al-’Allâmah An-Nâshih Ash-Shâdiq Ar-Rabbâni Asy-Syaikh Muhammad Amân bin ‘Ali Al-Jâmi rahimahullah.&lt;br /&gt;3.Al-’Allâmah Al-Mu`arrikh Al-Lughawi An-Nassâbah Shafiyyurrahmân Al-Mubârakfûri rahimahullah.&lt;br /&gt;4.Al-’Allâmah Al-Muhaddits Al-Faqîh Asy-Syaikh Ahmad bin Yahyâ An-Najmi rahimahullah.&lt;br /&gt;5.Asy-Syaikh Al-’Allâmah Al-Muhaddits Abû Muhammad Badî’uddîn Asy-Syahur Rasyîd As-Sindi Asy-Syarîf rahimahullah. Ijazah “Munjidul Mustajîz li Riwâyatis Sunnah wal Kitâbil ‘Azîz” tertanggal 15 Rajab 1416 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi. Ada pula para ‘ulama yang mengirimkan ijazah kepada beliau, tanpa beliau minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian dan Tazkiyyah Al-’Allâmah Al-Muhaddits Al-Mujâhid Al-Wâlid Asy-Syaikh Rabî’ bin Hâdi Al-Madkhali hafizhahullâh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Rabî’ ditanya : “Bagaimana pendapat engkau menghadiri pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh Asy-Syaikh ‘Abdullâh Al-Bukhâri?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau hafizhahullâh menjawab : “Saya menasehatkan kepada kaum muda di Madinah untuk menghadiri pelajaran-pelajaran yang disampaikan oleh Al-Akh ‘Abdullâh Al-Bukhâri, karena sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang terbaik di kalangan Ahlus Sunnah, dan termasuk orang-orang yang senantiasa membelanya dalam setiap kesempatan sepengetahuanku. Dia rajin menulis, beraktivitas, dan bergerak dalam rangka membela sunnah dan ahlus sunnah lebih banyak daripada mayoritas orang-orang yang memeranginya dari kalangan ahlul ahwâ` (pengikut hawa nafsu), baik dulu maupun sekarang. Jadi dia (Asy-Syaikh ‘Abdullâh Al-Bukhâri) adalah di antara orang-orang terbaik di kalangan ahlus sunnah, Insyâ`allâh. Kita memohon kepada Allah agar mengokohkan kita dan dia di atas sunnah dan menjadi kita semua bermanfaat. Tidaklah aku tahu tentangnya, kecuali dia adalah salafy yang baik. Kita semua sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang sering berbuat salah adalah orang yang senantiasa bertaubat.&lt;br /&gt;Maka saya wasiatkan dengan pria ini (Asy-Syaikh ‘Abdullâh), karena dia di antara lulusan terbaik Al-Jâmi’ah Al-Islâmiyyah (Universitas Islam Madinah), menyandang gelar magister, dan sekarang sedang menempuh doktoral. Dia orang yang sangat cerdas, pemuda yang sangat cerdas. Saya mengenalnya berada di atas manhaj salafi, insyâ`allâh. Maka hadirlah kalian (pada pelajaran-pelajaran)nya, dan ambillah faedah darinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Tazkiyyah ini beliau sampaikan pada hari Jum'at 14 Jumâdal Ulâ 1425 H, dalam tanya jawab pada pelajaran Kitâbusy Syarî'ah karya Al-Imâm Al-âjurri (Bab : Beriman kepada Telaga yang diberikan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), tepatnya pada menit 42 : 35]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber : Email dari al Akh Abu Amr. File PDF di http://www.salafy.or.id/upload/biografialBukhari.pdf) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-2351143009956392100?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/2351143009956392100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=2351143009956392100' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/2351143009956392100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/2351143009956392100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-asy-syaikh-abdullah-al-bukhari.html' title='Biografi Asy Syaikh Abdullah Al Bukhari'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-7883915032226201466</id><published>2009-11-18T11:47:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:48:34.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Asy Syaikh Ubaid Al-Jabiri</title><content type='html'>Disusun oleh: Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Yahya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah Ubaid bin Abdillah bin Sulaiman Al-Hamdani Al-Jabiri. Suku Hamdan termasuk dalam keluarga suku  Jabir dan suku Jabir  termasuk ke dalam keluarga suku Harb Al-Hijaz. Beliau adalah kepala suku Hamdan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dilahirkan di Hijaz pada tahun 1357 H di desa Al Faqir (yang sekarang telah menjadi kota administratif)[1] yang berada di kabupaten Wadi Fura’ (suatu lembah yang dikelilingi oleh gunug-gunung dan dilalui oleh wadi-wadi/tempat aliran air saat hujan turun dan daerah tersebut terkenal dengan perkebunan kormanya) yang masih termasuk propinsi Madinah. [2] &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1365 H, beliau mengikuti orang tuanya pindah ke Mahd Adz-Dzahab (salah satu kabupaten dalam propinsi Madinah). Beliau tinggal di kabupaten ini selama 8 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mulai mengenyam pendidikan dasar di madrasah Mahd Adz-Dzahab antara tahun 1371 – 1373 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir tahun ini beliau kembali ke Wadi Fura’. Kemudian beliau berpindah ke kota Madinah pada tahun 1374 hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kondisi keluarga yang tidak memungkinkan, beliau tidak dapat melanjutkan studi beliau selama 6 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1381, beliau kembali belajar di Darul Hadits Madinah Nabawiyah yang saat itu dipimpin oleh Syaikh Umar bin Muhammad Fallatah rahimahullah. Beliau menempuh studinya selama 2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau melanjutkan ke tingkat Ma’had Al-Ilmi yang sekarang dinamakan Ma’had Al Madinah Al Ilmi. Di dalamnya, beliau mempelajari ilmu-ilmu syar’i dan bahasa arab mulai tahun 1383-1387 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah itu beliau kuliah di Universitas Islam Madinah Nabawiyah pada tahun 1388-1392 H.  Beliau lulus di tahun 1392 H dengan predikat ‘excellent’ dan terbaik di angkatan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa tugas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau diangkat menjadi pembina di Departemen Penerangan wilayah Jeddah. Beliau bertugas selama 4 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau berpindah tugas di Markas Dakwah di Madinah. Saat itu lembaga ini dibawah naungan Dewan Pimpinan Riset Ilmiah, Dakwah wal Irsyad yang saat itu dipimpin oleh Al Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bertugas selama 8 tahun membantu Direktur Markas dan menggantikannya saat berhalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau berpindah tugas ke Universitas Islam pada hari Ahad 28 Dzulhijjah tahun 1404 dan ditetapkan sebagai guru di Ma’had Ats-Tsanawi dilingkungan Universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1407 H, beliau diangkat sebagai guru bidang ushul fikih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tetap mengajar di Ma’had Ats-Tsanawi di lingkungan Universitas sampai beliau meminta pindah bagian di fakultas dakwah. Dan beliau tetap mengajar di fakultas ini hingga memasuki masa pensiun pada umur 60 tahun pada tahun 1417 H di awal bulan Rajab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi lanjutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah masa tugas, beliau berhasil mendapatkan gelar master dengan desertasi beliau tentang studi tafsir Muhammad bin Ka’b Al Qurazhi pada tahun 1409 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting untuk disebutkan bahwa beliau hafizhahullah dengan biografinya yang harum dan penuh dengan manfaat dan berkah, telah kehilangan penglihatannya di bulan-bulan pertama sejak kelahirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-guru beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau hafizhahullah belajar di bawah bimbingan para ulama yang memiliki keutamaan dalam bidang pendidikan, akhlak dan ilmu agama. Diantara guru-guru beliau yang terkenal adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Di Darul Hadits:&lt;br /&gt;1. Syaikh Saifur-Rahmaan bin Ahmad&lt;br /&gt;2. Syaikh Ammaar bin Abdillaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Di Ma’had Al-Ilmi:&lt;br /&gt;1. Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Al-Khudhairi&lt;br /&gt;2. Syaikh Audah bin Talqah Al-Ahmadi&lt;br /&gt;3. Syaikh Dakhil bin Khalifah Al-Khalithi&lt;br /&gt;4. Syaikh Abdur-Rahmaan bin Abdillah Al-Ajlan&lt;br /&gt;5. Syaikh Muhammad bin Abdillah Al-Ajlan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Di Universitas Islam Madinah:&lt;br /&gt;1. Syaikh Allamah Muhaddits Hammad bin Muhammad Al-Anshari&lt;br /&gt;2. Syaikh Allamah Muhaddits Abdul-Muhsin Al-Abbad&lt;br /&gt;3. Syaikh Abdul Lathif Al Bani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diantara guru-guru yang sangat berpengaruh terhadap beliau adalah Syaikh Allamah Abdul Aziz bin Baz dan Syaikh Allamah Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, dimana beliau sering bertemu keduanya dan banyak belajar dari pribadi dan akhlak keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjumpaan beliau dengan Syaikh Abdul Aziz bin Baz lebih sering, hal ini sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya karena hubungan kerja. Beliau banyak mendapatkan perhatian khusus dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau memiliki beberapa karya, kami sebutkan diantaranya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1-     Taisirul Ilah bi Syarh Adillati Syuruth ‘Laa Ilaaha Illallah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2-     Tanbihu Dzawil Uqul As-Salimah Ila Fawaid Mustanbathah Min As-Sittah Al Ushul Al Azhimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3-     Imdadul Qari bi Syarh Kitab At-Tafsir min Shahih Al Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4-     Fath Al Aziz Al A’la bi Syarh Al Qawa’id Al Mutsla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5-     Syarh Muntaqa Ibnil Jarud –semoga Allah mudahkan penyempurnaannya-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6-     Kumpulan Fatwa beliau. Sekarang dalam proses pengumpulan dan penyusunan –semoga Allah mudahkan penyempurnaannya-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7-     Tanwirul Mubtadi syarh Qawaid Fiqhiyah ibn Si’di. dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas-tugas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Imam masjid As-Sabq di Madinah Nabawiyah (sekarang lokasinya dekat terminal bus SAPTCO ([3]) selama lima tahun antara 1387-1392 H. Kemudian menjadi khathib di masjid Al Iman. Dan sekarang beliau menjadi khatib di masjid Naffa’ Al ‘Amri dekat jl. Amir Abdul Majid.[4]&lt;br /&gt;   2. Guru di sekolah Mutawassithah Umar bin Abdil Aziz di Jeddah tahun 1392-1397 H.&lt;br /&gt;   3. Da’i di Markas Dakwah wal Irsyad di Madinah Nabawiyah sekaligus asisten direktur Markas dan penggantinya jika berhalangan. Tugas ini diemban di akhir 1396-1404 H.&lt;br /&gt;   4. Dosen di Universitas Islam Madinah di akhir 1404-awal bulan Rajab 1417. Dan ini adalah tugas terakhir yang beliau emban. Pada saat inilah beliau memasuki masa pensiun sesuai dengan peraturan yang berlaku.&lt;br /&gt;   5. Dosen I’dad Al Muallimat di Masjid Nabawi bagian sampai sekarang.&lt;br /&gt;   6. Aktif di berbagai seminar, kajian dan daurah ilmiah yang digelar di Saudi Arabia dan negara tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian para ulama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan beliau dalam ranah ilmiah dan kapasitas serta aktifitas beliau dalam dakwah salafiyah banyak mengundang pujian para ulama. Diantara mereka adalah Syaikh Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah, Syaikh Allamah Muhammad Al Banna, Syaikh Allamah Zaid Al Madkhali, Syaikh Allamah Shalih As-Suhaimi hafizhahumullah dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Allamah Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah pernah ditanya oleh sejumlah pemuda dari kota Manchester : Apa pendapat anda tentang Syaikh Ubaid Al Jabiri ? Apakah beliau bukan seorang alim, hanya penuntut ilmu biasa saja ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab : Barangsiapa yang mencela beliau dan mengatakannya bodoh, (maka) orang ini telah menempuh jalan setan dan mengikuti pola-pola hizbiyyah dalam mencela ulama yang bermanhaj salafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ubaid termasuk ulama salafiyyin yang terkenal dengan sikap wara’, zuhud dan berkata kebenaran barakallahu fikum. (sumber : muhadharah yang disampaikan kepada pemuda Manchester pada tanggal 9 Dzulhijjah 1425 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekilas tentang biografi Syaikh Allamah Ubaid Al Jabiri hafizhahullah yang sekarang ini telah berumur 72 tahun. Beliau telah menginfakkan hidupnya dalam dunia pendidikan dan dakwah di jalan Allah. Semoga apa yang telah beliau tempuh diterima oleh Allah Ta’ala sebagai timbangan kebaikan di sisi-Nya dan semoga Allah senantiasa menjaga beliau dan mewafatkannya dalam husnul khatimah. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdillah Muhammad Yahya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madinah Nabawiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 Shafar 1430 H&lt;br /&gt;[1] Sekitar 140 Km dari kota Madinah Nabawiyah. Terletak diantara Makkah dan Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. Saya pernah berkunjung ke Al Faqir bersama beliau dan dikenalkan pada beberapa tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Di Indonesia dikenal dengan DAMRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Kurang lebih 50 M dari rumah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-7883915032226201466?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/7883915032226201466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=7883915032226201466' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/7883915032226201466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/7883915032226201466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-asy-syaikh-ubaid-al-jabiri.html' title='Biografi Asy Syaikh Ubaid Al-Jabiri'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-1069894301000524199</id><published>2009-11-18T11:46:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:47:10.245+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab</title><content type='html'>Biografi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berikut ini disusun oleh Abdurrazzaq bin Shalih An-Nahmi, salah seorang thalibul ilmi di Darul Hadits Dammaj, di mana riset beliau terhadap karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab yang berjudul “Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah” mendapat pujian dari banyak ulama Yaman. Setidaknya lima orang ulama besar Yaman memberikan rekomendasi untuk membaca hasil riset beliau tersebut yang insya Allah dalam waktu dekat akan hadir terjemahannya di negeri kita biidznillahi ta’ala. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab yang beliau tulis adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nasab dan pertumbuhan beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah Asy-Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barra bin Musyrif At-Tamimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran Beliau&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah dilahirkan pada tahun 1115 dari Hijrah Nabi –semoga shalawat dan salam yang paling afdhal tercurah atas beliau- di kota ‘Uyainah yang masih masuk wilayah Najd, sebelah barat dari kota Riyadh, jaraknya dengan kota Riyadh sekitar perjalanan 70 km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan Beliau&lt;br /&gt;Beliau tumbuh dan besar di negeri ‘Uyainah dan menimba ilmu di sana. Beliau hafal Al-Qur’an sebelum umur 10 tahun. Beliau seorang yang jenius dan cepat memahami. Di bawah asuhan bapaknya sendiri beliau belajar fikih mazhab Hambali, tafsir, hadits, aqidah dan beberapa bidang ilmu syar’i serta bahasa. Beliau sangat menaruh perhatian besar terhadap kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim rahimahumallah, sehingga beliau terpengaruh oleh keduanya dan berjalan di atas jalan mereka dalam mementingkan masalah aqidah yang benar, mendakwahkannya, membelanya dan memperingatkan dari perbuatan menyekutukan Allah, bid’ah serta khurafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengadakan rihlah (perjalanan) menuju Mekkah untuk menunaikan kewajiban haji dan mencari bekal ilmu syar’i. Kemudian beliau rihlah ke Madinah Nabawiyyah dan di sana bertemu dengan dua syaikh yang alim lagi mulia, yang mana keduanya mempunyai pengaruh terbesar dalam kehidupan beliau, mereka adalah Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif An-Najdi dan Asy-Syaikh Muhammad Hayah bin Ibrahim As-Sindi. Lantas beliau rihlah ke Bashrah dan beliau mendengarkan hadits, fikih dan membacakan nahwu kepada gurunya sampai menguasainya. Kemudian beliau rihlah ke daerah Ahsa’ dan bertemu dengan syaikh-syaikh Ahsa’, di antaranya Abdullah bin Abdul Lathif seorang hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kiprah Beliau dalam Menyerukan Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pulang ke daerah Huraimala’, karena ayah beliau dulunya seorang hakim di ‘Uyainah, lantas terjadi pertentangan antara beliau dengan pemimpin ‘Uyainah sehingga beliau pindah ke Huraimala’ pada tahun 1139 dan menetap di sana menyeru kepada tauhid dan memperingatkan dari kesyirikan sampai ayah beliau meninggal pada tahun 1153 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas sebagian orang-orang jelek lagi jahat melakukan konspirasi untuk mencelakakan beliau disebabkan beliau senantiasa mengingkari kefasikan dan kejahatan mereka, sampai-sampai mereka hendak membunuh beliau. Kemudian beliau beritahukan perihal mereka kepada beberapa orang sehingga akhirnya mereka lari. Lalu setelah konspirasi tersebut berhasil menyudutkan Asy-Syaikh, beliau pun berpindah ke ‘Uyainah dan beliau tawarkan dakwahnya kepada pemimpin ‘Uyainah yang ketika itu pemimpinnya adalah Utsman bin Ma’mar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan ‘Uyainah pun menyambut beliau, membantunya, mendukungnya dan bersama dengan beliau menghancurkan kubah Zaid bin Al-Khatthab dan menghancurkan beberapa kubah serta kubur yang dibangun, bahkan bersama beliau merajam seorang wanita yang datang mengaku telah berzina padahal dia muhshan (telah pernah menikah- ed).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beliau menghancurkan kubah dan melakukan rajam dalam masalah zina, maka menjadi masyhurlah perkara beliau dan tersiarlah reputasi baik beliau. Masyarakat pun mendengar tentang beliau, dan berdatangan dari berbagai daerah sekitarnya membantu beliau sehingga semakin besarlah kekuatan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, sampailah berita perbuatan Asy-Syaikh menghancurkan kubah dan kubur serta penegakan hukum had kepada pemerintah Ahsa’ dan sekutu-sekutunya. Hal ini membuat pemerintah Ahsa’ merasa khawatir terhadap kerajaannya dan memerintahkan kepada Utsman bin Ma’mar untuk membunuh Asy-Syaikh atau mengusirnya dari ‘Uyainah. Jika tidak dilakukan, maka akan diputus upeti darinya. Maka Utsman bin Ma’mar akhirnya menerima desakan ini dan memerintahkan Asy-Syaikh agar keluar dari ‘Uyainah dan beliaupun keluar darinya menuju Dir’iyyah. Hal itu terjadi pada tahun 1158 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Dir’iyyah beliau singgah sebagai tamu Muhammad bin Suwailim Al-‘Uraini, lantas pemimpin Dir’iyyah Muhammad bin Su’ud mengetahui akan kedatangan Asy-Syaikh. Dan disebutkan bahwa yang memberitahukan kedatangan Asy-Syaikh adalah isteri Ibn Su’ud sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang shalih mendatangi wanita tersebut dan berkata kepadanya,&lt;br /&gt;“Beritahukan kepada Muhammad (Ibn Su’ud –ed) tentang orang ini! Semangatilah dia untuk mau membelanya dan beri motivasi kepadanya agar mau mendukung serta membantunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Muhammad adalah seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa. Ketika sang amir Muhammad bin Su’ud pemimpin Dir’iyyah dan sekitarnya masuk menemui istrinya, istrinya pun berkata kepadanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bergembiralah dengan ghanimah (anugerah) yang besar ini. Ini adalah ghanimah yang Allah kirimkan kepadamu, seorang lelaki yang menyeru kepada agama Allah, menyeru kepada Kitabullah, menyeru kepada sunnah Rasulullah. Sungguh betapa ghanimah yang begitu besar. Bersegeralah menerimanya, bersegeralah menolongnya, dan jangan kamu berhenti saja dalam hal itu selamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang amir pun menerima saran istrinya dan sungguh bagus apa yang dilakukannya rahimahullah. Amir pergi ke kediaman Muhammad bin Suwailim Al-‘Uraini dan berkata kepada Asy-Syaikh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bergembiralah dengan pertolongan dan bergembiralah dengan keamanan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Asy-Syaikh berkata kepadanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Anda juga bergembiralah dengan pertolongan, bergembiralah dengan kekokohan dan kesudahan yang terpuji. Ini adalah agama Allah, siapa yang menolongnya niscaya Allah akan menolongnya. Siapa yang mendukungnya niscaya Allah akan mendukungnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian amir berkata kepada Asy-Syaikh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membaiatmu di atas agama Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah. Akan tetapi aku khawatir jika kami telah mendukungmu dan membantumu lantas Allah memenangkanmu atas musuh-musuh Islam lantas engkau menginginkan selain bumi kami dan berpindah dari kami ke tempat lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Asy-Syaikh menanggapinya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bentangkan tanganmu, aku akan membaiatmu bahwa darah dibalas dengan darah, kehancuran dengan kehancuran dan aku membaiatmu untuk tetap tinggal bersama kalian dan aku tidak akan keluar dari negerimu selamanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, Asy-Syaikh tinggal di Dir’iyyah dalam keadaan dihormati dan didukung sepenuhnya, menyeru kepada tauhid dan memperingatkan dari syirik. Orang-orang pun berdatangan, baik secara berkelompok maupun individu. Beliau mengajarkan aqidah, Al-Qur’an Al-Karim, tafsir, fikih, hadits, musthalah hadits, berbagai ilmu bahasa Arab dan tarikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau biasa berkirim surat dengan para ulama dan umara dari berbagai negeri dan penjuru, menyeru mereka kepada agama Allah sehingga tersebarlah dakwah beliau. Setelah itu semakin banyaklah kedengkian, mereka lantas berhimpun dan bersatu menentang beliau. Maka amir mengobarkan jihad dengan pedang dan tombak, dan peristiwa itu terjadi pada tahun 1158 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh membantunya sampai akhirnya dakwah beliau tersebar menyeluruh sampai ke penjuru alam dan gaungnya masih senantiasa bergema sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sanjungan para ulama terhadap beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama betul-betul mengenal Imam ini dan memberikan pujian kepadanya, bahkan mereka sampai menulis biografi tentangnya. Di antara mereka adalah Asy-Syaikh Husain bin Ghanam. Beliau banyak menulis tentang Asy-Syaikh, memujinya dan menyebutkan kisah perjalanan hidupnya dalam kitab Raudhatul Anzhar wal Afham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara mereka juga Asy-Syaikh Utsman bin Bisyr, yang memujinya dalam kitab ‘Unwanul Majdi fi Tarikhi Majdin, dan Asy-Syaikh Mas’ud An-Nadqi menulis tentang beliau dalam kitab yang diberi judul Al-Mushlih Al-Mazhlum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang memuji beliau juga orang alimnya Yaman yaitu Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani dalam sebuah qoshidah panjang yang awalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salam bagi Najd dan orang yang tinggal di Najd&lt;br /&gt;Meskipun salamku dari kejauhan ini tiada berguna&lt;br /&gt;Sungguh aku telah mendatangkan siraman kehidupan dari kaki bukit Shan’a&lt;br /&gt;Dia didik dan dia hidupkan dengan tertawanya guntur&lt;br /&gt;Aku berjalan seperti orang yang digerakkan mencari angin, jika kuberjalan&lt;br /&gt;Wahai putera Najd kapan engkau akan beranjak dari Najd&lt;br /&gt;Perjalananmu dan para penduduk Najd mengingatkanku akan Najd&lt;br /&gt;Sungguh sepak terjangmu menjadikanku semakin cinta&lt;br /&gt;Selamanya, dan bertanyalah kepadaku tentang seorang alim yang singgah di negeri Najd&lt;br /&gt;Dengannya terpetunjuk orang yang dulunya sesat dari jalan yang lurus&lt;br /&gt;Muhammad yang memberikan petunjuk kepada sunnah Ahmad&lt;br /&gt;Alangkah indahnya yang memberi petunjuk dan alangkah indahnya yang diberi petunjuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh telah datang berita darinya bahwa dia&lt;br /&gt;mengembalikan kepada kita syariat yang mulia&lt;br /&gt;dengan apa yang ditampakkannya&lt;br /&gt;Dan dia sebarkan secara terang-terangan apa&lt;br /&gt;yang disembunyikan oleh setiap orang bodoh&lt;br /&gt;Dan ahli bid’ah, sehingga sesuailah dengan apa yang aku punya&lt;br /&gt;Dia dirikan tiang-tiang syari’at yang dulunya roboh&lt;br /&gt;Monumen-monumen yang padanya manusia tersesat dari petunjuk&lt;br /&gt;Dengannya mereka mengembalikan makna Suwa dan yang semisalnya&lt;br /&gt;Yaghuts dan Wadd, betapa jelek Wadd itu&lt;br /&gt;Sungguh mereka menyebut-nyebut namanya ketika terjadi kesusahan&lt;br /&gt;Sebagaimana seorang yang terpepet memanggil Dzat&lt;br /&gt;tempat bergantung lagi Maha Esa&lt;br /&gt;Betapa banyak sembelihan yang mereka persembahkan di pelatarannya&lt;br /&gt;disembelih untuk selain Allah secara terang-terangan disengaja&lt;br /&gt;betapa banyak orang yang thawaf di sekitar kubur sambil mencium&lt;br /&gt;dan mengusap pojok-pojoknya dengan tangan”&lt;br /&gt;(Diwan Ash-Shan’ani, hal 128-129)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ulama yang memuji beliau juga Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani tokoh hakim di wilayah Yaman sebagaimana dalam kitabnya Al-Badru Ath-Thali’ tentang biografi Ghalib bin Musa’id sang amir Mekkah. Beliau berkata dalam komentarnya terhadap sebagian risalah Asy-Syaikh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu merupakan risalah-risalah yang bagus yang memuat dalil-dalil Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan bahwa yang menjawabnya merupakan ulama peneliti yang benar-benar paham terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau melantunkan sajak-sajak kesedihan setelah wafatnya syaikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-‘Allamah Ibnu Badran berkata tentang beliau dalam kitabnya Al-Madkhal hal. 447,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang alim yang komitmen terhadap atsar dan imam yang besar, Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau melakukan rihlah untuk menuntut ilmu dan para ahli hadits di masanya memberikan ijazah kepada beliau untuk meriwayatkan kitab-kitab hadits dan yang lainnya. Ketika kantong penyimpanannya telah penuh dari atsar dan ilmu sunnah, serta menguasai mazhab Ahmad, beliau mulai membela al-haq dan memerangi bid’ah, serta menentang ajaran yang disusupkan oleh orang-orang bodoh ke dalam agama ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ulama masa kini yang memberikan sanjungan kepada beliau di antaranya Asy-Syaikh Ibnu Baaz, Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan guru kami Al-Wadi’i rahimahumullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sini aku senang menyebutkan sebagian pujian guruku Al-Imam Al-Wadi’i terhadap Asy-Syaikh Al-Imam Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah ditanya -sebagaimana dalam Al-Mushara’ah hal. 400- tentang dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sungguh merupakan dakwah yang diberkahi. Dan jika engkau membaca kitab beliau Kitab At-Tauhid, maka engkau akan dapati beliau berdalil dengan Al-Qur’an dan hadits nabi. Sama saja apakah dalam bab menggantungkan jimat-jimat dan rajah-rajah, bab berdoa kepada selain Allah, ataupun dalam bab peringatan keras dari membangun kubur. Engkau dapati beliau berdalil dengan ayat Al-Qur’an atau hadits nabi, sungguh Allah telah memberikan manfaat kepada Islam dan muslimin dengan sebab dakwah beliau…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya bahwa dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dirasakan manfaatnya oleh kaum muslimin. Betapa banyak kaum muslimin yang Allah selamatkan dari kesesatan, bid’ah dan khurafat dengan sebab kitab-kitab beliau rahimahullah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata pada hal 402,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang ingin mengetahui dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab maka aku nasehatkan untuk membaca Ad-Durar As-Saniyah sehingga seakan ia duduk mendampingi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kami nasihatkan sebelumnya untuk membaca kitab-kitab beliau dan setelah itu kami nasihatkan agar membaca Ad-Durar As-Saniyyah agar engkau ketahui risalah-risalah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Sungguh beliau adalah seorang yang melakukan perbaikan, tetapi banyak difitnah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata pada hal 410,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah imam yang memberi petunjuk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga pada hal 412 beliau ditanya tentang penyebutan kata Syaikhul Islam bagi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab apakah itu berlebihan atau memang berhak beliau menyandangnya? Maka beliau menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nampaknya beliau memang berhak menyandangnya. Sungguh Allah telah memberikan manfaat kebaikan yang banyak dengan sebab dakwahnya. Allah berkahi dakwahnya dan kaum muslimin mengambil manfaat darinya. Wallahul musta’an (Dan Allah-lah Tempat Meminta Pertolongan –ed.)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Guru-guru beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ayah beliau sendiri Asy-Syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman&lt;br /&gt;b. Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif, yaitu ayah Asy-Syaikh Ibrahim bin Abdullah pengarang kitab Al-‘Adzbu Al-Faidh fi ‘Ilmil Faraidh.&lt;br /&gt;c. Asy-Syaikh Muhammad Hayah bin Ibrahim As-Sindi&lt;br /&gt;d. Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i Al-Bashri&lt;br /&gt;e. Asy-Syaikh Musnid Abdullah bin Salim Al-Bashri&lt;br /&gt;f. Asy-Syaikh Abdul Lathif Al-Afaliqi Al-Ahsa’i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Murid-murid beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Al-Imam Abdul Aziz bin Su’ud&lt;br /&gt;b. Al-Amir Su’ud bin Abdul Aziz bin Sulaiman&lt;br /&gt;c. Putra-putra beliau sendiri, Asy-Syaikh Husain, Asy-Syaikh Ali, Asy-Syaikh Abdullah dan Asy-Syaikh Ibrahim.&lt;br /&gt;d. Cucu beliau Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan, penulis kitab Fathul Majid&lt;br /&gt;e. Asy-Syaikh Muhammad bin Nashir bin Ma’mar&lt;br /&gt;f. Asy-Syaikh Abdullah Al-Hushain&lt;br /&gt;g. Asy-Syaikh Husain bin Ghannam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Karya-karya beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mempunyai banyak karya tulis yang dengannya Allah berikan manfaat kepada alam islami, di antaranya:&lt;br /&gt;a. Kitabut Tauhid&lt;br /&gt;b. Ushulul Iman&lt;br /&gt;c. Kasyfusy Syubhat&lt;br /&gt;d. Tsalatsatul Ushul&lt;br /&gt;e. Mufidul Mustafid fi Kufri Tarikit Tauhid&lt;br /&gt;f. Mukhtashar Fathul Bari&lt;br /&gt;g. Mukhtashar Zadul Ma’ad&lt;br /&gt;h. Masa’il Jahiliyyah&lt;br /&gt;i. Fadhailush Shalah&lt;br /&gt;j. Kitabul Istimbath&lt;br /&gt;k. Risalah Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah, yaitu risalah ini.&lt;br /&gt;l. Majmu’atul Hadits dan sebagian besarnya telah tercetak dalam kumpulan karya-karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada tahun 1398 H di Riyadh di bawah pengawasan Jami’ah Al Imam Muhammad bin Su’ud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Wafat beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah wafat pada hari Jum’at di akhir bulan Dzulqa’dah tahun 1206 H pada umur 71 tahun setelah melakukan jihad yang panjang, berdakwah menyerukan kebaikan, mengadakan perbaikan, menyebarkan ilmu dan pengajaran. Kemudian beliau dimakamkan di pekuburan Dir’iyyah, semoga rahmat Allah terlimpah atasnya. Banyak dari para penyair yang melantunkan bait-bait kesedihannya, di antara mereka adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Asy-Syaukani dalam qasidahnya yang panjang, di antara ucapannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Musibah menimpa kalbuku, berkobar kegundahanku&lt;br /&gt;Dia mengenai titik mematikanku dengan anak panah yang sangat menyakitkan&lt;br /&gt;Dunia tertimpa musibah dengan kepergiannya, menjadi berdebu wajahnya&lt;br /&gt;Dan meninggi bendera-bendera suatu kaum yang dulunya rendah&lt;br /&gt;Sungguh telah wafat gunungnya ilmu, poros penggiling tertinggi&lt;br /&gt;Dan pusat peredaran orang-orang terkemuka lagi mulia&lt;br /&gt;Imamnya petunjuk, penghapus kebodohan, pembungkam kezhaliman&lt;br /&gt;Dan penghilang dahaga dari luapan ilmu…&lt;br /&gt;Muhammad pemilik kemuliaan yang begitu mulia apa yang telah dicapainya&lt;br /&gt;Dan agung kedudukannya untuk bisa disusul oleh orang yang menghambatnya&lt;br /&gt;Sungguh Najd menjadi bercahaya dengan pancaran sinarnya&lt;br /&gt;Dan tegaklah tempat-tempat petunjuk dengan dalil-dalilnya&lt;br /&gt;Tertimpa musibah dengan kepergiannya, terlepas nafas terakhir ruhku&lt;br /&gt;Dan untuk memikul beban ini, terasa lelah punggung bawah dan punggung atasku&lt;br /&gt;Sadarlah wahai orang yang mencela Asy-Syaikh apa yang engkau cela darinya&lt;br /&gt;Sungguh engkau telah mencela suatu kebenaran&lt;br /&gt;Lantas engkau pergi membawa kebatilan&lt;br /&gt;Sadarlah kalian, sadarlah dia bukannya seorang penyeru&lt;br /&gt;Kepada agama nenek moyang dan kabilahnya&lt;br /&gt;Dia hanya menyeru kepada Kitabullah dan sunnah yang&lt;br /&gt;Datang membawanya Thaha , Nabi, sebaik-baik orang yang berbicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Silahkan melihat Diwan Asy-Syaukani hal. 160 cet. Darul Fikr)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Asy-Syaikh Husain bin Ghannam juga melantunkan bait kesedihannya dalam qasidah panjang yang mana awalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kepada Allah kami memohon untuk menyingkap segala kesusahan&lt;br /&gt;Dan tiada tempat memohon selain kepada Allah Al-Muhaimin&lt;br /&gt;Telah tenggelam mataharinya pengetahuan dan petunjuk&lt;br /&gt;Sehingga mengalirlah darah di pipi dan bercucuranlah air mataku&lt;br /&gt;Seorang imam yang manusia tertimpa musibah dengan kehilangannya&lt;br /&gt;Dan terus mengelilingi mereka berbagai musibah menyakitkan dengan perpisahannya&lt;br /&gt;Menjadi kelam segala penjuru negeri sebab kematiannya&lt;br /&gt;Dan menimpa mereka kesulitan mengerikan yang menyedihkan&lt;br /&gt;Sebuah bintang yang jatuh dari ufuk dan langitnya&lt;br /&gt;Sebuah bintang yang terkubur di tanah berlembah sunyi&lt;br /&gt;Bintang keberuntungan yang bersinar cahayanya&lt;br /&gt;Dan bulan purnama yang mempunyai tempat terbit di tempat sebelah kanan&lt;br /&gt;Dan waktu subuh yang sinarnya menerangi manusia&lt;br /&gt;Sehingga kelamnya kegelapan setelah itu menjadi lenyap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil untuk blog www.ulamasunnah.wordpress.com dari Sumber: Ar-Radd ‘alal Rafidhah, tahqiq Abdurrazzaq An-Nahmi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-1069894301000524199?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/1069894301000524199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=1069894301000524199' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/1069894301000524199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/1069894301000524199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-asy-syaikh-muhammad-bin-abdul.html' title='Biografi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-4732481052002621074</id><published>2009-11-18T11:44:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:45:14.155+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i</title><content type='html'>Beliau adalah Muqbil bin Hadi bin Muqbil bin Qanidah Al-Hamadani Al-Wadi’i Al-Khallaaly dari kabilah Aalu Rasyid dan di timur Sha’dah dari lembah Dammaj. Pada permulaan mencari ilmu, beliau belajar pada sebuah jami’ Al-Hadi dan tak ada seorangpun pada waktu itu yang membantunya dalam thalabul ilmi. Selang beberapa waktu beliau pergi menuju Al-Haramain dan Najd. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika seorang penceramah memberinya nasihat tentang kitab-kitab yang ber-manfaat dan menunjukkannya pada Shahih Bukhari, Bulughul Maram, Riyadlush Shalihin, Fathul Majid dan memberinya satu nuskhah dari Kitab Tauhid. Beliau menekuni dan mempelajari buku-buku tersebut. Beberapa waktu kemudian beliau pulang ke negerinya dan mengingkari setiap apa yang dilihatnya yang menyelisihi tauhid dari penyembelihan yang diperuntukkan selain kepada Allah, membangun kubah di atas kuburan dan berdoa kepada orang-orang yang telah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berita ini terdengar oleh orang-orang Syi’ah pada waktu itu, mereka mengatakan, “Barang-siapa yang mengubah ajaran agamanya, maka bunuhlah!” Sebagian dari mereka mengadukan kepada kerabat-kerabat Syaikh, “Jika kalian tidak melarangnya, maka kami akan memenjarakannya.” Setelah itu mereka memutuskan untuk memasukkannya kembali ke Jami’ Al-Hadi untuk belajar pada mereka dan menghilangkan syubhat-syubhat yang ada pada Syaikh (menurut anggapan mereka pent). Berkata Syaikh, “Ketika aku melihat kurikulum yang ditetapkan adalah Syi’ah Mu’tazilah maka aku putuskan untuk konsentrasi dalam ilmu nahwu.” Dan tatkala terjadi perubahan politik antara Republik dan Kerajaan (Yaman), beliau meninggalkan negerinya dan pergi ke Najran untuk ber-mulazamah kepada Abul Husain Majduddin Al-Muayyid dan men-dapatkan faedah darinya, terlebih khusus dalam bahasa Arab. Beliau tinggal di sana selama kurang lebih selama dua tahun, kemudian ber-’azzam untuk ber-rihlah (menempuh perjalanan pent) ke negeri Haramain dan Najd dan belajar pada sebuah madrasah tahfizh Al-Qur’an Al-Karim. Kemudian bertekad lagi untuk safar ke Makkah dan beliau menghadiri durus (halaqoh-halaqoh ilmu pent) di antaranya adalah Syaikh Yahya bin Utsman Al-Baqistani dan Syaikh Al-Qadhi Yahya Asywal dan Syaikh Abdurrazzaq Asy-Syahidi Al-Mahwithi. Lalu beliau masuk ke ma’had Al-Haram Al-Makki dan selesai dari tingkatan mutawasith dan tsanawi beliau pindah ke Madinah dan masuk ke Jami’ah Al-Islamiyah pada fakultas da’wah dan ushuluddin. Saat tiba waktu liburan Syaikh merasa takut kehilangan waktunya, sehingga beliau mengikutsertakan dirinya pada fakultas syari’ah untuk menambah ilmu. Karena materi-materinya saling berdekatan dan sebagiannya sama, maka hal itu dianggap sebagai murajaah (pengulangan) atas yang beliau pelajari di fakultas da’wah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dari dua fakultas ini, Syaikh berkata, “Aku diberi dua ijazah, namun alhamdulillah aku tidak menghiraukannya, yang terpenting bagiku adalah ilmu.” Setelah selesai dari dua fakultas ini dibukalah di jami’ah untuk tingkatan lanjutan yaitu magister, beliaupun mendaftarkan dirinya dan beliau berhasil dalam ujian penerimaannya yaitu dalam bidang ilmu hadits. Berkata Syaikh, “Setelah ini semua, aku tinggal di perpustakaanku. Hanya beberapa saat berdatanganlah sebagian saudara-saudara dari Mesir, maka aku buka pelajaran-pelajaran dari sebagian kitab-kitab hadits dan kitab-kitab bahasa. Dan masih saja para thalabul ilmi berdatangan dari Mesir, Kuwait, Haramain, Najd, ‘Adn, Hadramaut, Al-Jazair, Libia, Somalia, Belgia dan dari kebanyakan negeri-negeri Islam dan yang lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung-gunung dan pasir serta lembah-lembah menjadi saksi bagi Abu Abdirrahman (nama kunyah Syaikh Muqbil pent) dalam penyebaran Sunnah dan kesabarannya dalam menanamkan pada hati manusia serta permusuhannya terhadap bid’ah dengan fadhilah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-guru beliau yang paling masyhur :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abdul Aziz As-Subail&lt;br /&gt;2. Abdullah bin Muhammad bin Humaid&lt;br /&gt;3. Abdul Aziz bin Rasyid An-Najdi&lt;br /&gt;4. Muhammad bin Abdillah Ash-Shoumali&lt;br /&gt;5. Muhammad Al-Amin Al-Mishri&lt;br /&gt;6. Hammad bin Muhammad Al-Anshori&lt;br /&gt;7. Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz (beliau pernah hadir mengikuti sebagian halaqoh ilmunya di Haramun Madani yaitu pada kitab Shahih Muslim)&lt;br /&gt;8. Muhammad Nashiruddin Al-Albani (beliau mengambil faidah darinya pada pertemuan khusus para thalabatul ilmi dan pada kesempatan-kesempatan yang lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari karya-karya Syaikh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ash-Shahih Al-Musnad min Asbabin Nuzul&lt;br /&gt;2. Al-Ilzamaat wat-Tatabbu’&lt;br /&gt;3. Asy-Syafa’at&lt;br /&gt;4. Ash-Shahih Al-Musnad mimma laisa fish-Shahihaini&lt;br /&gt;5. Ash-Shahih Al-Musnad min Dalaailin Nubuwwati&lt;br /&gt;6. Al-Jami’u Ash-Shahih fil-Qadari&lt;br /&gt;7. Al-jami’u Ash-Shahih mimma laisa fish- Shahihaini (tersusun sesuai dengan bab-bab fiqhiyyah)&lt;br /&gt;8. Tatabbu’u Awhamil Hakim fi al-Mustadrak al-lati lam yunabbih ‘alaiha Adz-Dzahabi ma’a Tarajimi lir-ruwati alladzina laisu min rijali Tahdzibi At-Tahdzib&lt;br /&gt;9. As-Suyufu Al-Bathirat li ilhadi Asy-Syuyuiyyah Al-Kafirah&lt;br /&gt;10. Ijabatu As-Saili ‘an ahammi Al-Masaili&lt;br /&gt;11. Dan beliau juga mempunyai sekitar 33 karya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa murid-murid Syaikh yang menonjol, murid-murid beliau sangat banyak sekali tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah, kami sebutkan beberapa di antaranya yang menonjol dari kalangan muallifin (penulis buku), para dai-dai, dan selain mereka :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ahmad bin Ibrahim Abul Ainain Al-Mishri&lt;br /&gt;2. Ahmad bin Sa’id Al-Asyhabi Al-Hajari Abul Mundzir&lt;br /&gt;3. Usamah bin Abdul Latif Al-Kushi, penulis kitab Al-Adzan&lt;br /&gt;4. Abdullah bin Utsman Ad-Damari, beliau terkenal sebagai pemberi ceramah kalangan Ahlussunnah di Yaman&lt;br /&gt;5. Abdul Aziz bin Yahya Al-Bura’i&lt;br /&gt;6. Abdul Mushawwir bin Muhammad Al- Ba’dani&lt;br /&gt;7. Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobi Abdali&lt;br /&gt;8. Muhammad bin Abdillah Al-Imam Abu Nashr Ar-Raimi&lt;br /&gt;9. Musthofa bin Ismail Abul Hasan As- Sulaimani Al-Maghribi&lt;br /&gt;10. Musthofa ibnul Adawi Al-Mishry&lt;br /&gt;11. Yahya bin Ali Al-Muri&lt;br /&gt;12. Abdur Raqib bin Ali Al-Ibbi&lt;br /&gt;13. Qasim bin Ahmad Abu Abdillah At-Taizi&lt;br /&gt;14. Jamil bin Ali Asy-Syaja’ Ash-Shobari&lt;br /&gt;15. Ali bin Abdillah Abul Hasan Asy-Syaibani&lt;br /&gt;16. Auf bin Abdillah Al-Bakkari Abu Harun&lt;br /&gt;17. Utsman bin Abdillah Al-Utmi&lt;br /&gt;18. Ummu Abdillah binti Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, penulis kitab Ash-Shahihul Musnad min Asy-Syamaili Al-Muhammadiyyah dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diringkas oleh Abu Malik Adnan Al-Maqthori&lt;br /&gt;Dinukil dari “Silsilah Al Muntaqo min Fatawa&lt;br /&gt;As Syaikh Al Allamah Muqbil bin Hadi AL Wadi’i”&lt;br /&gt;Judul Indonesia “Risalah Ramadan untuk Saudaraku&lt;br /&gt;Kumpulan 44 Fatwa Syaikh Muqbil bin Hadi”&lt;br /&gt;Penerbit Pustaka At Tsiqaat Press&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicopy dari: http://ghuroba.blogsome.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-4732481052002621074?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/4732481052002621074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=4732481052002621074' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/4732481052002621074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/4732481052002621074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-asy-syaikh-muqbil-bin-hadi-al.html' title='Biografi Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-3004419222226962875</id><published>2009-11-18T11:42:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:43:35.667+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz</title><content type='html'>Penulis: Al Ustadz Ahmad Hamdani Ibnu Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Bin Baz, menurut Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi’i, adalah seorang tokoh ahli fiqih yang diperhitungkan di jaman kiwari ini, sebagaimana Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani juga seorang ulama ahlul hadits yang handal masa kini. Untuk mengenal lebih dekat siapa beliau, mari kita simak penuturan beliau mengungkapkan data pribadinya berikut ini. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh mengatakan, “Nama lengkap saya adalah Abdul ‘Aziz Bin Abdillah Bin Muhammad Bin Abdillah Ali (keluarga) Baz. Saya dilahirkan di kota Riyadh pada bulan Dzulhijah 1330 H. Dulu ketika saya baru memulai belajar agama, saya masih bisa melihat dengan baik. Namun qodarullah pada tahun 1346 H, mata saya terkena infeksi yang membuat rabun. Kemudian lama-kelamaan karena tidak sembuh-sembuh mata saya tidak dapat melihat sama sekali. Musibah ini terjadi pada tahun 1350 Hijriyah. Pada saat itulah saya menjadi seorang tuna netra. Saya ucapkan alhamdulillah atas musibah yang menimpa diri saya ini. Saya memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan menganugerahkan bashirah (mata hati) kepada saya di dunia ini dan di akhirat serta balasan yang baik di akhirat seperti yang dijanjikan oleh-Nya melalui nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi Wasallam atas musibah ini. Saya juga memohon kepadanya keselamatan di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari ilmu telah saya tempuh semenjak masa anak-anak. Saya hafal Al Qur’anul Karim sebelum mencapai usia baligh. Hafalan itu diujikan di hadapan Syaikh Abdullah Bin Furaij. Setelah itu saya mempelajari ilmu-ilmu syariat dan bahasa Arab melalui bimbingan ulama-ulama kota kelahiran saya sendiri. Para guru yang sempat saya ambil ilmunya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syaikh Muhammad Bin Abdil Lathif Bin Abdirrahman Bin Hasan Bin Asy Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab, seorang hakim di kota Riyadh.&lt;br /&gt;2. Syaikh Hamid Bin Faris, seorang pejabat wakil urusan Baitul Mal, Riyadh.&lt;br /&gt;3. Syaikh Sa’d, Qadhi negeri Bukhara, seorang ulama Makkah. Saya menimba ilmu tauhid darinya pada tahun 1355 H.&lt;br /&gt;4. Samahatus Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Bin Abdul Lathief Alu Syaikh, saya bermuzalamah padanya untuk mempelajari banyak ilmu agama, antara lain: aqidah, fiqih, hadits, nahwu, faraidh (ilmu waris), tafsir, sirah, selama kurang lebih 10 tahun. Mulai 1347 sampai tahun 1357 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka dengan balasan yang mulia dan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami fiqih saya memakai thariqah (mahdzab -red) Ahmad Bin Hanbal [1] rahimahullah. Hal ini saya lakukan bukan semata-mata taklid kepada beliau, akan tetapi yang saya lakukan adalah mengikuti dasar-dasar pemahaman yang beliau tempuh. Adapun dalam menghadapi ikhtilaf ulama, saya memakai metodologi tarjih, kalau dapat ditarjih dengan mengambil dalil yang paling shahih. Demikian pula ketika saya mengeluarkan fatwa, khususnya bila saya temukan silang pendapat di antara para ulama baik yang mencocoki pendapat Imam Ahmad atau tidak. Karena AL HAQ itulah yang pantas diikuti. Allah berfirman (yang artinya -red), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah dia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (As Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (An Nisa:59)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUGAS-TUGAS SYAR’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Banyak jabatan yang diamanahkan kepada saya yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Saya pernah mendapat tugas sebagai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hakim dalam waktu yang panjang, sekitar 14 tahun. Tugas itu berawal dari bulan Jumadil Akhir tahun 1357 H.&lt;br /&gt;2. Pengajar Ma’had Ilmi Riyadh tahun 1372 H dan dosen ilmu fiqih, tauhid, dan hadits sampai pada tahun 1380 H.&lt;br /&gt;3. Wakil Rektor Universitas Islam Madinah pada tahun 1381-1390 H.&lt;br /&gt;4. Rektor Universitas Islam Madinah pada tahun 1390 H menggantikan rektor sebelumnya yang wafat yaitu Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Ali Syaikh. Jabatan ini saya pegang pada tahun 1389 sampai dengan 1395 H.&lt;br /&gt;5. Pada tanggal 13 bulan 10 tahun 1395 saya diangkat menjadi pimpinan umum yang berhubungan dengan penelitian ilmiah, fatwa-fawa, dakwah dan bimbingan keagamaan sampai sekarang. Saya terus memohon kepada Allah pertolongan dan bimbingan pada jalan kebenaran dalam menjalankan tugas-tugas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping jabatan-jabatan resmi yang sempat saya pegang sekarang, saya juga aktif di berbagai organisasi keIslaman lain seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anggota Kibarul Ulama di Makkah.&lt;br /&gt;2. Ketua Lajnah Daimah (Komite Tetap) terhadap penelitian dan fatwa dalam masalah keagamaan di dalam lembaga Kibarul Ulama tersebut.&lt;br /&gt;3. Anggota pimpinan Majelis Tinggi Rabithah ‘Alam Islami.&lt;br /&gt;4. Pimpinan Majelis Tinggi untuk masjid-masjid.&lt;br /&gt;5. Pimpinan kumpulan penelitian fiqih Islam di Makkah di bawah naungan organisasi Rabithah ‘Alam Islami.&lt;br /&gt;6. Anggota majelis tinggi di Jami’ah Islamiyah (universitas Islam -red), Madinah.&lt;br /&gt;7. Anggota lembaga tinggi untuk dakwah Islam yang berkedudukan di Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai karya tulis, saya telah menulis puluhan karya ilmiah antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al Faidhul Hilyah fi Mabahits Fardhiyah.&lt;br /&gt;2. At Tahqiq wal Idhah li Katsirin min Masailil Haj wal Umrah Wa Ziarah (Tauhdihul Manasik – ini yang terpenting dan bermanfaat – aku kumpulkan pada tahun 1363 H). Karyaku ini telah dicetak ulang berkali-kali dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa (termasuk bahasa Indonesia -pent).&lt;br /&gt;3. At Tahdzir minal Bida’ mencakup 4 pembahasan (Hukmul Ihtifal bil Maulid Nabi wa Lailatil Isra’ wa Mi’raj, wa Lailatun Nifshi minas Sya’ban wa Takdzibir Ru’yal Mar’umah min Khadim Al Hijr An Nabawiyah Al Musamma Asy Syaikh Ahmad).&lt;br /&gt;4. Risalah Mujazah fiz Zakat was Shiyam.&lt;br /&gt;5. Al Aqidah As Shahihah wama Yudhadhuha.&lt;br /&gt;6. Wujubul Amal bis Sunnatir Rasul Sholallahu ‘Alaihi Wasallam wa Kufru man Ankaraha.&lt;br /&gt;7. Ad Dakwah Ilallah wa Akhlaqud Da’iyah.&lt;br /&gt;8. Wujubu Tahkim Syar’illah wa Nabdzu ma Khalafahu.&lt;br /&gt;9. Hukmus Sufur wal Hijab wa Nikah As Sighar.&lt;br /&gt;10. Naqdul Qawiy fi Hukmit Tashwir.&lt;br /&gt;11. Al Jawabul Mufid fi Hukmit Tashwir.&lt;br /&gt;12. Asy Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab (Da’wah wa Siratuhu).&lt;br /&gt;13. Tsalatsu Rasail fis Shalah: Kaifa Sholatun Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, Wujubu Ada’is Shalah fil Jama’ah, Aina Yadha’ul Mushalli Yadaihi hinar Raf’i minar Ruku’.&lt;br /&gt;14. Hukmul Islam fi man Tha’ana fil Qur’an au fi Rasulillah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam.&lt;br /&gt;15. Hasyiyah Mufidah ‘Ala Fathil Bari – hanya sampai masalah haji.&lt;br /&gt;16. Risalatul Adilatin Naqliyah wa Hissiyah ‘ala Jaryanis Syamsi wa Sukunil ‘Ardhi wa Amakinis Su’udil Kawakib.&lt;br /&gt;17. Iqamatul Barahin ‘ala Hukmi man Istaghatsa bi Ghairillah au Shaddaqul Kawakib.&lt;br /&gt;18. Al Jihad fi Sabilillah.&lt;br /&gt;19. Fatawa Muta’aliq bi Ahkaml Haj wal Umrah wal Ziarah.&lt;br /&gt;20. Wujubu Luzumis Sunnah wal Hadzr minal Bid’ah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini perkataan beliau yang saya (Ustadz Ahmad Hamdani -red) kutip dari buku Fatwa wa Tanbihat wa Nashaih hal 8-13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKIDAH DAN MANHAJ DAKWAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akidah dan manhaj dakwah Syaikh ini tercermin dari tulisan atau karya-karyanya. Kita lihat misalnya buku Aqidah Shahihah yang menerangkan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, menegakkan tauhid dan membersihkan sekaligus memerangi kesyirikan dan pelakunya. Pembelaannya kepada sunnah dan kebenciannya terhadap kebid’ahan tertuang dalam karya beliau yang ringkas dan padat, berjudul At Tahdzir ‘alal Bida’ (sudah diterjemahkan -pent). Sedangkan perhatian (ihtimam) dan pembelaan beliau terhadap dakwah salafiyah tidak diragukan lagi. Beliaulah yang menfatwakan bahwa firqatun najiyah (golongan yang selamat -red) adalah para salafiyyin yang berpegang dengan kitabullah dan sunnah Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hal suluk (perilaku) dan akhlaq serta aqidah. Beliau tetap gigih memperjuangkan dakwah ini di tengah-tengah rongrongan syubhat para da’i penyeru ke pintu neraka di negerinya khususnya dan luar negeri beliau pada umumnya, hingga al haq nampak dan kebatilan dilumatkan. Agaknya ini adalah bukti kebenaran sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya), “Akan tetap ada pada umatku kelompok yang menampakkan kebenaran (al haq), tidak memudharatkan mereka orang yang mencela atau menyelisihinya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foot note:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Mahdzab secara istilah yakni mengikuti istilah-istilah Ahmad Bin Hanbal dalam mempelajari masalah fiqih atau hadits. Bukan Mahdzab syakhsyi yaitu mengambil semua hadits yang diriwayatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: SALAFY Edisi XXV/1418 H/1998 M hal 48-49&lt;br /&gt;Judul Asli: “Syaikh Bin Baz Mutjahid dan Ahli Fiqih Jaman Ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAFAT BELIAU (Keterangan tambahan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat pada hari Kamis, 27 Muharram 1420 H / 13 Mei 1999 M. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala merahmatinya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber keterangan tambahan: www.fatwaonline.com&lt;br /&gt;(dicopy dari www.ghuroba.blogsome.com, semoga Allah membalas kebaikan adminnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-3004419222226962875?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/3004419222226962875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=3004419222226962875' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/3004419222226962875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/3004419222226962875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-syaikh-abdul-aziz-bin-abdullah.html' title='Biografi Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-6740370132623011677</id><published>2009-11-18T11:41:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:42:17.586+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani</title><content type='html'>Beliau adalah Pembaharu Islam (mujadid) pada abad ini. Karya dan jasa-jasa beliau cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu Hadits. Beliau telah memurnikan Ajaran islam terutama dari hadits-hadits lemah dan palsu, meneliti derajat hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasab (Silsilah Beliau) &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H di kota Ashqodar ibu kota Albania yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu. Ayah al Albani yaitu Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari`at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul), yang ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhijrah ke Syam dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Beliau sekeluargapun menuju Damaskus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Beliau masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum`iyah al-Is`af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida`iyah. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya langsung kepada para Syeikh. Beliau mempelajari al-Qur`an dari ayahnya sampai selesai, disamping itu mempelajari pula sebagian fiqih madzab Hanafi dari ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga beliau menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umur 20 tahun, pemuda al-Albani ini mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahsan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul al-Mughni `an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar. Sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya` Ulumuddin al-Ghazali. Kegiatan Syeikh al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya seraya berkomentar. Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Syeikh al-Albani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah di sana (Damaskus). Di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus. Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau. Bahkan kemudiaan beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Penjara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh al-Albani pernah dipenjara dua kali. Kali pertama selama satu bulan dan kali kedua selama enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau berdakwah kepada sunnah dan memerangi bid`ah sehingga orang-orang yang dengki kepadanya menebarkan fitnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Tugas yang Pernah Diemban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar di Jami`ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H, mengajar tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam`iyah Islamiyah di sana. Mandapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Karya Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul. Beberapa Contoh Karya Beliau yang terkenal adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah&lt;br /&gt;2. Al-Ajwibah an-Nafi`ah `ala as`ilah masjid al-Jami`ah&lt;br /&gt;3. Silisilah al-Ahadits ash Shahihah&lt;br /&gt;4. Silisilah al-Ahadits adh-Dha`ifah wal maudhu`ah&lt;br /&gt;5. At-Tawasul wa anwa`uhu&lt;br /&gt;6. Ahkam Al-Jana`iz wabida`uha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Syeikh al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku foto copyan, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun orang lain) semuanya diserahkan ke perpustakaan Jami`ah tersebut dalam kaitannya dengan dakwah menuju al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj salafush Shalih (sahabat nabi radhiyallahu anhum), pada saat beliau menjadi pengajar disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat pada hari Jum`at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Rahimallah asy-Syaikh al-Albani rahmatan wasi`ah wa jazahullahu`an al-Islam wal muslimiina khaira wa adkhalahu fi an-Na`im al-Muqim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://ahlulhadist.wordpress.com//?p=11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-6740370132623011677?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/6740370132623011677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=6740370132623011677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/6740370132623011677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/6740370132623011677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-syaikh-muhammad-nashiruddin-al.html' title='Biografi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-1010484904745690322</id><published>2009-11-18T11:40:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:41:07.991+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Syaikh Shalih Al Fauzan</title><content type='html'>Beliau adalah yang mulia Syaikh Dr. Shalih ibn Fauzan ibn Abdullah dari keluarga Fauzan dari suku Ash Shamasiyyah.Beliau lahir pada tahun 1354 H/1933 M. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih muda, jadi beliau dididik oleh keluarganya. Beliau belajar al Quran, dasar-dasar membaca dan menulis dengan imam masjid di kotanya, yaitu yang mulia Syaikh Hamud ibn Sulaiman at Tala’al, yang kemudian menjadi hakim di Kota Dariyyah (bukan dar’iyyah di Riyadh) di sebuah wilayah Qhosim. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Fauzan kemudian belajar di sekolah negara bagian ketika baru dibuka di Ash Shamasiyyah pada tahun 1369 H/1948 M. Beliau menyelesaikan studinya di sekolah Faisaliyyah di Buraidah pada tahun 1371 H/1950 M. Kemudian, beliau ditugaskan sebagai guru sekolah taman kanak-kanak. Selanjutnya, beliau masuk di institute pendidikan di Buraidah ketika baru dibuka pada tahun 1373 H/1952 M, dan lulus dari sana tahun 1377 H/1956 M. Beliau kemudian masuk di Fakultas Syari’ah (Universitas Imam Muhammad) di Riyadh dan lulus pada tahun 1381 H/1960 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, beliau memperoleh gelar master di bidang fiqih, dan meraih gelar doctor dari fakultas yg sama, juga spesialis dalam bidang fiqih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kelulusannya dari Fakultas Syari’ah, beliau ditugaskan sebagai dosen di institut pendidikan di Riyadh, kemudian beralih menjadi pengajar di Fakultas Syari’ah. Selanjutnya, beliau ditugasi mengajar di departemen yang lebih tinggi, yaitu Fakultas Ushuluddin. Kemudian beliau ditugasi untuk mengajar di mahkamah agung kehakiman, di mana beliau ditetapkan sebagai ketua. Beliau lalu kembali mengajar di sana setelah periode kepemimpinannya berakhir. Beliau kemudian menjadi anggota Komite Tetap untuk Penelitian dan Fatwa Islam (Kibaril Ulama), sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh adalah anggota ulama kibar, dan anggota komite bidang fiqih di Mekkah (cabang Rabithah), dan anggota komite untuk pengawas tamu haji, sembari juga mengetuai keanggotaan pada Komite Tetap untuk Penelitian dan Fatwa Islam. Beliau juga imam, khatib, dan dosen di Masjid Pangeran Mut’ib ibn Abdul Aziz di al Malzar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga ikut serta dalam surat-menyurat untuk pertanyaan di program radio “Noorun ‘alad-Darb”, sambil beliau juga ikut serta dalam mendukung anggota penerbitan penelitian Islam di dewan untuk penelitian, studi, tesis, dan fatwa Islam yang kemudian disusun dan diterbitkan. Yang mulia syaikh Fauzan juga ikut serta dalam mengawasi peserta tesis dalam meraih gelar master dan gelar doctor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mempunyai murid-murid yang sering menimba ilmu pada pertemuan dan pelajaran tetapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau sendiri termasuk bilangan para ulama terkemuka dan ahli hukum, yang mayoritas para tokohnya antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh ‘Abdul-’Azeez ibn Baaz (rahima-hullaah);&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah ibn Humayd (rahima-hullaah);&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh Muhammad al-Amin ash-Shanqiti (rahima-hullaah);&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi (rahima-hullaah);&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh Saalih Ibn ‘Abdur-Rahmaan as-Sukayti;&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh Saalih Ibn Ibraaheem al-Bulaihi;&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh Muhammad Ibn Subayyal;&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh ‘Abdullaah Ibn Saalih al-Khulayfi;&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh Ibraaheem Ibn ‘Ubayd al-’Abd al-Muhsin;&lt;br /&gt;Yang mulia Syaikh Saalih al-’Ali an-Naasir;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga pernah belajar pada sejumlah ulama-ulama dari Universitas al Azhar Mesir yang mumpuni dalam bidang hadist, tafsir, dan bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mempunyai peran dalam menyeru atau berdakwah kepada Allah dan mengajar, memberikan fatwa, khutbah, dan membantah kebatilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku beliau yang diterbitkan banyak sekali, namun yang disebutkan berikut hanya sedikit antara lain Syarah al Aqidatul Waasitiyya, al Irshadul Ilas Sahihil I’tiqad, al Mulakhkhas al Fiqih, makanan-makanan dan putusan-putusan berkenaan dengan sembelihan dan buruan, yang mana ini merupakan bagian gelar doktornya. Juga kitab at Tahqiqat al Mardiyyah yang merupakan bagian gelar master beliau. Lebih lanjut judul-judul yang masuk putusan-putusan berhubungan dengan kepercayaan wanita, dan sebuah bantahan terhadap buku Yusuf Qaradhawi berjudul al Halal wal Haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dicopy dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-shalih-ibn-fauzan-ibn-abdullah-ibn-fauzan/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-1010484904745690322?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/1010484904745690322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=1010484904745690322' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/1010484904745690322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/1010484904745690322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-syaikh-shalih-al-fauzan.html' title='Biografi Syaikh Shalih Al Fauzan'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-411349274000358134</id><published>2009-11-18T11:38:00.001+07:00</published><updated>2009-11-18T11:40:13.618+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin</title><content type='html'>Oleh: Al Ustadz Ahmad Hamdani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasab (Silsilah Beliau)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bernama Abdillah Muhammad Bin Shalih Bin Muhammad Bin Utsaimin Al-Wahib At-Tamimi. Dilahirkan di kota Unaizah tanggal 27 Ramadhan 1347 Hijriyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau belajar membaca Al-Qur’an kepada kakeknya dari ibunya yaitu Abdurrahman Bin Sulaiman Ali Damigh Rahimahullah, hingga beliau hafal. Sesudah itu beliau mulai mencari ilmu dan belajar khat (ilmu tulis menulis), ilmu hitung dan beberapa bidang ilmu sastra. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah menugaskan kepada 2 orang muridnya untuk mengajar murid-muridnya yang kecil. Dua murid tersebut adalah Syaikh Ali Ash-Shalihin dan Syaikh Muhammad Bin Abdil Aziz Al-Muthawwi’ Rahimahullah. Kepada yang terakhir ini beliau (syaikh Utsaimin) mempelajari kitab Mukhtasar Al Aqidah Al Wasithiyah dan Minhaju Salikin fil Fiqh karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dan Al- Ajurrumiyah serta Alfiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, beliau belajar ilmu faraidh (waris) dan fiqh kepada Syaikh Abdurrahman Bin Ali Bin ‘Audan. Sedangkan kepada syaikh (guru) utama beliau yang pertama yaitu Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di, beliau sempat mengkaji masalah tauhid, tafsir, hadits, fiqh, ustsul fiqh, faraidh, musthalahul hadits, nahwu dan sharaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belia mempunyai kedudukan penting di sisinya Syaikhnya Rahimahullah. Ketika ayah beliau pindah ke Riyadh, di usia pertumbuhan beliau, beliau ingin ikut bersama ayahnya. Oleh karena itu Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengirim surat kepada beliau: “Hal ini tidak mungkin, kami menginginkan Muhammad tetap tinggal di sini agar dapat bisa mengambil faidah (ilmu).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau (Syaikh Utsaimin) berkata, “Sesungguhnya aku merasa terkesan dengan beliau (Syaikh Abdurrahman Rahimahullah) dalam banyak cara beliau mengajar, menjelaskan ilmu, dan pendekatan kepada para pelajar dengan contoh-contoh serta makna-makna. Demikian pula aku terkesan dengan akhlak beliau yang agung dan utama sesuai dengan kadar ilmu dan ibadahnya. Beliau senang bercanda dengan anak-anak kecil dan bersikap ramah kepada orang-orang besar. Beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya yang pernah aku lihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau belajar kepada Syaikh Abdul Aziz Bin Baaz -sebagai syaikh utama kedua bagi beliau- kitab Shahih Bukhari dan sebagian risalah-risalah Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah serta beberapa kitab-kitab fiqh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata, “Aku terkesan terhadap syaikh Abdul Aziz Bin Baz Hafidhahullah karena perhatian beliau terhadap hadits dansaya juga terkesan dengan akhlak beliau karena sikap terbuka beliau dengan manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1371 H, beliau duduk untuk mengajar di masjid Jami’. Ketika dibukanya ma’had-ma’had al ilmiyyah di Riyadh, beliau mendaftarkan diri di sana pada tahun 1372 H. Berkata Syaikh Utsaimin Hafidhahullah, “Saya masuk di lembaga pendidikan tersebut untuk tahun kedua seterlah berkonsultasi dengan Syaikh Ali Ash-Shalihin dan sesudah meminta ijin kepada Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah. Ketika itu ma’had al ilmiyyah dibagi menjadi 2 bagian, umum dan khusus. Saya berada pada bidang yang khusus. Pada waktu itu bagi mereka yang ingin “meloncat” – demikian kata mereka- ia dapat mempelajari tingkat berikutnya pada masa libur dan kemudian diujikan pada awal tahun ajaran kedua. Maka jika ia lulus, ia dapat naik ke pelajaran tingkat lebih tinggi setelah itu. Dengan cara ini saya dapat meringkas waktu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah 2 tahun, beliau lulus dan diangkat menjadi guru di ma’had Unaizah Al ‘Ilmi sambil meneruskan studi beliau secara intishab (Semacam Universitas Terbuka -red) pada fakultas syari’ah serta terus menuntut ilmu dengan bimbingan Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’di wafat, beliau menggantikan sebagai imam masjid jami’ di Unaizah dan mengajar di perpustakaan nasional Unaizah disamping tetap mengajar di ma’had Al Ilmi. Kemudian beliau pindah mengajar di fakultas syari’ah dan ushuludin cabang universitas Al Imam Muhammad Bin Su’ud Al Islamiyah di Qasim. Beliau juga termasuk anggota Haiatul Kibarul Ulama di Kerajaan Arab Saudi. Syaikh Hafidhahullah mempunyai banyak kegiatan dakwah kepada Allah serta memberikan pengarahan kepada para Da’i di setiap tempat. Jasa beliau sangat besar dalam masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui pula bahwa Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Rahimahullah telah menawarkan bahkan meminta berulang kali kepada syaikh Utsaimin untuk menduduki jabatan Qadhi (hakim), bahkan telah mengeluarkan surat pengangkatan sebagai ketua pengadilan agama di Al Ihsa, namun beliau menolak secara halus. Setelah dilakukan pendekatan pribadi, Syaikh Muhammad Bin Ibrahim pun mengabulkannya untuk menarik dirinya (Syaikh Utsaimin -red) dari jabatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yag telah ditulis oleh Syaikh Utsaimin diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Talkhis Al Hamawiyah, selesai pada tanggal 8 Dzulhijah 1380 H.&lt;br /&gt;2. Tafsir Ayat Al Ahkam (belum selesai).&lt;br /&gt;3. Syarh Umdatul Ahkam (belum selesai).&lt;br /&gt;4. Musthalah Hadits.&lt;br /&gt;5. Al Ushul min Ilmil Ushul.&lt;br /&gt;6. Risalah fil Wudhu wal Ghusl wash Shalah.&lt;br /&gt;7. Risalah fil Kufri Tarikis Shalah.&lt;br /&gt;8. Majalisu Ar Ramadhan.&lt;br /&gt;9. Al Udhiyah wa Az Zakah.&lt;br /&gt;10. Al Manhaj li Muridil Hajj wal Umrah.&lt;br /&gt;11. Tashil Al Faraidh.&lt;br /&gt;12. Syarh Lum’atul I’tiqad.&lt;br /&gt;13. Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah.&lt;br /&gt;14. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.&lt;br /&gt;15. Al Qowaidul Mustla fi Siftillah wa Asma’ihil Husna.&lt;br /&gt;16. Risalah fi Annath Thalaq Ats Tsalats Wahidah Walau Bikalimatin (belum dicetak).&lt;br /&gt;17. Takhrij Ahadits Ar Raudh Al Murbi’ (belum dicetak).&lt;br /&gt;18. Risalah Al Hijab.&lt;br /&gt;19. Risalah fi Ash Shalah wa Ath Thaharah li Ahlil A’dzar.&lt;br /&gt;20. Risalah fi Mawaqit Ash Shalah.&lt;br /&gt;21. Risalah fi Sujud As Sahwi&lt;br /&gt;22. Risalah fi Aqsamil Mudayanah.&lt;br /&gt;23. Risalah fi Wujubi Zakatil Huliyyi.&lt;br /&gt;24. Risalah fi Ahkamil Mayyit wa Ghuslihi (belum dicetak).&lt;br /&gt;25. Tafsir Ayatil Kursi.&lt;br /&gt;26. Nailul Arab min Qawaid Ibnu Rajab (belum dicetak).&lt;br /&gt;27. Ushul wa Qowa’id Nudhima ‘Alal Bahr Ar Rajaz (belum dicetak).&lt;br /&gt;28. Ad Diya’ Allami’ Minal Hithab Al Jawami’.&lt;br /&gt;29. Al Fatawaa An Nisaa’iyyah&lt;br /&gt;30. Zad Ad Da’iyah ilallah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;31. Fatawa Al Hajj.&lt;br /&gt;32. Al Majmu Al Kabir Min Al Fatawa.&lt;br /&gt;33. Huquq Da’at Ilaihal Fithrah wa Qarraratha Asy Syar’iyah.&lt;br /&gt;34. Al Khilaf Bainal Ulama, Asbabuhu wa Muaqifuna Minhu.&lt;br /&gt;35. Min Musykilat Asy Sayabab.&lt;br /&gt;36. Risalah fil Al Mash ‘alal Khuffain.&lt;br /&gt;37. Risalah fi Qashri Ash Shalah lil Mubtaisin.&lt;br /&gt;38. Ushul At Tafsir.&lt;br /&gt;39. Risalah Fi Ad Dima’ Ath Tabiiyah.&lt;br /&gt;40. As’illah Muhimmah.&lt;br /&gt;41. Al Ibtida’ fi Kamali Asy Syar’i wa Khtharil Ibtida’.&lt;br /&gt;42. Izalat As Sitar ‘Anil Jawab Al Mukhtar li Hidayatil Muhtar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak karya-karya beliau hafidahullah ta’ala yang lain. Wallahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: SALAFY Edisi XIII/Sya’ban-Ramadhan/1417/1997&lt;br /&gt;Judul Asli: “Tokoh Ahlus Sunnah dari Unaizah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafat Beliau (keterangan tambahan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang beliau telah meninggal dunia. Beliau meninggal pada hari Rabu 15 Syawal 1421 Hijriyah bertepatan dengan 10 Januari 2001 dalam usia yang ke 74. Semoga Allah merahmati beliau dan memberikan balasan yang setimpal kepada beliau atas jasa-jasa beliau kepada Islam dan Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber keterangan tambahan dinukil dari catatan kaki kitab Syarah Tsalasatil Ushul&lt;br /&gt;edisi Indonesia “Penjelasan 3 Landasan Pokok yang Wajib Diketahui Setiap Muslim”&lt;br /&gt;Penerbit Maktabah Al Ghuroba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicopy dari: http://ghuroba.blogsome.com/2007/06/17/syaikh-muhammad-bin-shalih-al-utsaimin/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-411349274000358134?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/411349274000358134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=411349274000358134' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/411349274000358134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/411349274000358134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-syaikh-muhammad-bin-shalih-al.html' title='Biografi Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-2293673649571672646</id><published>2009-11-18T11:37:00.001+07:00</published><updated>2009-11-18T11:37:59.569+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhali</title><content type='html'>Penulis: Syaikh Khalid bin Dlahwi Adz-Dzufairi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama dan nasab beliau:&lt;br /&gt;Beliau adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi bin Muhammad ‘Umair Al-Madkhali, berasal dari suku Al-Madakhilah yang terkenal di Jaazaan, sebuah daerah di sebelah selatan Kerajaan Arab Saudi. Suku ini termasuk keluarga Bani Syubail, sedangkan Syubail adalah anak keturunan Yasyjub bin Qahthan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran beliau:&lt;br /&gt;Syaikh Rabi’ dilahirkan di desa Al-Jaradiyah, sebuah desa kecil di sebelah barat kota Shamithah sejauh kurang lebih tiga kilometer dan sekarang telah terhubungkan dengan kota tersebut. Beliau dilahirkan pada akhir tahun 1351 H. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih berumur sekitar satu setengah tahun, beliau tumbuh berkembang di pangkuan sang ibu -semoga Allah Ta’ala merahmatinya. Sang ibu membimbing dan mendidik beliau dengan sebaik-baiknya, mengajarkan kepada beliau akhlak yang terpuji, berupa kejujuran maupun sifat amanah, juga memotivasi putranya untuk menunaikan shalat dan meminta beliau menepati penunaian ibadah tersebut. Selain pengasuhan ibunya, beliau diawasi dan dibimbing pula oleh pamannya (dari pihak ayah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Keilmuan&lt;br /&gt;Ketika Syaikh Rabi’ berusia delapan tahun, beliau masuk sekolah yang ada di desanya. Di sekolah tersebut beliau belajar membaca dan menulis. Termasuk guru yang membimbing beliau dalam belajar menulis adalah Asy-Syaikh Syaiban Al-‘Uraisyi, Al-Qadli Ahmad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali dan dari seseorang yang bernama Muhammad bin Husain Makki yang berasal dari kota Shibya’. Syaikh Rabi’ mempelajari Al Qur`an di bawah bimbingan Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali disamping belajar ilmu tauhid dan tajwid.&lt;br /&gt;Setelah lulus, beliau melanjutkan studi ke Madrasah As-Salafiyyah di kota Shamithah. Termasuk guru beliau di madrasah tersebut adalah Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Faqih Nashir Khalufah Thayyasy Mubaraki rahimahullah, seorang alim kenamaan yang termasuk salah satu murid besar Asy-Syaikh Al-Qar’awi rahimahullah. Di bawah bimbingannya, Syaikh Rabi’ mempelajari kitab Bulughul Maram dan Nuzhatun Nadhar karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah Ta’ala.&lt;br /&gt;Kemudian beliau belajar di Ma’had Al-‘Ilmi di Shamithah kepada sejumlah ulama terkemuka, yang paling terkenal adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Masyhur Hafidh bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah Ta’ala dan saudaranya Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Hakami, juga kepada Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidhahullah. Di ma’had tersebut beliau belajar akidah kepada Asy-Syaikh Al-’Allamah Doktor Muhammad Amman bin ‘Ali Al-Jami. Demikian pula kepada Asy-Syaikh Al-Faqih Muhammad Shaghir Khamisi, beliau mempelajari ilmu fikih dengan kitab Zaadul Mustaqni’ dan kepada beberapa orang lagi selain mereka, di mana Syaikh mempelajari ilmu bahasa Arab, adab, ilmu Balaghah dan ilmu ‘Arudl (cabang-cabang ilmu bahasa Arab-pent.)&lt;br /&gt;Tahun 1380 H seusai ujian penentuan akhir, beliau lulus dari Ma’had Al-‘Ilmi di kota Shamithah dan di awal tahun 1381 H beliau masuk ke Fakultas Syari’ah di Riyadl selama beberapa waktu lamanya, sekitar satu bulan, satu setengah atau dua bulan saja. Ketika Universitas Islam Madinah berdiri, beliau pindah ke sana dan bergabung di Fakultas Syari’ah. Beliau belajar di Universitas tersebut selama empat tahun dan lulus darinya pada tahun 1384 H dengan predikat cumlaude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara guru-guru beliau di Universitas Islam Madinah adalah:&lt;br /&gt;• Mufti besar Kerajaan Arab Saudi, Samahatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah Ta’ala, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari Aqidah Thahawiyah.&lt;br /&gt;• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani, mempelajari bidang ilmu hadits dan sanad.&lt;br /&gt;• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, mempelajari ilmu fikih tiga tahun lamanya dengan kitab Bidayatul Mujtahid.&lt;br /&gt;• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Al-Hafidh Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Ushuli An-Nahwi wal Lughawi Al-Faqih Al-Bari’ Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, penulis tafsir Adlwaul Bayan, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari ilmu tafsir dan ushul fikih selama empat tahun.&lt;br /&gt;• Asy-Syaikh Shalih Al-‘Iraqi, belajar akidah.&lt;br /&gt;• Asy-Syaikh Al-Muhaddits ‘Abdul Ghafar Hasan Al-Hindi, belajar ilmu hadits dan mushthalah.&lt;br /&gt;Setelah lulus, beliau menjadi dosen di almamater beliau di Universitas Islam Madinah selama beberapa waktu, kemudian beliau melanjutkan studi ke tingkat pasca sarjana dan berhasil meraih gelar master di bidang ilmu hadits dari Universitas Al-Malik ‘Abdul ‘Aziz cabang Mekkah pada tahun 1397 H dengan disertasi beliau yang terkenal, berjudul Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni. Pada tahun 1400 H beliau berhasil menyelesaikan program doktornya di Universitas yang sama, dengan predikat cum laude setelah beliau menyelesaikan tahqiq (penelitian, komentar –pent.) atas kitab An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala.&lt;br /&gt;Syaikh Rabi’ kemudian kembali ke Universitas Islam Madinah dan menjadi dosen di Fakultas Hadits. Beliau mengajar ilmu hadits dengan segala bentuk dan cabangnya, serta berkali-kali menjadi ketua jurusan Qismus Sunnah pada program pasca sarjana dan sekarang beliau menjabat sebagai dosen tinggi. Semoga Allah menganugerahkan kepada beliau kenikmatan berupa kesehatan dan penjagaan dalam beramal kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat dan akhlak beliau&lt;br /&gt;Syaikh Rabi’ hafidzahullah Ta’ala memiliki keistimewaan berupa sifat sangat rendah hati dihadapan saudara-saudaranya, murid-muridnya maupun kepada para tamunya. Beliau seorang yang sangat sederhana dalam hal tempat tinggal, pakaian maupun kendaraan, beliau tidak menyukai kemewahan dalam semua urusan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah seorang yang selalu ceria, berseri-seri wajahnya dan sangat ramah, membuat teman duduk beliau tidak merasa bosan dengan kata-kata beliau. Majelis beliau senantiasa dipenuhi dengan pembacaan hadits dan Sunnah serta tahdzir (peringatan-pent.) dari kebid’ahan dan para pelakunya, sehingga orang yang belum mengenal beliau akan menyangka bahwa tidak ada lagi kesibukan beliau selain hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Rabi’ sangat mencintai salafiyyin penuntut ilmu, beliau menghormati dan memuliakan mereka. Beliau berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sesuai kemampuan beliau, baik dengan diri sendiri maupun dengan harta. Rumah beliau selalu terbuka untuk para penuntut ilmu, sampai-sampai hampir tidak pernah beliau menyantap sarapan pagi makan siang maupun makan malam sendirian, karena selalu saja ada pelajar yang mengunjungi beliau. Beliau menanyakan keadaan mereka dan membantu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Rabi’ termasuk ulama yang sangat bersemangat menyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta akidah salaf, penuh semangat dalam mendakwahkannya dan beliau adalah pedang Sunnah dan akidah salaf yang amat tajam, yang amat sedikit bandingannya di masa sekarang. Beliau adalah pembela Sunnah dan kehormatan salafus salih di jaman kita ini, siang dan malam, secara rahasia maupun terang-terangan yang tidak terpengaruh oleh celaan orang-orang yang suka mencela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya beliau&lt;br /&gt;Syaikh Rabi’ memiliki sejumlah karya tulis -Alhamdulillah – beliau hafidzahullah telah membicarakan berbagai bab yang sangat dibutuhkan secara proporsional, terlebih khusus lagi dalam membantah para pelaku bid’ah dan para pengikut hawa nafsu di jaman yang penuh dengan para perusak namun sedikit orang yang berbuat ishlah (perbaikan, pent.) Diantara karya beliau :&lt;br /&gt;1. Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni, sejilid besar dan ini merupakan thesis beliau untuk meraih gelar master.&lt;br /&gt;2. An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, telah dicetak dalam dua juz dan ini merupakan disertasi program doktoral beliau.&lt;br /&gt;3. Tahqiq Kitab Al- Madkhal ila Ash-Shahih lil Hakim, juz pertama telah dicetak.&lt;br /&gt;4. Tahqiq Kitab At-Tawasul wal Wasilah lil Imam Ibni Taimiyyah, dalam satu jilid.&lt;br /&gt;5. Manhajul Anbiya` fid Da’wah ilallah fihil Hikmah wal ‘Aql.&lt;br /&gt;6. Manhaj Ahlis Sunnah fii Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif.&lt;br /&gt;7. Taqsimul Hadits ila Shahih wa Hasan wa Dla’if baina Waqi’il Muhadditsin wa Mughalithatil Muta’ashibin, sebuah bantahan terhadap ‘Abdul Fatah Abu Ghuddah dan Muhammad ‘Awamah.&lt;br /&gt;8. Kasyfu Mauqifi Al-Ghazali minas Sunnah wa Ahliha.&lt;br /&gt;9. Shaddu ‘Udwanil Mulhidin wa hukmul Isti’anah bi ghairil Muslimin.&lt;br /&gt;10. Makanatu Ahlil Hadits.&lt;br /&gt;11. Manhajul Imam Muslim fii Tartibi Shahihihi.&lt;br /&gt;12. Ahlul Hadits Hum Ath-Thaifah Al-Manshurah An-Najiyah hiwar ma’a Salman Al-‘Audah&lt;br /&gt;13. Mudzakarah fil Hadits An-Nabawi.&lt;br /&gt;14. Adlwa` Islamiyyah ‘ala ‘Aqidah Sayyid Quthb wa Fikrihi.&lt;br /&gt;15. Matha’inu Sayyid Quthb fii Ashhabi Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;16. Al-‘Awashim mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim.&lt;br /&gt;17. Al-Haddul Fashil bainal Haq wal Bathil hiwar ma’a Bakr Abi Zaid.&lt;br /&gt;18. Mujazafaatul Hiddaad.&lt;br /&gt;19. Al-Mahajjatul Baidla` fii Himaayatis Sunnah Al-Gharra`.&lt;br /&gt;20. Jamaa’ah Waahidah Laa Jamaa’aat wa Shiraathun Wahidun Laa ‘Asyaraat, hiwar ma’a ‘Abdirrahman ‘Abdil Khaliq.&lt;br /&gt;21. An-Nashrul Aziiz ‘ala Ar-Raddil Wajiiz.&lt;br /&gt;22. At-Ta’ashshub Adz-Dzamim wa Aatsaruhu, yang dikumpulkan oleh Salim Al-‘Ajmi.&lt;br /&gt;23. Bayaanul Fasaadil Mi’yar, Hiwar ma’a Hizbi Mustatir.&lt;br /&gt;24. At-Tankiil bimaa fii Taudhihil Milyibaari minal Abaathiil.&lt;br /&gt;25. Dahdlu Abaathiil Musa Ad-Duwaisy.&lt;br /&gt;26. Izhaaqu Abaathiil ‘Abdil Lathif Basymiil.&lt;br /&gt;27. Inqidladlusy Syihb As-Salafiyyah ‘ala Aukaar ‘Adnan Al-Khalafiyyah.&lt;br /&gt;28. An-Nashihah Hiyal Mas`uliyyah Al-Musytarakah fil ‘Amal Ad-Da’wi, diterbitkan di majalah At-Tau’iyyah Al-Islamiyyah&lt;br /&gt;29. Al-Kitab was Sunnah Atsaruhuma wa makaanatuhuma wadl Dlarurah ilaihima fii Iqaamatit Ta’liimi fii Madaarisinaa, artikel majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyyah, edisi 16.&lt;br /&gt;30. Hukmul Islam fii man Sabba Rasulallah au Tha’ana fii Syumuli Risaalatihi, artikel koran Al-Qabas Al-Kuwaitiyyah edisi 8576 tahun 9/5/1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Rabi’ memiliki karya tulis lain di luar apa yang telah disebutkan di sini. Kita memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan-Nya untuk menyempurnakan usaha-usaha kebaikan yang beliau lakukan dan semoga Allah memberikan taufik kepada beliau kepada perkara-perkara yang dicintai dan diridlai-Nya, Dia-lah penolong semua itu dan maha mampu atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dinukil dari Mauqi’ Asy-Syaikh Rabi’ hafidzahullah dengan sedikit perubahan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari terjemah buku karya Syaikh Abu ‘Abdillah Khalid bin Dlahwi Adz-Dzufairi, edisi Bahasa Indonesia Mengenal Lebih Dekat Asy Syaikh Rabi’ Bin Haadi al Madkhali, Sosok Ulama Pembela Sunnah Nabi. Diterjemahkan Ummu Affan, penerbit Media Ahlus Sunnah, Purwokerto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=1005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-2293673649571672646?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/2293673649571672646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=2293673649571672646' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/2293673649571672646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/2293673649571672646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-syaikh-rabi-bin-hadi-umair-al.html' title='Biografi Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhali'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-4802088819364844186</id><published>2009-11-18T11:34:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:35:23.660+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Syaikh Ahmad Syakir</title><content type='html'>Beliau adalah Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir bin Muhammad bin Ahmad bin Abdil Qadir. Beliau lahir di Kairo Mesir pada tanggal 29 Jumadil Akhir 1309 (sekitar akhir abad ke-19), pada hari Jum’at ketika fajar menyingsing. Beliau masih keturunan shahabat Rasulullah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ahmad Syakir mulai menjadi seorang penuntut ilmu sejak usianya belumlah mencapai sepuluh tahun. Ayah beliaulah yang menjadi guru utama beliau. Beliau belajar berbagai cabang ilmu. Ketika ayahnya yang sebelumnya adalah kepala hakim di Sudan pindah ke kota Iskandariyah, Asy-Syaikh Ahmad Syakir juga turut serta. Beliau pun kemudian tumbuh terbimbing di lingkungan ulama. Di antara ulama tersebut adalah Asy-Syaikh Abdussalam Al-Faqi, dimana beliau belajar syair dan sastra Arab dari beliau. Waktu itu usia beliau belumlah sampai 20 tahun, akan tetapi beliau telah bersemangat untuk mempelajari ilmu hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ayahnya diangkat menjadi wakil rektor Universitas Al-Azhar, Asy-Syaikh Ahmad Syakir juga ikut belajar di Universitas tersebut. Di sana beliau belajar dari beberapa orang ulama, di antaranya: Asy-Syaikh Ahmad Asy-Syinqithi, Asy-Syaikh Syakir Al-Iraqi dan Asy-Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kesaksian Asy-Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi -salah seorang sahabat beliau-, Asy-Syaikh Ahmad Syakir memiliki kesabaran yang begitu tinggi. Hapalannya pun kuat tidak tertandingi. Beliau juga memiliki kemampuan tinggi dalam memahami hadits dan bagus mengungkapkannya dengan akal dan nash. Beliau juga dalam pandangan ilmunya serta tidak taqlid kepada seorang pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ahmad Syakir telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia Islam. Beliau telah memberikan ta’liq dan tahqiq (komentar serta pembahasan yang teliti) kepada banyak karya ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara karya beliau adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Syarh Musnad Imam Ahmad (belum selesai sampai beliau wafat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tahqiq terhadap Al-Ihkam karya Ibnu Hazm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tahqiq terhadap Alfiyatul Hadits karya As-Suyuthi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Takhrij terhadap Tafsir At-Thabari bersama saudara beliau Mahmud Syakir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tahqiq terhadap kitab Al-Kharaj karya Yahya bin Adam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tahqiq terhadap kitab Ar-Raudathun Nadhiyah karya Shiddiq Hasan Khan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Syarh Sunan At-Tirmidzi (belum selesai sampai beliau wafat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tahqiq Syarh Aqidah Thahawiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Umdatut Tafsir ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (belum selesai sampai beliau wafat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ta’liq dan Tahqiq terhadap Al-Muhalla karya Ibnu Hazm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Ahmad Syakir wafat pada hari Sabtu tanggal 26 Dzulqa’dah 1377 H atau bertepatan dengan tanggal 9 Juni 1958. Karya-karya beliau senantiasa menjadi rujukan para ulama. Termasuk ahli hadits di masa kita ini, yaitu Asy-Syaikh Albani rahimahullah.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan Ustadz Ahmad Hamdani di Majalah Salafy edisi XXIII) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-4802088819364844186?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/4802088819364844186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=4802088819364844186' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/4802088819364844186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/4802088819364844186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-syaikh-ahmad-syakir.html' title='Biografi Syaikh Ahmad Syakir'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-119763560292863500</id><published>2009-11-18T11:32:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:33:29.670+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri</title><content type='html'>Penulis: Abu Umar Urwah Al-Bankawy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara sekaligus. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Apabila tidak tersisa lagi orang yang berilmu, maka manusia mengangkat pemimpin yang bodoh, mereka ditanyai dan berfatwa tanpa didasari ilmu, mereka sesat lagi menyesatkan.” &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta India Dan Allah pun telah mewafatkan salah seorang ulama Islam dari Negeri India, yaitu Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri pada hari Jum’at tanggal 1 Desember 2006, ba’da shalat Jum’at di kota Mubarakfur India. Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri adalah salah seorang ulama dari Jami’ah As-Salafiyah di Kota Benares India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa rujukan tentang berita wafatnya beliau:&lt;br /&gt;From Abu ‘Abdillaah Waseem Ahmad ibn ‘Abdurraheem Alhindee (posted in http://www.salafitalk.net):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash Shaykh Safeeurrahmaan Mubarakpuree rahimahullaah the author of the Seerah of Rasulullaah sallallaahu ‘alaihi wa sallaam Ar-Raheeq Al Makhtoum passed away an hour ago in India. Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilayhi Raajioon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From Zulfiker Ibrahim, student at the Islaamic University of Madeenah (posted in http://www.assalafi.com/):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Today after Salaatul-Asr I received a phone call from Jamia Salafia – Banaras, India, informing me that the Shaykh, al-’Allaamah Safiur-Rahmaan Mubarakpuri passed away today in Mubarakpur, India, after Salaatul-Jumu’ah – Indian time roughly 2.00-2.30 pm. The Shaykh was known as one of the Major Salafee Scholars of India and his defence for the Sunnah and warning against Ahlul-Bid’ah. The Shaykh has a number of beneficial works in print, his most famous book being “ar-Raheeq al-Makhtoom” (The Sealed Necter) and the summary of the Tafseer of Ibn Katheer as published by Darussalam Publishers in Riyadh where he was a resident Scholar authenticating works prior to ther publication.” We ask you all to remember the Shaykh in your prayers and we ask Allaah (’Azza wa Jall) to cleanse the Shaykh of his sins and reward him with al-Firdaws, aameen”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Beliau&lt;br /&gt;Beliau telah mewariskan banyak karya bagi kaum muslimin, di antaranya:&lt;br /&gt;- Ar-Rahiqul Makhtum, Sirah Nabawiyah yang menjadi Juara I Lomba Penulisan Sirah Nabawy yang diselenggarakan oleh Rabithah Alam Al-Islami. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.&lt;br /&gt;- Raudhah Al-Anwar fi Sirah An-Nabiy Al-Mukhtar Shallallahu ‘alaihi wasallam, Sirah Nabawiyah yang lebih ringkas daripada yang pertama.&lt;br /&gt;- Syarh Bulughil Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Beliau mensyarahnya dengan syarah yang ringkas.&lt;br /&gt;Ini adalah karya beliau yang saya dapati judul aslinya dalam bahasa Arab. Adapun yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh Darussalam Publisher (tanpa ada keterangan judul aslinya dalam bahasa Arab):&lt;br /&gt;- When the moon splite&lt;br /&gt;- The History of Makkah Mukarramah&lt;br /&gt;- The History of Madinah Munawwarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa postingan di forum-forum Islam, diketahui pula bahwa beliau juga memiliki ringkasan terhadap Tafsir Ibnu Katsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian Ulama&lt;br /&gt;Berkata Abu Yusuf Al-Libyani (diposting di sahab.net)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أما الشيخ صفي الرحمن المباركفوري فهو من مشائخ السنة وأثنى عليه العلامة المحدث المجدد الشيخ الألباني رحمه الله حيث قال أنا أزكي من أهل العلم الآن الشيخ الفاضل عبد العزيز بن باز في الرياض والشيخ صفي الرحمن المباركفوري في الهند.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأنصح لمن أراد قراءة كتاب الرحيق المختوم أن يقرأ النسخة المنقحة منه التي حذف منها مؤلفها أخطاء وقعت منه في الأصل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri beliau termasuk dari syaikh-syaikh sunnah dan Al-’Allamah Al-Muhaddits Al-Mujaddid Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah memuji beliau dengan mengatakan:”Aku mentazkiyah para ulama di masa sekarang yaitu: Asy-Syaikh Al-Fadhil Abdul Aziz bin Baaz di Riyadh dan Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri di India”&lt;br /&gt;Dan aku nasehatkan bagi orang yang ingin membaca Kitab Rahiqul Makhtum untuk membaca edisi revisi dimana penulisnya telah menghapus beberapa kesalahan dari edisi aslinya. (Sampai di sini ucapan Abu Yusuf).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Update:&lt;br /&gt;Ustadz kami Abu Abdillah juga mengatakan bahwa ketika beliau belajar di Dammaj Yaman, Asy-Syaikh Abdurrahman Al-Adni kerap memuji Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri. Asy-Syaikh Abdurrahman mengatakan bahwa Syaikh Shafiurrahman adalah seorang sunni salafy. Dan dalam mengajarkan Bulughul Maram, salah satu kitab yang dipakai oleh Syaikh Abdurrahman sebagai rujukan adalah Syarh Bulughil Maram yang ditulis oleh Syaikh Shafiurrahman rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni serta mencurahkan rahmat-Nya kepada diri Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun untuk blog http://ulamasunnah.wordpress.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-119763560292863500?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/119763560292863500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=119763560292863500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/119763560292863500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/119763560292863500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-asy-syaikh-shafiurrahman-al.html' title='Biografi Asy-Syaikh Shafiurrahman Al-Mubarakfuri'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-667060362494398489</id><published>2009-11-18T11:29:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:30:22.133+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Imam Al-Ajurri</title><content type='html'>Oleh: Al Ustadz Muhammad Ali Ishmah Al Medani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Al Husein bin Abdillah Al Baghdadi Al Ajurri. Kunyah beliau Abu Bakr. Beliau berasal dari sebuah desa di bagian barat kota Baghdad yang bernama Darbal Ajur. Beliau lahir dan tumbuh di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Guru Beliau &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Imam Al Ajurri menimba ilmu dari segolongan ulama terkenal, di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Imam Ibrahim bin Abdillah bin Muslim bin Ma’iz Abul Muslim Al Bashri Al Kajji. Beliau adalah Al Hafidh (orang yang banyak menghafal hadits lengkap dengan pengertian dan sanadnya), Al Mu’ammar, Shahibus Sunan (penulis kitab sunan). Imam ini adalah guru terbesar Imam Al Ajurri. Syaikh Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 190 H dan wafat tahun 292 H di Baghdad. Jenazah beliau kemudian dipindah ke Bashrah dan dimakamkan di sana.&lt;br /&gt;2. Imam Abul Abbas Ahmad bin Sahl bin Al Faizuran Al Usynani. Beliau adalah Syaikhul Qurra’ (pemimpin pembaca Al-Qur’an) di Baghdad. Beliau wafat pada tahun 307 H.&lt;br /&gt;3. Imam Abu Abdillah Ahmad bin Al Hasan bin Abdil Jabbar bin Rasyid Al Baghdadi. Beliau bergelar Al Muhadits (ahli hadits) Ats Tsiqatul Mu’ammar. Beliau dilahirkan di Hudud tahun 210 H dan wafat tahun 306 H.&lt;br /&gt;4. Imam Abu Bakr Ja’far bin Muhammad bin Al Hasan bin Al Mustafadl Al Firyani. Beliau adalah Al Hafidh Ats Tsabt (tepat dan jeli dalam penyampaian riwayat) dan Syaikh di masanya. Beliau lahir pada tahun 207 H dan wafat pada tahun 301 H.&lt;br /&gt;5. Imam Abu Bakr Al Qasim bin Zakaria bin Yahya Al Baghdadi. Beliau adalah Al ‘Allamah (’alim/pandai), Al Muqri’ (ahli ilmu qira’ah), Al Muhadits, Ats Tsiqah (yang terpercaya). Beliau terkenal dengan gelar Al Muthariz (penyulam). Beliau lahir di Hudud tahun 220 H dan wafat tahun 305 H.&lt;br /&gt;6. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Yahya bin Ishaq Al Bajali Al Hulwani. Beliau adalah Al Muhadits, Ats Tsiqah, Az Zahid (yang zuhud). Beliau tinggal di Baghdad dan wafat tahun 296 H.&lt;br /&gt;7. Imam Abul Abbas Ahmad bin Zanjuwiyah bin Musa Al Qathan. Beliau adalah Al Muhadits, Al Mutqin (yang mantap), dianggap tsiqah dan terkenal. Beliau wafat tahun 304 H.&lt;br /&gt;8. Imam Abul Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdil Aziz bin Al Marzuban. Beliau adalah Al Hafidh, Al Hujjatul Mu’ammar, dan Al Musnid (penulis kitab musnad) di masanya. Berasal dari Bagha’ dan lahir pada tahun 214 H dan bertempat tinggal di Baghdad serta wafat tahun 317 H. Beliau dikebumikan pada hari Iedul Fithri.&lt;br /&gt;9. Imam Abu Syu’aib Abdullah bin Al Hasan bin Ahmad bin Abu Syu’aib Al Harrani. Beliau adalah Al Muhadits, Al Mu’ammar, Al Mu’dab. Lahir tahun 206 H dan wafat tahun 295 H.&lt;br /&gt;10. Imam Abu Muhammad Khalaf bin ‘Amr Al ‘Ukbari. Beliau adalah Al Muhadits, Ats Tsiqatul Jalil (yang mulia dan dapat dipercaya). Beliau lahir tahun 206 H dan wafat tahun 296 H.&lt;br /&gt;11. Al Imam Abu Bakr Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’ats As Sijistani. Beliau adalah Al ‘Allamah, Al Hafidh, dan Syaikh di Baghdad. Beliau termasuk lautan ilmu. Sebagian orang ada yang menganggap bahwa beliau lebih utama daripada ayahnya. Beliau menulis Sunan, Mushaf, Syari’atul Qari’, Nasikh Mansukh, Al Ba’ts, dan lain-lain. Beliau lahir di Sijistan tahun 230 H dan wafat tahun 316 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-Murid Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara murid-murid beliau yang terkenal adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Imam Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Ahmad Al Mihrani Al Ashbahani. Beliau adalah Al Hafidh, Ats Tsiqah, Al ‘Allamah. Beliau adalah cucu Az Zahid Muhammad bin Yusuf Al Banna’. Beliau adalah penulis kitab Al Hilyah dan banyak karya lainnya. Beliau lahir tahun 336 H dan wafat tahun 425 H.&lt;br /&gt;2. Imam Abul Qasim Abdul Malik Muhammad bin Abdillah bin Bisyran. Beliau adalah Al Muhaddits, Al Musnid, Ats Tsiqah, Ats Tsabt, Ash Shalih (orang yang shalih), Pemberi Nasihat, dan Musnid Irak. Beliau lahir tahun 339 H dan wafat tahun 430 H.&lt;br /&gt;3. Imam Abul Husein Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran. Beliau adalah Asy Syaikh, Al ‘Alim, Al Mu’adil, Al Musnid. Al Khatib berkata tentang beliau : “Dia sempurna muru’ah (kewibawaan)-nya, kokoh menjalankan agama, shaduq (sangat jujur), dan tsabit.” Beliau lahir tahun 328 H dan wafat tahun 415 H.&lt;br /&gt;4. Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Umar At Tajibi Al Mishri Al Maliki Al Bazzaz. Beliau adalah Asy Syaikh, Al Fakih, Al Muhadits, Ash Shaduq, dan Musnid Mesir. Beliau terkenal dengan gelar Ibnu Nahhas. Beliau lahir tahun 323 H dan wafat tahun 416 H.&lt;br /&gt;5. Imam Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Umar bin Hafsh Al Hamami Al Baghdadi. Beliau adalah Al Muhadits dan Muqri’ Irak. Al Khatib mengatakan bahwa beliau sangat jujur, taat beragama, terhormat, sulit dicari tandingannya dalam sanad-sanad qira’ah dan memiliki ketinggian sanad di masanya. Lahir 328 H dan wafat 417 H.&lt;br /&gt;6. Al Imam Abu Bakr bin Abu Ali Ahmad bin Abdurrahman Al Hamadani Adz Dzakwan Al Ashbahani. Beliau adalah Al ‘Alim, Al Hafidh, dan termasuk Rijal Ats Tsiqah. Abu Nu’aim mengatakan tentang beliau : “Dia mempersaksikan dan menyampaikan hadits selama 60 tahun, akhlaknya baik dan kokoh madzhabnya. Beliau lahir tahun 333 H dan wafat tahun 419 H.&lt;br /&gt;7. Syaikh Abul Husein Muhammad bin Al Husein bin Muhammad bin Al Fadl Al Baghdadi Al Qahthani. Beliau adalah Al ‘Alim, Ats Tsiqat, Al Musnid (orang yang menjadi rujukan sanad hadits). Beliau lahir tahun 335 H dan wafat tahun 415 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keilmuan Beliau Dan Komentar Para Ulama Tentangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ibnu Nadim berkata : “Dia faqih, shalih, dan ahli ibadah.”&lt;br /&gt;2. Al Khatib berkata : “Dia tsiqah, shaduq (sangat jujur), taat beragama, dan memiliki banyak karya.”&lt;br /&gt;3. Ibnu Jalkan berkata : “Dia faqih, bermadzhab Syafi’i, muhadits, penulis kitab Arba’in dan terkenal dengannya, shalih dan ahli ibadah.”&lt;br /&gt;4. Yaqut berkata : “Dia faqih bermadzhab Syafi’i, tsiqah, dan menulis banyak karya.”&lt;br /&gt;5. Ibnul Jauzi dalam kitab As Shawatus Shafwah mengatakan : “Dia tsiqah, taat beragama, alim, dan banyak menulis karya.”&lt;br /&gt;6. Ibnu Subki dalam Thabaqat-nya mengatakan : “Dia faqih, muhadits, pemilik beberapa karangan.”&lt;br /&gt;7. Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’ berkata : “Dia seorang imam, muhadits, panutan, Syaikh di Al Haram, shaduq, ‘abid (ahli ibadah), shahibus sunan, dan ahli ittiba’ (pengikut sunnah).”&lt;br /&gt;8. Suyuthi mengatakan : “Dia ‘alim dan mengamalkan ilmu ahli sunnah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ucapan para ulama di atas diketahui bahwa beliau termasuk ulama yang beramal dengan ilmunya, seorang faqih yang ahli hadits, serta penjaga Kitabullah. Para ulama tersebut juga sepakat bahwa beliau termasuk orang yang tsiqat dan berpegang teguh dengan sunnah. Beliau juga seorang pengarang yang meninggalkan pengaruh yang jelas dalam perbendaharaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-Karya Beliau&lt;br /&gt;Imam Al Ajurri mewariskan beberapa karya di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Telah Dicetak :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Akhlaq Ahlil Qur’an&lt;br /&gt;2. Akhlaqul Ulama&lt;br /&gt;3. Akhbar Umar bin Abdil Aziz&lt;br /&gt;4. Al Arba’in Haditsan&lt;br /&gt;5. Al Ghuraba’&lt;br /&gt;6. Tahrimun Nard was Satranji wal Malahi&lt;br /&gt;7. Asy Syari’ah&lt;br /&gt;8. At Tashdiq bin Nadhar Ilallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Masih Berupa Manuskrip (Tulisan Tangan) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adabun Nufus&lt;br /&gt;2. Ats Tsamainin fil Hadits&lt;br /&gt;3. Juz’un min Hikayat As Syafi’i wa Ghairihi&lt;br /&gt;4. Fardlu Thalabil Ilmi&lt;br /&gt;5. Al Fawaid Al Muntakhabah&lt;br /&gt;6. Wushulul Masyaqin wa Nuzhatul Mustami’in&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Hilang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ahkamun Nisa’&lt;br /&gt;2. Akhlaq Ahli Bir wat Tuqa&lt;br /&gt;3. Aushafus Sab’ah&lt;br /&gt;4. Taghyirul Azminah&lt;br /&gt;5. At Tafarud wal ‘Uzlah&lt;br /&gt;6. At Tahajud&lt;br /&gt;7. At Taubah&lt;br /&gt;8. Husnul Khuluq&lt;br /&gt;9. Ar Ru’yah&lt;br /&gt;10. Ruju’ Ibni Abbas ‘anis Sharf&lt;br /&gt;11. Risalah ila Ahlil Baghdad&lt;br /&gt;12. Syarah Qasidah As Sijistani&lt;br /&gt;13. As Syubuhat&lt;br /&gt;14. Qishatul Hajaril Aswad wa Zam-Zam wa Ba’du Sya’niha&lt;br /&gt;15. Qiyamul Lail wa Fadllu Qiyamir Ramadlan&lt;br /&gt;16. Fadllul Ilmi&lt;br /&gt;17. Mukhtasharul Fiqh&lt;br /&gt;18. Mas’alatut Tha’ifin&lt;br /&gt;19. An Nasihah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafat Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian para ulama mengatakan bahwa ketika beliau masuk ke kota Mekkah yang beliau kagumi, beliau berdo’a : “Ya Allah, berilah rezki kepadaku dengan tinggal di sana selama setahun.” Lalu beliau mendengar bisikan : “Bahkan 30 tahun !” Akhirnya beliau tinggal selama 30 tahun dan wafat di sana tahun 320 H. demikian keterangan Ibnu Khalqan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Khatib berkata : “Aku membaca cerita itu di lantai kubur beliau di Mekkah.” Ibnul Jauzi berkata bahwa Abu Suhail Mahmud bin Umar Al Akbari berkata bahwa ketika Abu Bakr sampai di Mekkah dia merasa kagum dengannya dan berdo’a : “Ya Allah, hidupkan aku di negeri ini walau hanya setahun.” Tiba-tiba ia mendengar bisikan : “Hai Abu Bakr, kenapa hanya setahun ? Tiga puluh tahun !” Ketika menginjak tahun ketiga puluh, beliau mendengar bisikan lagi : “Wahai Abu Bakr, sudah kami tunaikan janji itu.” Kemudian wafatlah beliau di tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madzhab Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bermadzhab Syafi’i menurut sebagian ulama. Namun ulama lain seperti Al Isnawi mengatakan bahwa sebagian orang membantah ke-Syafi’i-an beliau dan mengatakan bahwa beliau bermadzhab Hanbali. Al Isnawi mengatakan hal itu setelah dia mengatakan bahwa Imam Al Ajurri pengikut madzhab Syafi’i. Demikian pula keterangan Abu Ya’la dalam kitab beliau Tabaqat Al Hanabilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber-Sumber Biografi Beliau&lt;br /&gt;Riwayat hidup beliau yang penuh barakah ditulis dalam beberapa kitab para ulama. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al Fahrasat. Ibnu Nadim halaman 268.&lt;br /&gt;2. Tarikh Baghdad. Al Khatib 2/243.&lt;br /&gt;3. Tabaqatul Hanabilah. Ibnu Abi Ya’la halaman 332.&lt;br /&gt;4. Al Ansab. As Sam’ani 1/94.&lt;br /&gt;5. Fahrasah Ibni Khairil Isybaili. Halaman 285-286.&lt;br /&gt;6. Wafiyatul A’yan. Ibnu Khukan 4/292.&lt;br /&gt;7. Mu’jamul Buldan. Yaqut Al Hamawi 1/51.&lt;br /&gt;8. Siyar A’lamin Nubala’. Adz Dzahabi 16/133.&lt;br /&gt;9. Thabaqatus Syafi’iyah. Al Isnawi 1/50.&lt;br /&gt;10. Al ‘Aqduts Tsamin. Al Fasi 2/4.&lt;br /&gt;11. Thabaqatul Hufadh. As Suyuthi halaman 378.&lt;br /&gt;12. Syajaratudz Dzahab. Ibnul ‘Imad 3/35.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’ :&lt;br /&gt;Al Ghuraba’ minal Mukminin. Al Ajurri, tahqiq Ramadlan Ayyub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicopy dari: http://ghuroba.blogsome.com/2007/04/14/imam-al-ajurri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-667060362494398489?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/667060362494398489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=667060362494398489' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/667060362494398489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/667060362494398489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-imam-al-ajurri.html' title='Biografi Imam Al-Ajurri'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-55681306721804510</id><published>2009-11-18T11:26:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:27:50.435+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Al-Imam Ibnu Abi Hatim</title><content type='html'>Oleh: Ibrahim bin Abdullah Al Hazhimi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah seorang Hafidz, kritikus, muhadits, ahli tafsir, Al ‘Allamah Abdurrahman Bin Muhammad Bin Idris Bin Mudzir Bin Daud Bin Mahran (Abu Muhammad) Bin Abi Hatim Al Hanzholi Ar Rozi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran, Perkembangan dan Menuntut Ilmu&lt;br /&gt;Beliau dilahirkan tahun 240 Hijriyah. Beliau mengatakan, “Ayahku tidak meninggalkanku dengan hadits sampai aku bisa membaca Al Qur’an dengan belajar kepada Al Fadhl Bin Syadzan”. Setelah itu belia langsung belajar kepada ayahnya Imam Abu Hatim Ar Rozi dan Imam Abu Zur’ah serta selain keduanya yang termasuk muhaddits negeri Ray. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berkata tentang dirinya , “Aku pernah rihlah bersama ayahku di tahun 255 Hijriyah. Sebelumnya aku belum pernah ‘mimpi’. Ketika sampai di Dzul Hulaifah, aku ‘bermimpi’, maka ayahku gembira karena aku telah mendapatkan hujjah Islam. (Baligh -red)”. Beliau berkata lagi, “Kami berada di Mesir 7 bulan, tidak pernah makan kuah. Siangnya kami mengunjungi para syaikh. Malamnya kami mencatat dan berdiskusi. Pada suatu hari aku dan temanku mendatangi seorang Syaikh. Di perjalanan aku melihat ikan. Ikan itu membuat aku kagum. Maka kami beli. Ketika sampai di rumah, tiba waktu kami mengunjungi majelis sebahagian Syaikh. Maka kami berangkat meninggalkan ikan tesebut demikian sampai 3 hari. Ketika kami memakannya, beliau berkata: Ilmu tidak didapat dengan badan yang santai”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-guru Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kalangan orang-orang dulu adalah Abdullah Bin Sa’id Abu Sa’id Al Asyaj, Ali Bin Al Mundzir, Al Hasan Bin ’Armah, Ibnu Zanjuyah, Muslim Al Hajjaj penulis Shahih Muslim dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-Murid Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Husain Bin Ali At Tamimi Al Hafidz, Abu Syaikh Al Ashfahani, Abu Ahmad Al Hakim Kabir, Abdullah Bin Asad dan Ibnu Hibban Al Busthi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian Para Ulama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ya’la Al Khalili berkata, ”Dia telah mengambil ilmu dari ayahnya dan Abu Zur’ah. Beliau adalah seorang yang memiliki ilmu yang luas bagai lautan dalam hal rijal hadits…. Beliau adalah orang yang zuhud dan dianggap kokoh.” Maslamah Bin Qasim Al Andalusi berkata, ”Beliau adalah seorang yang tsiqah, memiliki kedudukan yang terhormat, seorang imam dari imam-imam negeri Khurasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz Dzahabi berkata dalam Tadzkirah, ”Beliau adalah seorang Imam, Al Hafidz, kritikus, Syaikhul Islam”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafat Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat di bulan Ramadhan tahun 327 Hijriyah. Semoga Allah merahmati belian dan memberikan kita rizki berupa ilmu beliau dan mengumpulkan kita di surga-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al Jarh Wa Ta’dhil, 9 jilid. Adz Dzahabi berkata tentangnya, ”Beliau dianggap kuat dalam hafalan.”&lt;br /&gt;2. At Tafsir, 4 jilid.&lt;br /&gt;3. ‘Ilaul Hadits.&lt;br /&gt;4. Al Musnad.&lt;br /&gt;5. Al Fawaidul Kabirah.&lt;br /&gt;6. Fawaidur Raziyin.&lt;br /&gt;7. Az Zuhd.&lt;br /&gt;8. Ar Radd Alal Jahmiyah.&lt;br /&gt;9. Tsawabul A’mal.&lt;br /&gt;10. Al Marasil.&lt;br /&gt;11. Al Kuna.&lt;br /&gt;12. Sirah Asy Syafi’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang bisa saya kumpulkan tentang biografi beliau. Semoga Allah memberikan manfat melalui tulisan ini kepada para pembacanya dan penyebarnya agar diterima di semua tempat…. Dan semoga menjadi amalan yang ikhlas mengharap wajah-Nya yang mulia sebab hanya Allah yang mampu melakukannya. Sholawat dan salam semoga tercurah atas nabi kita Muhammad, keluarganya serta para shahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinukil dari “Aqidah Ibnu Abi Hatim”&lt;br /&gt;Sumber: Buletin Al Minhaj Edisi I tahun I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-55681306721804510?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/55681306721804510/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=55681306721804510' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/55681306721804510'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/55681306721804510'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-al-imam-ibnu-abi-hatim.html' title='Biografi Al-Imam Ibnu Abi Hatim'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-7756280108373339850</id><published>2009-11-18T11:23:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:24:35.395+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Imam Al-Bukhari: Bayi Ajaib Dari Bukhara</title><content type='html'>Oleh: Abu Afifah Al Atsary&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buta di masa kecilnya. Keliling dunia mencari ilmu. Menghafal ratusan ribu hadits. Karyanya menjadi rujukan utama setelah Al Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Bukhara pada bulan Syawal tahun 194 H. Dipanggil dengan Abu Abdillah. Nama lengkap beliau Muhammmad bin Ismail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi. Beliau digelari Al Imam Al Hafizh, dan lebih dikenal dengan sebutan Al Imam Al Bukhari. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buyut beliau, Al Mughirah, semula beragama Majusi (Zoroaster), kemudian masuk Islam lewat perantaraan gubernur Bukhara yang bernama Al Yaman Al Ju’fi. Sedang ayah beliau, Ismail bin Al Mughirah, seorang tokoh yang tekun dan ulet dalam menuntut ilmu, sempat mendengar ketenaran Al Imam Malik bin Anas dalam bidang keilmuan, pernah berjumpa dengan Hammad bin Zaid, dan pernah berjabatan tangan dengan Abdullah bin Al Mubarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kecil Al Imam Al Bukhari buta kedua matanya. Pada suatu malam ibu beliau bermimpi melihat Nabi Ibrahim Al Khalil ‘Alaihissalaam yang mengatakan, “Hai Fulanah (yang beliau maksud adalah ibu Al Imam Al Bukhari, pent), sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa”. Ternyata pada pagi harinya sang ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berusia sepuluh tahun, Al Imam Al Bukhari mulai menuntut ilmu, beliau melakukan pengembaraan ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam. Guru-guru beliau banyak sekali jumlahnya. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil, Al Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa, Abu Al Mughirah, ‘Abdan bin ‘Utsman, ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, Shadaqah bin Al Fadhl, Abdurrahman bin Hammad Asy-Syu’aisi, Muhammad bin ‘Ar’arah, Hajjaj bin Minhaal, Badal bin Al Muhabbir, ‘Abdullah bin Raja’, Khalid bin Makhlad, Thalq bin Ghannaam, Abdurrahman Al Muqri’, Khallad bin Yahya, Abdul ‘Azizi Al Uwaisi, Abu Al Yaman, ‘Ali bin Al Madini, Ishaq bin Rahawaih, Nu’aim bin Hammad, Al Imam Ahmad bin Hanbal, dan sederet imam dan ulama ahlul hadits lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Al Imam Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi, penyusun kitab Shahih Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Al Bukhari sangat terkenal kecerdasannya dan kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal seratus ribu hadits shahih, dan saya juga hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”. Pada kesempatan yang lain belau berkata, “Setiap hadits yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanad (rangkaian perawi-perawi)-nya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad bin Abu Hatim Al Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadits yang engkau masukkan ke dalam kitab yang engkau susun (maksudnya : kitab Shahih Bukhari -red)?” Beliau menjawab, ”Semua hadits yang saya masukkan ke dalam kitab yang saya susun itu sedikit pun tidak ada yang samar bagi saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anugerah Allah kepada Al Imam Al Bukhari berupa reputasi di bidang hadits telah mencapai puncaknya. Tidak mengherankan jika para ulama dan para imam yang sezaman dengannya memberikan pujian (rekomendasi) kepada beliau. Berikut ini adalah sederet pujian (rekomendasi) termaksud:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Abi Hatim berkata, “ Saya mendengar Abu Abdillah (Al Imam Al Bukhari) berkata, “Para sahabat ‘Amr bin ‘Ali Al Fallaas pernah meminta penjelasan kepada saya tentang status (kedudukan) sebuah hadits. Saya katakan kepada mereka, “Saya tidak mengetahui status (kedudukan) hadits tersebut”. Mereka jadi gembira dengan sebab mendengar ucapanku, dan mereka segera bergerak menuju ‘Amr. Lalu mereka menceriterakan peristiwa itu kepada ‘Amr. ‘Amr berkata kepada mereka, “Hadits yang status (kedudukannya) tidak diketahui oleh Muhammad bin Ismail bukanlah hadits”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Al Bukhari mempunyai karya besar di bidang hadits yaitu kitab beliau yang diberi judul Al Jami’ atau disebut juga Ash-Shahih atau Shahih Al Bukhari. Para ulama menilai bahwa kitab Shahih Al Bukhari ini merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab suci Al Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakwaan dan keshalihan Al Imam Al Bukhari merupakan sisi lain yang tak pantas dilupakan. Berikut ini diketengahkan beberapa pernyataan para ulama tentang ketakwaan dan keshalihan beliau agar dapat dijadikan teladan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar bin Munir berkata, “Saya mendengar Abu Abdillah Al Bukhari berkata, “Saya berharap bahwa ketika saya berjumpa Allah, saya tidak dihisab dalam keadaan menanggung dosa ghibah (menggunjing orang lain)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “Saya mendengar para ulama di Bashrah mengatakan, “Tidak pernah kami jumpai di dunia ini orang seperti Muhammad bin Ismail dalam hal ma’rifah (keilmuan) dan keshalihan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulaim berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri semenjak enam puluh tahun orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran Islam, leblih wara’ (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad bin Ismail.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Firabri berkata, “Saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di dalam tidur saya”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada saya, “Engkau hendak menuju ke mana?” Saya menjawab, “Hendak menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al Bukhari”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Sampaikan salamku kepadanya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Al Bukhari wafat pada malam Idul Fithri tahun 256 H. ketika beliau mencapai usia enam puluh dua tahun. Jenazah beliau dikuburkan di Khartank, nama sebuah desa di Samarkand. Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada Al Imam Al Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;Siyar A’laam An-Nubala’ karya Al Imam Adz-Dzahabi&lt;br /&gt;Hadyu As Saari Muqaddimah kitab Fathul Bari karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani&lt;br /&gt;Sumber: Majalah As Salam no VI/Tahun II – 2006 M/ 1427 H&lt;br /&gt;Judul asli: “Bayi Ajaib Dari Bukhara”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicopy dari: www.ghuroba.blogsome.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-7756280108373339850?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/7756280108373339850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=7756280108373339850' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/7756280108373339850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/7756280108373339850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-imam-al-bukhari-bayi-ajaib.html' title='Biografi Imam Al-Bukhari: Bayi Ajaib Dari Bukhara'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-608013352886790602</id><published>2009-11-18T11:21:00.000+07:00</published><updated>2009-11-18T11:22:56.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama Sunnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Biografi Al-Imam Malik Bin Anas</title><content type='html'>Oleh: Abu Afiifah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu kala tepatnya tahun 93 H di kota Madinah lahir seorang anak yang di kemudian hari dikenal dengan sebutan Imam Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunyah beliau Abu Abdillah, dan nama lengkap beliau Malik bin Anas bin Malik bin Abu ‘Amir bin ‘Amr bin Al Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin ‘Amr bin Al Harits Al Himyari Al Ashbahi Al Madani. Beliau diberi gelar Syaikhul Islam, Hujjatul Ummah, Mufti Al Haramain (Mufti dua tanah suci) dan Imam Daarul Hijrah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama wafat shahabat Nabi Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, pelayan Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah beliau, Anas adalah seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in. Ibu beliau bernama ‘Aliyah bintu Syariik Al Adziyyah. Paman-paman beliau bernama Abu Suhail Nafi’, Uwais, Ar Rabi’, An Nadhar, semuanya putra Abu ‘Amr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik tumbuh dalam suasana yang penuh pengawasan dan perhatian kedua orang tuanya, serba berkecukupan, dan beliau memiliki ketabahan hati yang luar biasa. Beliau berperawakan tinggi besar, berambut putih (beruban) dan berjenggot putih lebat. Beliau berwajah tampan dan kulit beliau putih bersih dengan mata jernih kebiru-biruan. Beliau suka sekali memakai baju putih dan beliau selali memakai pakaian yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia belasan tahun Al Imam Malik mulai menuntut ilmu. Ketika berumur 21 tahun beliau mulai mengajar dan berfatwa. Beliau berguru pada ulama terkenal di antaranya Nafi’, Sa’id Al Maqburi, Amir bin Abdullah bin Zubair, Ibnu Al Mukandir, Az Zuhri, Abdullah bin Dinaar, dan sederet ulama-ulama besar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-murid Al Imam Malik banyak sekali. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Ishaq bin Abadullah bin Abu Thalhah, Ayyub bin Abu Tamimah As Sakhtiyani, Ayyub bin Habiib Al Juhani, Ibrahim bin ‘Uqbah, Isma’il bin Abi Hakim, Ismail Ibnu Muhammad bin Sa’ad, dan Al Imam Asy Syafi’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat-sahabat Al Imam Malik diantaranya adalah Ma’mar, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, ‘Amr bin Al Harits, Al Auza’i, Syu’bah, Ats Tsauri, Juwairiyyah bin Asma’, Al Laits, Hammad bin Zaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Malik mempunyai karya yang besar di bidang hadits, yaitu kitab Al Muwattha, karya beliau lainnya adalah Risalah fi Al Qadar, Risalah fi Al Aqdhiyyah, dan satu juz tentang tafsir. Di samping karya-karya beliau lainnya yang tidak disebutkan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian-pujian yang datang dari para ulama kepada Al Imam Malik membuktikan tingginya reputasi beliau dalam bidang keilmuan, tidak kurang dari murid beliau, Al Imam Asy Syafi’i yang mengatakan, “Ilmu itu berputar-putar di sekitar tiga orang, Malik, Laits, dan Ibnu ‘Uyainah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Ahmad bin Hanbal menuturkan bahwa Imam Malik ditinjau dari sisi ilmu lebih utama dari Al Auza’i, Ats Tsauri, Al Laits, Hammad, dan Al Hakam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qaththan berkata, “Beliau (Al Imam Malik) adalah imam yang patut dijadikan panutan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Malik adalah seorang tokoh yang gigih menyebarkan dan mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Pendapat-pendapat beliau tentang Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tercermin dari ucapan-ucapan beliau diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Beliau berkata, “Iman itu ucapan dan perbuatan (maksudnya: iman itu keyakinan di dalam hati yang disertai dengan ucapan lisan dan perbuatan anggota badan, pent), bisa bertambah dan berkurang dan sebagiannya lebih utama dari sebagian yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Beliau berkata, “Al Qur’an itu KALAMULLAH (firman Allah). Kalamullah itu berasal dari Allah Subhanahu Wata’ala. Dan apa yang berasal dari Allah Subhanahu Wata’ala itu sekali-kali bukan makhluk”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Beliau berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa Al Qur’an itu makhluk, maka dia harus dicambuk dan dipenjara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Beliau berpendapat bahwa orang-orang yang beriman akan dapat melihat Allah Subhanahu Wata’ala pada hari kiamat dengan mata kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan akhlak yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu Al Imam Malik mengatakan, “Hendaknya seorang penuntut ilmu itu memiliki sifat teguh hati (tabah), tenang pembawaannya (berwibawa), dan Khasyyah (takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau sendiri dikenal sebagai orang yang sangat takwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, berwibawa, dan sangat disegani sebagaimana dikatakan Mushab bin Abdullah dalam syairnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Beliau tidak menjawab pertanyaan&lt;br /&gt;pertanyaan tidak diajukan lagi&lt;br /&gt;karena orang segan&lt;br /&gt;itu disebabkan kewibawaan dan&lt;br /&gt;cahaya ketakwaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau disegani orang kendati bukan penguasa. Al Imam Malik wafat pada tahun 179 H. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Baqi’. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Imam Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber bacaan:&lt;br /&gt;Kitab Siyar A’lam An Nubalaa&lt;br /&gt;Karya Al Imam Adz Dzahabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah As Salam&lt;br /&gt;No. V/Tahun II-2006 M/1427 H&lt;br /&gt;Halaman 53-54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dicopy dari: http://ghuroba.blogsome.com/2007/11/08/al-imam-malik-bin-anas/)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8037271248884054259-608013352886790602?l=nurkasmadewi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/feeds/608013352886790602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8037271248884054259&amp;postID=608013352886790602' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/608013352886790602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8037271248884054259/posts/default/608013352886790602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nurkasmadewi.blogspot.com/2009/11/biografi-al-imam-malik-bin-anas.html' title='Biografi Al-Imam Malik Bin Anas'/><author><name>Ummu Zaki</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09055811554010535650</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOLbQM4RSzg/SvuvI9iCQlI/AAAAAAAAAOA/VKEr-JgEqtY/S220/mawar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8037271248884054259.post-2049619953587228655</id><published>2009-11-18T11:17:00.000+07
